Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Menginginkanmu


__ADS_3

WARNING!


Chapter ini mengandung kontak fisik. Bagi yang belum berusi 21+ dilarang membaca yaa...😁


Mohon bijaklah menyingkapi bacaan.


Terima kasih dan happy reading.


****


Beberapa detik berikutnya, jemari Gwen meluncur perlahan, menjelajah ragu dan berhenti ketika mencapai leher Kayden, melingkarkan lengannya sekaligus berpegangan di sana ketika desahan goyah terlontar darinya dan bibirnya membuka.


Kayden mengangkat kepala, cukup untuk bisa memandang ke dalam mata Gwen yang gelap dan rapuh. “Apa kau sekarang menginginkanku, Gwen?” tanyanya parau. Kayden bergerak dengan lembut menelentangkan Gwen sehingga Kayden setengah membungkuk di atasnya. Gwen masih memeluk tengkuk pria itu, sementara Kayden menangkup pipinya. “Aku akan menghentikan ini sekarang juga jika kau tidak menginginkanku. Aku selalu menunggu cintamu untukku, Gwen.”


Gwen menatap mata Kayden yang sudah nyaris sama gelapnya dengan matanya. “Kay …” Gwen memanggil nama suaminya dengan suara lembut tapi menggoda. “Apakah kau mencintaiku atau hanya menginginkan tubuhku?”


Kayden mengernyit, tidak menyukai pertanyaan istrinya di akhir kalimat. “Apa yang kau bicarakan, Gwen?” tegasnya. “sejak awal aku bertemu denganmu, aku sudah jatuh hati padamu. Aku sangat mencintaimu, Sayang,” ujar Kayden sungguh-sungguh. “Aku bisa saja memaksamu dan mengutamakan egoku memiliki tubuhmu saat malam pertama setelah pernikahan kita. Tapi aku tidak melakukannya, bukan?” tanyanya muram. “Aku masih punya hati, Gwen. Aku masih peduli dan selalu mengkhawatirkanmu.” Sejenak, ia menelan ludah sebelum melanjutkan kalimatnya, “jika waktu itu aku berhasil memiliki tubuhmu, tetapi aku sudah gagal memenangkan cintamu, bagiku hal itu sama saja kau semakin menjeratku kejurang kehampaan hatiku yang terdalam.”


Bukan hanya saluran pernapasan yang menyempit, tenggorokan Gwen pun terasa sakit bagai ada ribuan jarum tak kasat mata yang seolah berlomba menusuk ulu hatinya. Membuat perih di sana, juga pelupuk matanya tatkala mendengar pernyataan suaminya. Tak hanya itu, ia bisa merasakan degup jantung Kayden di dadanya. Gwen dapat melihat bara menggelora dalam kegelapan mata itu, dan jemari Kayden sedikit gemetar di pipinya.


“Kay …” Gwen menjeda kalimatnya. “Katakan padaku, apakah kau menginginkanku?”


“Aku menginginkan semuanya yang ada di dalam dirimu, Gwen,” Kayden jujur ketika berkata demikian.


Entah berapa lama mata mereka terpaku, mencoba menyelami telaga bening masing-masing yang serupa misteri. Tak terjangkau, dan tiada tepi.


“Aku menginginkamu saat ini juga, Kay …” Gwen mendengar dirinya mendesah memanggil nama suaminya. Ia ingin merasakan bibir itu menghangatkan bibirnya lagi, merasakan desir kenikmatan yang sama serta menenggelamkan diri di dalam pelukan suaminya yang semakin menghangatkannya. “Beri aku kesempatan untuk mencintaimu, Kayden Kim …”

__ADS_1


“Aku selalu memberimu banyak waktu, Gwen,” ujar Kayden serak.


Tiba-tiba saja dan tanpa diperintah, Gwen berinisiatif mencium bibir Kayden terlebih dahulu. Kayden yang menerima serangan mendadak istrinya, ia tidak membuang-buang waktunya.


Karena diselimuti kabut gairah, Kayden kembali mencium bibir Gwen, dan wanita itu membalasanya secara suka rela dengan penuh gairah yang menggelora. Alih-alih telapak tangannya meluncur di atas otot-otot keras, merasakan kenikmatan hangat tersingkap dalam dirinya, sambil mendesah lembut ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada pria itu.


Kayden menginginkannya. Dan bagi Gwen, tidak ada yang lebih kuat dari pada mengetahui seseorang mendambakan dirinya. Tetapi tidak pada sembarang orang ia menyerahkan seluruh jiwa raganya, Gwen pun menegaskan pada diri sendiri.


Ini Kayden. Pria yang dinikahinya dan satu-satunya pria yang Gwen tahu, ia harus sepenuhnya menyerahkan diri kepadanya.


“Tuhan, jadikan ini baik untukku,” Gwen berdoa dalam hati ketika Kayden memperdalam ciumannya. “Jadikan ini juga baik untuk Kayden,” tambahnya.


Tangan Kayden meluncur turun membelai perutnya yang kencang, sepanjang paha berbalut sutra hingga menemukan pinggiran gaun malam istrinya. Perlahan-lahan, dia melucuti gaun itu dari tubuh Gwen. Dan untuk momen singkat, ketika istrinya berbaring telanjang, tatapan Kayden yang membara sejenak penuh tanya.


“Gwen, aku masih memberimu kesempatan untuk berubah pikiran?”


Kayden menyeringai puas sembari tangannya membelai rambut Gwen yang halus. Lantas, sepersekian detik kepalanya diturunkan, bibirnya menjelajahi tempat-tempat yang tak pernah dijelajahi laki-laki lain termasuk adik tirinya sendiri. Jemarinya yang lihai, memperbesar kerinduan yang terus tumbuh dalam diri Gwen, sehingga wanita itu merintih lembut yang terdengar dari tenggorokannya.


Kayden memposisikan dirinya, lengan-lengan kuatnya mendekap Gwen saat pria itu memagut bibirnya dengan rasa lapar yang membuatnya kehabisan napas.


“Kayden …” Gwen berbisik dalam nada nyaris putus asa karena suaminya itu menyeret gairahnya begitu cepat.


Kayden tidak menjawabnya, tetapi ia membalasnya dengan mencium kembali bibir istrinya. Belaian-belaian Kayden semakin berani, semakin yakin tentang apa yang bisa membuat Gwen meliar oleh kenikmatan tak terkendali. Lalu, diiringi erangan rendah rasa frustrasi tanpa daya, Gwen bergerak gelisah di bawah suaminya.


Pria itu mengangkat sedikit tubuhnya, lengan berototnya ditopangkan di kedua sisi tubuh istrinya saat akhirnya dia memosisikan tubuhnya lebih baik. Dan Gwen sendiri menelusurkan tangan di dada Kayden—merasakan dentaman jantung yang bergumuruh di rusuknya. Kulit kuning langsat itu terasa panas, serta guncangan kebutuhan yang terkekang di bawah kendali kuat suaminya membuat Gwen menikmati semuanya.


“Ini untukknya!” Gwen menegaskan dalam batinnya. “Kayden mengalami semua ini gara-gara aku.”

__ADS_1


Tetapi, sesaat Gwen merasakan kengerian bahwa bukti fisik gairah Kayden untuk pertama kali semakin menggelora dan … panas. Meskipun Kayden menyatukan tubuh mereka dengan lembut, Gwen mencengkram bahu pria itu. Kuku-kukunya terbenam dalam otot yang padat, tegang, seolah ia kehabisan napas serta menggeletar disekujur tubuhnya.


Tentu saja hal itu menghentikan Kayden. Ia lantas menarik diri. “Gwen?”


“Tidak.” Gwen menggelengkan kepalanya, matanya dipejamkan rapat-rapat dalam penyangkalan.


“Gwen!” Nada perintah Kayden akhirnya membuat istrinya membuka mata.


Gwen menanggapinya, mengangkat bulu mata gelapnya, dan mendapati ekspresi Kayden begitu muram. Dilihatnya bibir Kayden melekuk sedikit turun dengan masam yang membuat air mata Gwen merebak.


“Kumohon, Kay. Jangan berhenti,” bisik Gwen, terlalu takut pria itu akan mundur sepenuhnya hingga tak peduli bahwa ia memohon.


Bola mata Kayden semakin menggelap, kelebatan sedih yang mengerikan tampak di sana. Akan tetapi, celakanya Gwen tahu kesedihan itu untuknya.


“Aku sangat menginginkanmu, Kay.”


Seulas senyum kepuasan terbit dari bibir Kayden. Ia lantas membungkuk untuk mencium istrinya dengan lembut. Dan, dengan tatapan mendambanya, Kayden mendorong Gwen lebih dalam, mengambil apa yang ditawarkan istrinya itu dalam satu gerakan yang lebih dari pada menerobos segel keperawanannya.


Sengatan rasa sakit yang pendek dan tajam itu bukan apa-apa, karena Kayden telah memberikan Gwen kenikmatan sehingga dirinya bermandikan sensasi yang begitu sensual. Dan tak ingin kenikmatan itu cepat berakhir, Gwen lantas menarik suaminya lebih dalam, kakinya membungkus tubuh Kayden yang kencang. Gwen memeluknya lebih dekat, cukup dekat hingga bibirnya bisa menempel di bibir pria itu.


Dalam penyatuan tubuh, bibir, dan pikiran yang panas, erat, serta menyeluruh ini, Gwen menginginkan ritme liar itu untuk mengambil alih. Dentaman jantung Kayden dan napasnya yang serak juga terengah, sangat didambanya. Teramat didambakan dalam kebutuhan untuk diinginkan seperti ini. Kebutuhan untuk mengetahui bahwa ia memiliki kekuatan yang membuat seorang Kayden mabuk kepayang seperti malam ini.


Beberapa detik kemudian, Gwen merasakan dirinya meraih tujuan tertinggi saat Kayden mendorongnya lebih keras. Lagi, sebuah kenikmatan berdengung dalam darahnya seperti sengatan listrik, kemudian meledak menjadi semburan api kepuasan yang tak terkendali.


Kayden mengikuti ritme istrinya. Otot-otot kencang yang berdenyut-denyut dan menari-nari liar dalam diri Gwen, mendorong Kayden pada kepuasan yang dalam, panas, serta menggetarkan tubuh pria itu, sehingga udara seolah menyekat di tenggorokannya ketika mereka menyatu bersama dalam lompatan liar.


Mereka tetap seperti itu sepanjang perjalanan berpusar-pusar menuju ke warasan, tempat mereka berbaring dengan tubuh saling terbelit, penuh keringat, otot kaki dan tangan melemas.

__ADS_1


__ADS_2