Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Terpaksa Mempercantik Diri


__ADS_3

Setelah pertengkaran mereka di pinggir jalan, Kayden langsung membawa Gwen dengan paksa ke cafe yang jaraknya tak terlalu jauh dari jangkauan mereka. Wanita itu tak henti-hentinya mengomel sambil mengernyit karena suaminya tak menuruti permintaannya.


“Sepertinya aku membencimu, Kay!” kata Gwen sambil menarik kursi dengan kasar, kemudian ia duduk dan memberikan tatapan tajam pada Kayden yang duduk di depannya, tetapi dibatasi oleh meja kaca bundar diantara mereka.


Kayden yang mendengar jelas dan melihat sepasang manik cokelat kehitaman yang telah mengintimidasinya, ia menyeringai tipis sebelum berkata, “Itu tak akan lama, Gwen. Ku pastikan itu!”


Gwen tersenyum miring, meremehkan perkataan Kayden. “Kita lihat saja nanti,” jedanya. “Dasar pria otoriter!”


Kayden kembali menyeringai, mengabaikan makian istrinya dan lebih memilih memanggil pelayan untuk memesan dua cangkir espresso kental.


Tak ada obrolon sepatah katapun diantara mereka sejak pelayan cafe berpamitan untuk membuatkan pesanan mereka. Bahkan Gwen sendiri terus saja membuang muka ke arah luar jendela, melihat orang-orang yang berlalu lalang di pinggir jalan kota yang memiliki julukan The Smoke itu. Sedang Kayden sendiri, dengan sorot manik hitamnya ia mengamati gerak-gerik Gwen yang masih mengernyit sambil bersedekap dan mengetuk-ngetuk ujung sepatunya.


“Maaf jika aku membuatmu kesal,” ujar Kayden sungguh-sungguh, membuka pembicaraan terlebih dahulu.


“Kau sering membuatku kesal!” seru Gwen yang mengalihkan pandangannya ke arah Kayden. “Kau selalu memaksaku mengikuti keinginanmu. Jangan harap aku bisa menyukaimu dengan sikap burukmu itu!”


“Aku punya alasan mengapa aku terus memaksamu, Gwen,” kata Kayden datar sambil menyesap espressonya, setelah sebelumnya beberapa detik yang lalu seorang pelayan mengantarkan pesanannya. “Dan tentu saja, setelah kau membenciku, seiringnya waktu kau akan menyukaiku kemudian mencintaiku. Aku yakin itu. Perhitunganku tak pernah salah, bukan?”


Gwen tersenyum sinis, lalu ia berkata, “Jangan terlalu percaya diri.”


“Aku selalu percaya diri dalam segala hal.”


“Dan terlalu otoriter.” Gwen menambahkan ketika Kayden mengamatinya dengan senyum tipis yang sungguh menjengkelkan. “Mengapa kau selalu memaksaku?”


“Bukankah sudah pernah ku katakan padamu, bahwa aku akan menghapus masa lalumu dan menggantinya dengan masa depan, tentunya denganku.” Lantas, Kayden menghela napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Berdebat dengan istrinya sungguh membuatnya lelah. “Aku harus membuatmu tetap terjaga bagaimanapun caranya.”


“Termasuk memaksaku meminum espresso ini?”


“Tentu saja,” jawab Kayden santai tanpa rasa bersalah.


“Simpan saja espresso sialan itu, Kay!” sahut Gwen tak sabaran. “Carikan saja bantal untukku dan aku akan tertidur sekarang juga dengan kepala di meja ini.”

__ADS_1


Kayden seketika terkekeh. “Malam ini kita akan menghadiri pertemuan penting, ku ingatkan jika kau lupa,” tegasnya. “Minum kopimu, Gwen.”


“Oh … ayolah … kau mulai lagi!” Gwen sudah mulai frustrasi. “Seharusnya kau bisa menghentikan itu,” tukasnya. “Memerintahku seolah aku boneka.”


Mata Kayden menyipit, manik hitamnya berkilau saat mengamati wanita itu sejenak. “Apakah kau masih bekerja untukku?” tanyanya penasaran.


“Maksudmu bekerja adalah apakah aku masih pegawai di perusahaanmu?”


Kayden mengangguk.


“Aku dijadwalkan kembali ke kantor dua belas hari lagi pada hari senin oleh Mr. David.”


“Jika begitu, berhentilah melawan bosmu!” perintah Kayden. “Dan abaikan jadwalmu yang diberikan David.”


“Aku kan sedang liburan,” Gwen mengingatkannya.


Kayden menyeringai, kemudian berkata, “Kau kan, sedang berbulan madu,” dia mengoreksi dengan agak menggoda. Pria itu menyaksikan Gwen memucat mendengar ucapannya.


Kayden tersenyum menyeringai sebab melihat tingkah istrinya yang menurutnya, lucu. “Dan memang itu kebenarannya. Kita sedang liburan untuk berbulan madu.”


“Tapi—”


“Sudahlah!” sahut Kayden memotong kalimat Gwen. Pria itu lantas menghembuskan napas jengkel. Tetapi Gwen mendapat kesan kejengkelan tadi ditunjukkan kepada diri sendiri, bukan dirinya.


“Ayo, kita pergi dari sini dan kembali ke hotel,” kata Kayden muram.


***


Seharusnya melegakan bisa kembali ke kamar hotel yang begitu nyaman. Namun sayangnya, bukan itu yang terjadi. Kayden malah membuat Gwen menonton berita di TV bersamanya. Dan setiap kali matanya mulai memejam, Kayden langsung membukanya dengan beberapa komentar yang membutuhkan konsentrasi untuk jawaban.


“Astaga … Kayden!” seru Gwen kemudian menghembuskan napas jengkel. “Apa seumur hidupmu kau tak pernah santai?”

__ADS_1


“Tidak!” Kayden menjawabnya datar dan singkat.


Gwen mengerutkan keningnya sambil berkata, “Kau terlalu sibuk bekerja.”


“Memang,” sahut Kayden yang pandangan matanya masih menonton TV tapi pikirannya masih berkecamuk.


Gwen mendengus kesal. “Oke. Apakah sekarang aku harus meminta izinmu untuk pergi ke kamar mandi?” tanyanya mengejek.


“Aku butuh mandi agar aku bisa rileks.”


“Silahkan,” jawab Kayden yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah istrinya. “Jangan lama-lama di kamar mandi karena beberapa jam lagi kita akan pergi lagi.”


Gwen memutar bola matanya malas sebelum ia berkata, “Ya, aku tahu. Kita akan pergi bertemu temanmu.”


“Sekaligus relasi kerjaku.” Kayden menambahkannya.


Gwen tak menjawab, tetapi ia mendengus kesal dan beranjak dari kursi empuknya. Akhirnya, setelah diizinkan ke kamar mandi yang relatif pribadi, ia bergegas membersihkan tubuhnya.


Setelah lima belas menit berlalu, Gwen ke luar dari kamar mandi dan berganti pakaian untuk makan malam. Tepatnya adalah makan malam di luar bersama orang lain.


Seolah belum cukup mendapatkan cobaan yang membuatnya ingin merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil menangis karena tertekan, mau tidak mau Gwen harus mempersiapkan dirinya untuk makan malam bersama sekelompok besar rekan bisnis suaminya.


“Sialan kau, Kayden Kim!” gumamnya sambil berjuang mengatasi rambut yang menolak disanggul rapi saat ia mencoba menjepitnya. Butuh empat jepit supaya tatanan sanggul rambutnya terlihat sempurna.


Nyaris pingsan gara-gara Kayden tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat di kasur empuk, wajah Gwen tampak merah padam sebab kehabisan kesabaran saat menata rambut, dan wanita itu mulai gelisah karena keadaan yang dipaksakan Kayden kepada dirinya.


Setelah Gwen menghabiskan waktu hampir satu jam mempercantik diri, ia berdiri dan menatap dirinya sendiri di cermin. Rambutnya yang ia sanggul rapi walaupun membutuhkan waktu hampir setengah jam, sungguh begitu sempurna dengan make up tipisnya dan gaun yang ia kenakan. Gaun malam chiffon hitam tanpa lengan panjang sehingga memamerkan kedua bahunya yang mulus, sungguh terlihat glamour dan terkesan mewah yang melekat pada sosok langsingnya.


Karena Gwen terlalu tegang, ketukan dari luar pintu kamar membuatnya terlonjak kaget. Wanita itu semakin cemas saat ia mendengar langkah panjang Kayden ketika pria itu membuka pintu.


Masih dengan posisi berdiri, Gwen menatap hampa wajahnya sendiri karena ia memoleskan lipstiknya yang berwarna merah muda, atau cara manik cokelat kehitamannya yang indah mengungkapkan betapa ia benar-benar merasa tak berdaya. Wanita itu hanya melihat bagaimana kelelahan membuat pipinya cekung dan ia harus berusaha sedikit menutupi lingkaran hitam di sekeliling matanya.

__ADS_1


__ADS_2