
Gwen mulai merasa agak iba pada Rainer karena dia benar, dan Gwen bahkan tidak bisa berbohong mengatakan itu tidak benar. Rainer Kim dipandang sebagai salah satu keluarga Kim yang lebih lemah—pria yang mudah diajak bergaul, tetapi tidak menimbulkan kekaguman pada semua orang yang ditemuinya.
“Dan satu-satunya orang,” Rainer melanjutkan, “yang kurasa pasti lebih peduli padaku dari pada kakakku adalah Valerie. Dia milikku.” Suaranya parau oleh rasa kepemilikan. “Dia sudah menjadi milikku sejak kami pertama bertemu di sebuat pesta remaja konyol pada usia belasan tahun. Saat Valerie memandangku,” katanya serak, “dia tidak melihat orang lain selain diriku. Tapi sayangnya itu tak berakhir lama,” tambahnya. “pada akhirnya, Valerie pun mengkhianatiku dengan menyukai Kayden.” Ia tersenyum sinis. “Sungguh konyol, bukan?”
Perasaan Gwen serasa diremas-remas oleh penjelasan yang pedih karena tak peduli apapun yang telah Rainer lakukan padanya. Ia bisa memahami apa artinya pengkhianatan dan betapa menyakitkannya pengkhianatan itu.
“Dan Kayden tentu saja tidak pernah sedikitpun memandang ataupun melirik Valerie. Hatinya sekeras batu. Hatinya juga tidak gampang disinggahi oleh nama seorang wanita satupun.”
Kepala Gwen tersentak, matanya membelalak tak percaya ke arah tengkuk Rainer.
“Sebenarnya, kakak polosku itu tidak mau melakukan itu terhadapku.” Rainer mengaku tanpa memahami apa yang dipikirkan Gwen. “Aku sudah terbiasa menyalahkan Kayden atas setiap kegagalan dalam hidupku. Tapi begitu bodohnya aku sampai-sampai tidak berpikir olehku bahwa Kayden-lah satu-satunya orang yang benar-benar menyayangiku. Benar-benar peduli padaku dan perasaanku. Dia juga tidak pernah mengkhianatiku.”
Gwen terdiam. Ia sedikit tertarik mendengarkan cerita masa lalu Kim bersaudara karena ternyata Rainer memandang saudara lelakinya sebagai kesatria berhati mulia.
“Tapi sebelum aku sempat menyadari semua ini, kau muncul,” lanjutnya. “Denganmu, aku melihat peluang untuk membuat Kayden terluka seperti aku yakin dia telah membuatku terluka. Dan aku minta maaf, Gwen.” Akhirnya Rainer berbalik ke arah Gwen. “Tapi aku melakukannya tanpa berpikir memikirkan bagaimana tindakanku akan menyakitimu.” Ia menghela napas. “sampai akhirnya sudah terlambat untuk melakukan apapun.”
“Aku?” Gwen mengerutkan dahi karena bingung, benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan ini. “Tapi mengapa kau berpikir aku bisa memberimu kekuatan untuk melukai Kayden?”
Rainer mengernyit, seolah-olah dia heran dengan pertanyaan mantannya itu. “Kami semua bisa melihatnya, Gwen,” katanya, seakan itu menjadikan segalanya lebih jelas. “Waktu kami menabrakmu, belasan pasang mata termasuk aku,” jedanya. “kami semua berdiri di sana dan tertegun telah menyaksikan pemimpin hebat Kim Corporation—lelaki yang dipuja oleh semua kaum wanita yang mengenalnya, telah jatuh cinta kepada sekretaris yang baru beberapa bulan bekerja dan berpenampilan biasa.”
__ADS_1
Rainer tersenyum muram, sementara Gwen perlahan bangkit berdiri saat rencana pembalasan mengerikan Rainer terhadap saudaranya mulai terbentuk di kepalanya.
“Maksudmu …? Gwen harus berhenti untuk menelan ludah, kesulitan mendorong kata-katanya melewati kemarahan yang mulai berdenyut dalam dirinya. “Maksudmu, kau memilihku dan membuatku jatuh cinta padamu hanya karena kau yakin, bahwa kau mencuri sesuatu yang diinginkan Kayden untuk dirinya sendiri?”
Rainer tidak menjawab, sebab ia merasa segalanya sangat jalas sekarang. Pria itu telah memanfaatkan Gwen, mempermainkan perasaannya, dan dengan tenang memperpanjang seluruh sandiwara itu sampai hari pernikahan mereka sebelum memutuskan untuk menghentikannya. Pada saat itu, Rainer melakukan hal gila tersebut karena dia yakin akan dapat mengalahkan Kayden.
Gwen yang merasa diamnya Rainer adalah sebuah jawaban kebenaran dari pertanyaannya, ia meradang. “Dasar kau bajingan kejam! Kau memanfaatkanku.”
“Maaf, Gwen,” ujar Rainer muram. “Sungguh, maafkan aku ….”
Gwen tersenyum kecut. “Kau tahu? Aku merasa diriku sekarang adalah boneka mainan kakakmu—”
“Itu tidak benar!” Rainer menyanggahnya dengan cepat. “Kay sangat mencintaimu, Gwen! Seisi ruangan eksekutif heboh dengan berita dia telah memarahi habis-habisan bagian HRD, kemudian Kayden meminta maaf kepadamu sehingga dia bisa mencari tahu siapa dirimu tanpa terlalu kentara! Sebuah sikap konyol yang tidak pernah diperbuat sebelumnya oleh pimpinan Kim Corporation kepada semua karyawan yang bekerja padanya.”
Pernyataan dari Rainer sudah cukup membuat kaki Gwen goyah. Ia pun menghempaskan diri di kursi sementara dirinya mulai terhuyung oleh sebuah harapan. “Tapi bagaimana dengan wanita tadi?” tanyanya lirih.
Rainer mengernyit. Namun, dalam hati dia tahu ke mana arah pertanyaan Gwen karena dirinya sudah mengetahui dari Kayden yang sebelumnya telah menghubunginya terlebih dahulu.
“Jika wanita yang kau maksud tadi adalah Ava,” jedanya ketika menemukan wajah Gwen tersentak, menyoroti bola matanya dari kejauhan. “Kau tidak perlu khawatir. Ava Blair adalah saudara sepupu kami karena ibunya, Bibi Alin Kim adalah adik tiri dari ayah kami. Mereka berdua memang sangat dekat sejak kecil. Tapi ketika Kayden berusia sepuluh tahun dan Ava berusia tujuh tahun, Paman Alberto Blair yaitu ayah Ava harus memboyong Bibi Alin dan Ava ke Rusia. Paman Alberto ditunjuk oleh pimpinan perusahaan dirinya bekerja untuk menjadi kepala cabang di Negara tersebut hingga detik ini. Ya … tentu itu sangat memudahkannya karena Paman Alberto memang berkebangsaan Rusia.”
__ADS_1
Gwen bergeming, mendengarkan baik-baik cerita Rainer tentang keluarga Kim. Dulu, ketika ia bersama Rainer, pria itu tidak pernah sedikit pun menceritakan keluarganya. Dan sekarang ia menyadari, seingatnya selama menikah dengan Kayden, suaminya hanya menceritakan sebagian tentang keluarganya.
“Ava sangat menyayangi Kayden sebagai sosok kakak laki-laki yang bisa diandalkannya,” ujar Rainer menjelaskan. “Dulu, sebelum kau masuk dikehidupanku dan Kayden, banyak yang mengira Ava adalah kekasih Kayden.” Ia seketika tersenyum tipis mengingat kejadian beberapa tahun silam. “Karena Ava selalu bersikap manja kepadanya dan berpakaian seksi ketika datang ke kantor, sampai-sampai suaminya sendiri dibuat cemburu oleh sikap Ava yang menurutku kekanakan.”
Mata Gwen terbelalak karena keterkejutannya. “Jadi Ava sudah menikah?”
“Ya,” jawab Rainer tegas. “Dia menikah empat tahun lalu dan sekarang telah memiliki seorang putri cantik yang lucu berumur dua tahun.” Ia menarik kedua sudut bibirnya ke atas mengingat keponakan yang menggemaskan itu.
Gwen mengernyit. “Tapi selama aku bekerja di perusahaan Kim, aku tidak pernah melihat Ava datang ke kantor?”
“Tentu saja kau tidak melihatnya karena Ava hanya datang ke Indonesia setahun sekali dari Rusia—tempat di mana ia tinggal bersama suami yang dicintainya beserta putri mereka yang menjadi dunianya—”
“Tunggu, Rai,” Gwen memotong kalimat Rainer yang belum terselesaikan. “Mengapa Ava hanya datang setahun sekali ke Indonesia?”
“Untuk mengucapkan selamat ulang tahun,” kata Rainer santai.
Dahi Gwen berkerut dalam, tidak mengerti dengan perkataan Rainer. “Sebenarnya apa sih maksudmu?”
“Maksudku adalah Ava datang jauh-jauh dari Rusia dengan merayu Jimmy terlebih dahulu agar suaminya itu menyetujuinya dan menitipkan Jiva, putri mereka kepada Bibi Alin hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Kayden.”
__ADS_1
Gwen terkejut sehingga matanya semakin membulat lebar. “Jadi, hari ini adalah ulang tahun Kayden?”
“Ya.”