Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Merasa Lebih Baik


__ADS_3

“Ayo, kita cari Helen!” ajak Emma bersemangat setelah sebelumnya terlebih dahulu melepaskan rangkulan tangannya ke lengan suaminya, kemudian berpindah merangkul lengan Gwen sehingga membuat wanita itu tersentak dari lamunannya. “Dan aku akan membantumu mengatakan padanya agar memasukkan namamu dalam daftar perjalanan tur kami,” dia menjelaskan, diakhiri seulas senyuman begitu ramah.


“Nah, Sayang,” kata Endru sebelum melanjutkan kalimatnya. “jika kau ingin mencari Helen, jangan tinggalkan aku terlalu lama di sini.”


“Tenanglah … aku hanya sebentar,” Emma menyahuti seraya menarik lengan Gwen untuk berjalan, mencari Helen si pemandu wisata yang bertanggung jawab dalam kelompoknya.


Rangkulan dari wanita paruh baya itu begitu hangat sehingga mengingatkan Gwen kepada Bibi Melinya. Gwen lantas menghela napas karena baru saja mengingat, sejak mulai dari pertama kali menginjakkan kaki di London sampai detik ini, ia belum mengabari bibi dan juga pamannya. Ia pun berencana esok hari akan menghubungi mereka untuk menanyakan kabar serta melepas kerinduannya.


Pada saat mereka berjalan, Emma seketika mengernyit, sedikit melirik ke arah Gwen sebab wanita itu terdiam. Wajahnya juga terlihat lesu, tidak begitu bersemangat seperti beberapa menit yang lalu. Lantas, Emma pun bertanya, “Apakah kau sudah tidak berminat berjalan-jalan bersama orang paruh baya seperti kami?”


Gwen yang mendengarnya, ia langsung menoleh ke arah Emma sambil menggelengkan kepalanya. “Bu-bukan itu. Tolong jangan salah paham,” ujarnya. “Hanya saja … Anda mengingatkanku pada bibiku.”


“Bibimu?”


“Ya, bibiku.”


“Apakah bibimu seumuran denganku?”


“Sepertinya iya, Nyonya,” jawab Gwen sembari tersenyum. “Beberapa hari yang lalu bibi dan pamanku menikmati liburan mereka di Cina.”


“Hanya berdua?” tanya Emma penasaran.


“Ya.”


Emma menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, lalu menoleh ke arah Gwen bersamaan dengan alisnya terangkat, sedikit terkejut sebab menemukan manusia yang sama persis dengannya. Seorang wanita paruh baya yang gemar berpergian bersama suaminya ke luar Negeri selagi ada kesempatan. “Benarkah?”


Gwen terkekeh karena ekspresi Emma yang menurutnya berlebihan. “Tentu, Nyonya. Mereka sangat bersemangat merencanakan liburan mereka berdua setelah aku menikah.”

__ADS_1


“Jadi kau sudah menikah?”


Gwen menelan ludah, merutuki kebodohannya karena ia tak sengaja mengatakan hal pribadinya. “Ya, aku sudah menikah,” jawabnya sedikit canggung. “Tepatnya beberapa hari yang lalu,” tambahnya.


Emma mengerutkan dahinya, rasa penasarannya yang tinggi tak henti-hentinya melayangkan pertanyaan kepada wanita yang berdiri gusar di depannya, “Lalu, sekarang di mana suamimu? Seharusnya kalian melangsungkan bulan madu, bukan?”


“Suamiku—” rasanya aneh mengucapkan kata itu, pikir Gwen saat sesuatu mengencang di dalam dirinya. “Dia ada urusan pekerjaan hari ini.”


Emma membelalakkan mata karena keterkejutannya. “Pekerjaan?” Detik berikutnya ia mengernyit sambil menggelengkan kepalanya, sedikit geram dengan suami teman barunya tersebut. “Astaga … mengapa suamimu meninggalkan istrinya yang cantik ini jalan-jalan sendirian di London?”


“Bu-bukan begitu, Nyonya—”


“Sungguh tipikal kaum lelaki, bukan?” Emma menyanggahnya. Sebelum Gwen berkata lagi, ia langsung mengapit lengan Gwen dan menariknya kembali berjalan. “Kau tak perlu khawatir, Nak. Ada aku dan Endru yang akan menemanimu jalan-jalan hari ini. Biarkan saja suamimu sakit kepala, bergelut dengan setumpuk kertas karena pekerjaannya.”


Gwen memaksakan senyumnya, sedikit bersalah kepada Kayden karena telah membiarkan wanita paruh baya ini berasumsi sendiri. Akan tetapi, beberapa detik berikutnya ia merasa bukan kesalahannya, jika saja Kayden tidak meninggalkannya sendirian di kamar hotel pagi ini tanpa penjelasan dan juga sarapan bersama.


“Berhentilah memanggilku, Nyonya,” kata Emma lembut sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut lobi hotel untuk mencari Helen. “Panggil saja aku, Bibi Emma.”


“Ba-baiklah, Bibi Emma,” jawab Gwen. “Begini, apakah aku tidak mengganggu kalian jika aku ikut?”


“Tidak sama sekali,” jawab Emma sungguh-sungguh. “Bukankah, tadi kau sudah mendengar jelas apa yang dikatakan suamiku?”


“Ya, aku mendengarnya.”


“Jadi, sebenarnya tidak ada masalah dengan ini.” Emma memberitahunya. “dan sekarang biarkan aku membantumu melewati kesunyian harimu walau tanpa suamimu yang sibuk itu.”


Gwen tidak menjawabnya, tetapi dia hanya tersenyum kecut menanggapinya.

__ADS_1


***


Setelah bertemu dengan Helen dan Emma membantu Gwen berbicara kepadanya, akhirnya dengan senang hati Helen menyiapkan satu kursi cadangan di bus untuk Gwen. Dan setengah jam kemudian, Gwen mendapati dirinya dikelilingi dua puluh orang Cina ramah yang membuat hari itu sangat menyenangkan setelah terlalu banyak ditemani Kayden yang tidak peka.


Mereka memulai tur menuju dermaga Westminster Pier untuk cruise tour menyusuri Thames River. Gwen, Bibi Emma dan suaminya memilih duduk di lantai dua kapal sebab areanya terbuka dibandingkan lantai pertama yang tertutup kaca. Momen yang luar biasa, melakukan perjalanan dengan perahu berkecepatan sedang karena Gwen sangat menikmati perjalanan menakjubkan tersebut.


Di dalam kapal, melalui pengeras suara Helen menjelaskan tempat-tempat bersejarah dan yang menjadi landmark di sisi-sisi sungai yang mereka lalui. Gedung-gedung tua dari Wensminster hingga London Bridge. Mulai dari London Eye, gedung parlemen, Millenium Bridge, Tower Bridge, dan juga The Shard, gedung tertinggi di Eropa yang berbentuk pecahan kaca yang tajam ke atas.


Tak terasa lima belas menit berlalu, Gwen beserta rombongan yang lainnya turun di St Katherine Pier. Terlihat dua wanita cantik berjubah merah menunggu di tepian dermaga. Rupanya mereka adalah pelayan restoran The Medieval Banquet, tempat mereka akan makan siang.


Helen kemudian mengajak para rombongan tur segera masuk ke dalam restoran, setelah sebelumnya mereka terlebih dahulu berjalan sekitar lima menit. Sepasang patung prajurit perang abad pertengahan berdiri di kanan kiri pintu masuk sehingga membuat Gwen beserta rombongan yang lainnya begitu takjub melihat pemandangan tersebut. Dan menurut Helen, abad pertengahan di Inggris memang berlangsung di kawasan ini.


Pada saat Gwen akan menikmati makan siangnya, tiba-tiba ia menyadari dengan kaget bahwa sekarang sudah lewat pukul satu. Seharusnya Kayden sekarang tahu, bahwa Gwen telah melarikan diri, dan ia pun bertanya-tanya begaimana reaksi Kayden. Namun, sambil mengunyah sepotong roti lapis telur yang sebelumnya disiapkan oleh para pelayan restoran, sejenak wanita itu berpikir tidak ada salahnya memberi pelajaran kepada suaminya, bukan?


Dua jam berikutnya, ketika semua naik kembali ke bus setelah sebelumnya mereka terlebih dahulu menaiki perahu yang sama, waktu sudah menunjukkan pukul tiga lewat. Sembari mendengarkan Helen menjelaskan tentang London Eye yang letaknya di tepian Sungai Thames, mereka menunggu dengan sabar untuk menyaksikan matahari terbenam.


“Aku pernah mengunjungi beberapa tempat indah,” Emma bergumam pelan di sampingnya, “tapi belum pernah aku melihat matahari terbenam semegah ini.”


Dan itu benar, memang indah—penuh pesona luar biasa. Sementara Gwen duduk di dalam bus, merasakan kekuatan meresap ke tulangnya, tiba-tiba ia berharap Kayden ada di sini bersamanya. Amat sangat berharap, sampai-sampai ia mulai menyesal telah mengikuti tur ini.


Hal itu membuat keputusannya ikut tur ini menjadi sia-sia, pikir Gwen muram saat bus mulai melaju untuk mengantar rombongan tersebut kembali ke hotel.


Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh menit, di lobi hotel Gwen mengucapkan terima kasih kepada teman-teman barunya dan mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, karena mereka akan meninggalkan London menuju Hong Kong pagi-pagi sekali. Lantas, dalam keadaan lelah, tetapi merasa lebih baik daripada yang ia rasakan sejak Kayden melangkah masuk dan mengambil alih hidupnya, ia naik lift ke lantai kamarnya.


Gwen baru mulai cemas ketika membuka pintu kamar. Tampak lampu-lampu di kamarnya masih menyala, tirainya belum ditutup, dan Kayden berdiri di depan jendela. Punggung pria itu terlihat tegak, bahunya kaku, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana kain hitam panjangya.


Seketika Kayden berbalik ketika Gwen melangkah masuk. “Ke mana saja kau?” bentaknya marah.

__ADS_1


__ADS_2