
Hello, Readers...
Maaf baru update ya...
Dhi lagi sakit hampir 2 minggu ini 😥
Jadi menurut Dokter harus rehat total. Tapi sekarang, alhamdulillah kesehatan Dhi berangsur membaik berkat support doa-doa kalian semua. Makasih yang udah kirim-kirim semangat via whatsapp dan dm instagram 😊🙏
Dan terakhir, jangan lupa LIKE, VOTE , KOMENTAR, dan masukin cerita MENYENTUH HATIMU di favorit kalian untuk menambah amunisi semangat Dhi.
Terima kasih & Selamat Membaca 😊🙏
***
Kemarahan dan cercaan dari Kayden begitu menghujam hati Gwen bagaikan pisau. Lantas, wanita itu menanggapinya berdasarkan pemikirannya. “Kau ingin aku melakukan apa?” Ia berbalik untuk membalas menatap suaminya. “Terus berpura-pura sampai kau benar-benar bosan dengan permainan ini?”
Kayden yang mendengarkan sontak terkejut. Kegetiran dalam nada suara istrinya seakan menghantam titik pedihnya sehingga dadanya kembang kempis oleh kesiap napas yang tajam.
Akan tetapi, Kayden benar-benar menatapnya hingga membuat Gwen berharap ia menahan bibirnya agar tidak berbicara. Hal itu karena ia tahu bahwa sekarang Kayden dapat melihat ketegangan di wajahnya—kepucatan dan sorot pedih yang akan mengingatkannya di kemudian hari ketika Kayden menyaksikan Gwen sangat terluka seperti saat ini.
Dan benar saja, tiba-tiba Kayden menyipitkan matanya. “Sesuatu pasti terjadi,” dia memutuskan. “Aku sudah melakukan sesuatu, bukan?” Daya tangkapnya mengejutkan Gwen. “Aku tanpa sadar telah melakukan sesuatu yang membuatmu sangat marah sampai-sampai kau meninggalkanku begitu saja!”
Jantung Gwen serasa diremas-remas. “Sudah cukup aku dibohongi oleh kakak beradik Kim sialan!” tukasnya.
Kayden mengerutkan dahinya dalam, mencoba bersabar menghadapi istrinya. “Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau katakan, Gwen,” ujarnya. “tapi satu hal yang sangat jelas dan perlu kau ketahui,” jedanya. “Apa yang kita lalui bersama setiap hari bukanlah kebohongan. Dan kau tahu itu!”
“Pernikahan lebih dari sekedar berbagi. Ku pikir kau sudah tahu itu,” timpal Gwen ketika Kayden sudah di dekatnya.
“Memang benar,” ujar Kayden. “Ada yang namanya berbagi—baik maupun buruk. Dan ada lagi yang namanya berkomunikasi secara tepat.” Tangannya terangkat, menangkup pipi istrinya. “Seperti mendiskusikan masalah kita dan mencoba menyelesaikannya.”
__ADS_1
“Aku sudah menyelesaikan masalahku,” tukas Gwen.
“Dengan pergi?”
“Tidak ada yang salah dengan itu.” Gwen mencoba menguatkan argumennya. “Lagi pula aku sudah memberitahumu alasannya!” Dengan marah ditepisnya tangan Kayden dari pipinya sebelum suaminya melakukan sesuatu kepadanya seperti mencium bibirnya.
“Dan teruslah mencoba sampai aku bisa menerima kebenarannya,” saran Kayden. Kemudian, tangannya memeluk pinggang Gwen, menariknya ke tubuhnya yang panas. Sangat panas sehingga Gwen tak dapat mencegah dirinya dari keterkejutannya ketika kesadaran manis dan panas itu menjalarinya.
“Ini salah, Kay!” sembur Gwen putus asa. “Sudah ku katakan sejak awal, apa yang kita lakukan terasa salah bagiku!”
“Salah?” Mata Kayden berkobar. “Setiap malam kau berbaring di pelukanku dengan kakimu melingkariku dan matamu menyelami mataku sementara aku terus-menerus mengucapkan kalimat cinta padamu. Dan berani-beraninya kau mengatakan padaku bahwa itu salah sekarang?”
“Ya Tuhan …” Gwen memejam, menelan ludah saat gumpalan kering menyekat tenggorokannya yang sakit karena ia tiba-tiba membayangkan Kayden berbaring bersama wanita lain yang ditemuinya tadi.
“Bukankah sudah sering ku katakan padamu jangan meragukan ketulusan cintaku, Gwen.”
“Tapi aku mulai meragukannya.” Sekali lagi, Gwen mencoba melepaskan diri dari cengkraman pria itu.
“Hah?” Gwen mengernyit bingung. “Aku tidak—”
“Diam!” Kayden menyela, kemudian melepasnya. Lantas, ia berbalik dan tangannya terangkat untuk menyugar sebelum menekan tengkuknya sembari menatap lantai. Setiap bagian dirinya terkunci dalam posisi tegang yang membuat Gwen diam menahan napas.
Lalu, Kayden mengeluarkan dengusan tawa marah. “Seharusnya aku bisa langsung menebak,” katanya. “Bajingan itu kembali ke Jakarta dan kau bertemu dengannya.”
“Tapi aku tidak bertemu dengan Rainer.”
“Pembohong,” desah Kayden, melepaskan tangan dari tengkuk sehingga dia bisa mengepalkannya ke pelipis. “Tentu saja kau bertemu dengannya.”
Apakah Kayden pada kesimpulan itu karena pertemuan diam-diamnya dengan wanita seksi itu? Gwen bertanya-tanya. Dan ia pasti akan menertawakan ironi tersebut jika saja dia sanggup tertawa. Namun, hal itu tidak terjadi karena ia nyaris menangis.
__ADS_1
“Apa yang dia lakukan?” sembur Kayden. “Cepat-cepat menemuimu pada kesempatan pertama, sebab tahu aku berada di luar negeri dan bocah tengik itu merasa cukup aman untuk memohon ampun kepadamu dengan segenap jiwanya?”
Menggelikan sekali, pikir Gwen, mengingat yang mengucapkannya adalah pria yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri memohon sesuatu dari wanita seksi yang dilihatnya tadi. Dan dengan sikap menantang, Gwen mengangkat dagu, mulutnya terkatup membentuk segaris tipis tegas, terang-terangan menolak menjawab.
“Jadi, begundal itu,” kata Kayden, menggertakkan gigi. “Berapa lama yang dia butuhkan untuk menyelinap kembali ke hatimu, Gwen?” ejeknya. “Beberapa detik? Semenit atau sejam, kah?”
“Kau mulai kedengaran cemburu berlebihan, Kay,” balas Gwen. “dan cemburumu itu sudah mulai tak berdasar. Asal kau tahu,” jedanya. “Aku muak kau menyebut adik sialanmu itu di antara kita. Dan aku juga sudah muak dengan kebohongan ini semua.”
Ucapan tersebut membuat mata Kayden semakin menggelap. Hawa panas menjalar ke wajahnya seolah Gwen baru saja mengungkapkan sejumlah rahasia gelap mengerikan Kayden yang mendesak kemarahannya, nyaris tak terbendung.
Sungguh pertunjukan kemarahan yang membuat Gwen terhuyung mundur selangkah, berupaya menghindari tangan yang mendadak terulur ke arahnya.
Namun, terlambat. Kayden sudah meraih tengkuknya dan menarik Gwen ke arahnya. Kemudian bibirnya mendarat di bibir Gwen—panas, mendesak, dan tanpa ampun.
Dan segala hal istimewa yang pernah dirasakan Gwen terhadap pria tersebut jatuh seperti burung yang tak sanggup terbang karena terluka, dan tergeletak menggeletar ketika Kayden terus menciumnya dengan kekejaman yang benar-benar mengecam semua yang pernah mereka bagi semuanya.
Beberapa menit kemudian, pada saat Kayden melepaskannya, Gwen terisak. Air matanya nyaris memenuhi wajahnya yang memutih.
“Aku sudah lelah, Gwen,” kata Kayden muram. “Mungkin apa yang ku lakukan semuanya demi dirimu selama ini, kau anggap semuanya semu. Aku tidak tahu harus melakukan apalagi agar kau mempercayaiku. Percaya akan cinta tulusku. Setiap waktu, aku mencoba meyakinkan hatiku bahwa aku bisa membuatmu bahagia.” Ia tersenyum kecut. “Ternyata aku salah. Kau tidak bahagia denganku. Jadi,” Kayden memberi jeda untuk menarik napas dalam-dalam. “sekarang aku membebaskanmu dalam ikatan pernikahan ini, dan kau bebas mencari kebahagiaanmu sendiri.”
Tangisan Gwen semakin pecah antara rasa sakit dan kecewa. Seketika tangannya pun terulur meremas bajunya seperti ada sesuatu yang memagut keras dadanya.
“Alangkah baiknya kau singkirkan barang-barangmu dari rumahku,” kata Kayden sambil menggertakkan gigi ketika berbalik dari istrinya. “Aku tidak ingin menemukan satu tanda pun bahwa kau pernah berada di sana pada saat aku pulang besok malam. Paham?”
Paham? Tentu sangat paham, Gwen mengakui dengan berat saat menyaksikan pria itu melangkah marah ke pintu dari balik penglihatan yang dikaburkan air mata panas dan menyengat.
Jika menurut Kayden tidak masalah, maka sebaliknya Gwen sama sekali tidak bisa menerimanya.
“Dan asal kau tahu saja,” tambah Kayden dingin ketika sampai di pintu, “kau bisa memperingatkan Rainer, bahwa jika dia menyakiti Valerie dengan semua ini, maka aku sendiri yang akan membereskannya.”
__ADS_1
Lantas, Gwen tersenyum masam yang berdenyut di seluruh bibir yang bengkak oleh ciuman. “Dasar munafik!” cercanya.