Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Broken Heart


__ADS_3

Dan di atas segalanya, hal itu juga memberinya minat serta rasa kemandirian—sesuatu untuk dibicarakan pada malam hari dengan pria penuh sensualitas yang dinikahinya sehingga tidak berkisar pada urusan ranjang mereka.


Semua berjalan dengan baik selama beberapa minggu menyenangkan itu. Andai, jika satu atau dua kali peringatan Lusia muncul di kepalanya, mencoba memperingatkannya bahwa bulan madu yang panjang itu tidak dapat berlangsung selamanya, Gwen mengabaikannya.


Sayangnya, takdir berkata lain. Takdir kejam memutuskan untuk meraih dan mengoyak sesuatu dalam diri Gwen. Dan fakta bahwa itu terjadi di jalanan Jakarta yang sibuk adalah kekejaman lebih lanjut, karena hal tersebut membuatnya terekspos pada apa yang terpaksa dilihatnya saat ini.


Kayden seharusnya pergi—perjalanan bisnis dua hari ke Paris, katanya kepada Gwen sebelum wanita itu bertemu Lusia. Baru kali ini mereka berpisah sejak mereka menikah, dan Gwen amat sangat merindukan suaminya untuk berada di sampingnya.


Akan tetapi, Kayden meneleponnya. Setiap malam sebelum tidur, Kayden menghubungi untuk mengucapkan selamat malam dengan suaranya yang hangat dan lembut, sangat tulus ketika mengatakan betapa dia merindukan Gwen. Faktanya sekarang, seluruh sikapnya beberapa minggu terakhir membuat hati Gwen melunak menjadi sesuatu yang nyaris mendekati cinta. Namun, ternyata itu hanyalah ilusi yang diputuskan takdir untuk dihancurkan.


Jadi, betapa beruntungnya Gwen ketika Lusia memutuskan untuk mengantarkannya pulang setelah sesaat pertemuan mereka di resto. Sebelumnya, Gwen memang berkata pada Lusia bahwa ia harus segera pulang karena suaminya akan kembali hari ini dari Paris. Hal tersebut membuatnya tenggelam dalam pikirannya sendiri sembari berjalan ke parkiran mobil, memikirkan kepulangan sang suami serta semua rencana yang ia buat untuk mengejutkan Kayden.


Gwen berencana memasak makan malam sangat istimewa untuk mereka, dan ia telah membeli gaun baru sebelumnya yang nyaris seksi jika Gwen mengenakannya. Singkatnya, Gwen berencana merayu sang suami tepat saat pria itu memasuki pintu.


Namun, tiba-tiba matanya bersinar oleh antisipasi gelap ketika hendak membuka pintu mobil. Segala sesuatu yang hidup dalam dirinya sontak berhenti.


Gwen melihat suaminya bersama seorang wanita berpakaian seksi yang sedang ke luar dari pintu masuk hotel di seberang jalan. Dan ia tidak mengenali wajah wanita tersebut. Keduanya berhenti di undakan hotel. Kayden berbalik tepat ketika wanita itu berbalik ke arahnya. Wanita berambut panjang lurus hitam legam itu harus mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah Kayden yang tersenyum lebar kepadanya. Tangan wanita itu terangkat, menyentuh lengan Kayden ketika menggumamkan sesuatu yang mendesak.


“Tidak,” bisik Gwen, masih mencoba menyangkal.


Inilah dia, sebuah desakan takdir sehingga waktunya harus menerima kenyataan. Gwen melihat semuanya. Melihat sang suami menyeringai puas saat pipinya dicium oleh wanita itu.

__ADS_1


Kayden, pria yang dinikahinya dan Gwen menyerahkan dirinya malam demi malam. Seorang pria yang mulai Gwen yakini serta dipercayainya. Pria yang membuat Gwen jatuh cinta setengah mati dengan bodohnya, menanti kedatangannya malam ini bersama renca-rencana manisnya sementara suaminya itu bersama wanita lain.


Gwen sempoyongan, meskipun tidak menyadarinya tapi Lusia memperhatikannya.


“Gwen?” tanya Lusia tajam. “Mengapa kau—?” Kemudian, “Ya Tuhan,” dia terkesiap setelah mengikuti arah pandangan mata sahabatnya. “Bukankah itu Mr. Kayden yang sedang bersama wanita ….?


Gwen tidak mendengar lagi karena ia tiba-tiba berlari membabi buta dalam upaya mengejar Kayden dan Wanita yang tengah masuk ke dalam mobil.


“Gwen!”


Gwen mengabaikan teriakan Lusia. Ia juga mengabaikan gerutuan orang-orang yang ditabraknya, mengabaikan segalanya saat ia berlari, berbelok di sudut kemudian menyebrangi jalanan yang ramai tanpa melihat. Namun, sayangnya usahanya sia-sia tatkala mobil yang ditumpangi Kayden bersama wanita, melaju cepat meninggalkan tempat tersebut.


“Gwen!” Tangan Lusia lah yang meraih dan menariknya keras-keras sehingga ia tidak tertabrak mobil. “Demi Tuhan!” Lusia terkesiap marah. “Apa kau mau bunuh diri, hah?”


“Kau harus tenang,” balas Lusia tegas. Dan, sambil memegang lengan Gwen erat-erat, dia mengedarkan pandangan dengan tidak sabar. “Ayo,” katanya. “Di sana ada cafe. Ayo kita ke sana dan minum. Setelah itu kau dapat menceritakan semuanya ….”


Dengan muram Lusia membimbing Gwen sepanjang jalan dan melewati pintu cafe yang lokasinya tidak jauh dari hotel tersebut. “Nah,” katanya begitu sudah duduk di meja sudut ruangan. “Siapa wanita itu? Kau mengenalnya?”


“Aku tidak tahu,” bisik Gwen goyah.


“Astaga …” Ia menggelengakan kepala tak percaya. “Katamu dia akan pulang malam ini?” tanyanya sambil mengernyit. “Lantas, mengapa dia sudah tiba di Indonesia siang ini bersama seorang wanita lain? Apa yang mereka lakukan di hotel itu?” serunya. “ini benar-benar gila, Gwen.”

__ADS_1


“Aku tidak tahu, Lus …” seru Gwen sambil menahan terbitnya air mata.


Lusia menghela napas sebelum ia memberikan sebotol air mineral yang sudah dipesannya. Sekarang, ia terlalu khawatir dengan keadaan sahabatnya. “Kau membutuhkannya. Ini minumlah.”


Nyaris putus asa, Gwen menenggaknya hingga tandas.


“Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?” Lusia bertanya dengan tenang.


Gwen mengatupkan bibirnya, tetapi dia memejamkan mata. Ia sebenarnya tidak ingin melakukannya ketika ekspresi Kayden tepat sebelum dia dicium oleh seorang wanita asing muncul dalam benaknya.


Ekpresinya tersiksa. Terguncang frustrasi penuh amarah, tak berdaya, dan tidak berguna sehingga mematahkan hati Gwen. “Oh, Tuhan … Tolong aku!” batinnya.


“Apa kau akan meninggalkannya?” pertanyaan itu lolos dari bibir Lusia sebab Gwen tak kunjung menjawab.


“Meninggalkannya?” Kepanikan melandan Gwen. Kepanikan buruk yang memenuhi dirinya dengan rasa ngeri memualkan yang membekukan dagingnya. “Aku tidak bisa berpikir sekarang, Lusia,” lirihnya, menekankan jemarinya yang gemetar ke matanya yang perih. “Aku butuh waktu untuk—”


“Yang kau butuhkan, Gwen—” Lusia menyelanya tidak sabar. “adalah melepas penutup mata sialanmu! Bukankah sudah cukup buruk kau terus memakainya di sekitar Rainer dulu? Dan sekarang kau melakukan hal yang sama dengan saudaranya yang tidak tahu terima kasih?”


Kepala Gwen tersentak. “Ap-apa maksudmu?” Ia terkesiap dalam ledakan amarah.


Lusia mengalihkan pandangan, matanya berkilat oleh rasa muak getir yang benar-benar mengguncang Gwen sampai ke intinya. “Rainer menjadikanmu boneka mainannya sejak awal,” katanya dibalik gigi terkatup rapat. “Semua orang bisa melihatnya—melihat senyum menawan dan sikap santainya itu hanya sandiwara. Tapi kau …” jedanya untuk menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara kasar. “kau termakan bujuk rayuannya dan jatuh cinta seperti orang bodoh, kemudian benar-benar terluka karenanya! Sekarang, kau melakukan hal yang sama dengan saudaranya! Jadi, bantulah dirimu sendiri, Gwen,” Lusia mengakhiri dengan suara serak. “keluarlah dari semua itu sebelum Kim bersaudara terkutuk itu benar-benar menghancurkanmu.”

__ADS_1


“Terlambat, Lusia …” kata Gwen muram. Mereka sudah menghancurkanku.


__ADS_2