
Lusia kembali menghela napas lelah sebelum berkata, “Dengar, Gwen. Tidak ada kata terlambat jika kau tegas bertanya pada suamimu apabila dia sudah tiba di rumah nanti. Jangan terbujuk rayuannya dan berpikirlah secara jernih sebelum kau melakukan hal bodoh sehingga menjerumuskan dirimu lebih dalam lagi.”
“Ya Tuhan …” Gwen berdiri, tidak mampu menghadapi perkataan Lusia. “Aku harus pergi,” gumamnya gemetar.
“Tidak sekarang, Gwen!” Lusia meraih tangan Gwen dan menghentikannya. Matanya memancarkan penyesalan karena tahu dia baru saja menghantam Gwen telak. “Maaf aku bicara seperti tadi, kumohon …” pintanya sungguh-sungguh. “Duduklah selagi kita membahas ini. Kondisimu tidak memungkinkan untuk pergi ke mana pun, Gwen.”
Benar yang dikatakan Lusia, pikir Gwen muram. Ia masih dalam kondisi tidak baik-baik saja saat membiarkan dirinya masuk ke rumah Kayden lebih dari empat puluh menit kemudian.
Seharusnya Gwen kembali berkerja setelah makan siang tadi bersama Lusia. Akan tetapi, dia tidak bisa. Apa gunanya bekerja ketika ia nyaris tidak bisa berpikir, nyaris tidak bisa berjalan, dan nyaris tidak dapat melakukan apapun dengan keceradasannya karena merasa sangat beku.
Tapi ia juga tidak ingin berada di rumah besar ini, Gwen menyadari sejak ia memasukinya. Tempat yang mulai terasa seperti rumah selama beberapa minggu terakhir yang menyenangkan, kini kembali menjadi tempat paling asing baginya.
Pada saat ia berdiri di sana di tengah segala kemewahan dinding-dinding yang dipoles, pikirannya beralih ke rumah lain. Rumah sebenarnya—tempat yang dibangun penuh kasih sayang dan tanpa kebohongan. Satu-satunya tempat yang ingin ia datangi ketika masalah yang menimpanya seperti saat ini.
***
Ketika bel pintu berbunyi nyaring sekitar pukul sembilan malam, Gwen benar-benar menantikannya. Menantikan penjelasan dari Kayden setelah sebelumnya wanita itu merasa perlu memaksakan diri bangkit dari kursi yang dia duduki—penuh kegelisahan serta keraguan.
Dengan mulut kering dan wajah tenang tapi pucat, Gwen susah payah meninggalkan ruangan tersebut, lalu meyusuri koridor menuju pintu depan. Ia bisa melihat sosok tinggi Kayden melalui pintu kaca patri, merasakan kemarahan pria itu seolah menembus pintu ketika dia menekan bel pintu dengan tidak sabar. Gwen sendiri menyeka tangannya yang gemetar ke sisi celana jeans sobek navinya.
Hampir dua bulan lalu Gwen tidak pernah mengenakan celana itu sejak ia pergi meninggalkan rumah ini—rumah paman dan bibinya. Begitu pula atasan yang ia kenakan yaitu baju rajutan bewarna biru. Keduanya adalah bagian dari segelintir barang pribadinya yang sengaja bibinya tinggalkan di sini.
Sekarang, di rumah Kayden lah pakaiannya tertinggal. Faktanya, sore tadi ia mengendap-ngendap pergi dari rumah suaminya agar tidak diketahui asisten rumah tangga ataupun penjaga yang berada di rumah besar itu. Ia pergi tanpa membawa apa-apa karena tidak sanggup membayangkan masuk ke kamar yang selalu mereka gunakan.
Jadi, Gwen hanya pergi ke ruang kerja Kayden, menulis pesan yang dimasukkannya ke amplop, dan meninggalkan sepucuk surat itu setelah sebelumnya diletakkan di meja kerja suaminya dengan berisikan sebuah kalimat, “Aku tidak bisa terus-terusan hidup dalam kebohonganmu.”
Gwen tidak mengambil apapun dari rumah itu sebab dirinya perlu menyelesaikan ini dengan setidaknya harga dirinya tetap utuh. Sebuah cara yang bisa Gwen lakukan adalah dengan tidak memberitahukan bahwa ia memutuskan pergi hanya karena menangkap basah suaminya telah menghianatinya terlebih dulu.
Lalu, sekarang di sinilah Kayden berada dan sebelumnya Gwen sudah bisa menduganya. Pria itu datang untuk menghadapi segala tanya yang tidak bisa dijawabnya jika ia ingin menyembunyikan kebenaran.
“Kebenaran? Ya Tuhan …” Gwen mengerang dalam hati saat kebenaran sialan itu menghantam dirinya bagaikan gelombang penderitaan. “Kau tolol, Gwen …” batinnya yang merutuki diri sendiri dengan muram ketika jemarinya yang gemetar berusaha memutar kunci dan perlahan membuka pintu.
__ADS_1
Tiba-tiba hatinya mendesir, kekalutan emosi menyakitkan melilitnya seperti yang selalu terjadi sejak pertama ia menatap pria ini.
Kayden berdiri di depan Gwen. Ia mengenakan pakaian yang sama saat Gwen melihatnya bersama seorang wanita asing di hotel. Setelan jas lengkap berwarna abu-abu dengan kemeja putih cerah di dalamnya dan dasi biru bergaris yang sama. Hanya saja dasinya dilonggarkan pada lehernya yang tegang serta beberapa kancing atas kemejanya telah dibuka.
Wajah Kayden tampak merah padam dengan manik hitamnya yang menyorot tajam saat mengamati wajah pucat Gwen. Ia mencari tanda-tanda bahwa semua ini hanyalah semacam lelucon sangat buruk.
Namun, sayangnya ini bukan lelucon. Kayden tampak menerima kenyataan tersebut. “Boleh aku masuk?” tanyanya datar.
Dengan bulu mata panjangnya menggeletar turun untuk menutupi matanya yang terlalu mudah dibaca, Gwen menepi, mengizinkan pria itu masuk tanpa suara.
Lantas, Kayden pun masuk sehingga membuat jantung Gwen berhenti berdetak ketika suaminya tersebut berhenti tepat di sampingnya. Jemari Gwen mencengkram gagang pintu erat-erat sampai memutih. Sesaat, mereka terus berdiri seperti itu, terkunci dalam lingkaran ketegangan yang sangat dahsyat.
Menit kemudian, tangan Kayden terulur hingga membuat Gwen menegang kaku dalam penolakan tanpa suara karena mengira pria itu hendak menyentuhnya.
Akan tetapi, Kayden dengan hati-hati meraih gagang pintu dari cengkraman jemari Gwen, kemudian menutupnya pelan-pelan sebelum melangkah ke ruang tengah. Sementara Gwen ditinggalkan berdiri di sana, gemetar serta terguncang. Wanita itu perlu menenangkan diri beberapa saat lagi sebelum memiliki keberanian untuk pergi bergabung bersama Kayden.
***
Kayden berdiri di tengah ruangan, jasnya disibak ke belakang, tangannya yang terkepal ditumpukan di pinggul dalam posesif agresif.
Namun, Gwen tidak bodoh. Ia bisa melihat Kayden yang menahan amarahnya. “Sudah kubilang dalam surat itu,” katanya. Ia menunduk untuk mengalihkan pandangan dari suami tampannya. Sungguh terlalu menyakitkan apabila memandang wajah tampannya yang sempat Gwen bayangkan sebagai miliknya seutuhnya. Seketika ia menyadari hal tersebut adalah kesalahan terbesarnya.
“Maksudmu hidup dalam kebohongan?” Apakah itu yang kau pikirkan sekarang?”
“Ya,” jawab Gwen sejujurnya, sesederhana itu. Ia bahkan tidak perlu panjang lebar menjelaskannya.
Tapi ia juga tidak bisa berdiri terus di sini. Sekelebat ingatan tiba-tiba muncul saat Kayden bersama wanita lain. Gwen berharap tidak pernah melihat kebersamaan mereka berdua ketika berada di hotel tadi siang. Ia sungguh membencinya dan rasanya sangat menyakitkan sampai-sampai Gwen merasa harus melakukan sesuatu untuk mengenyahkan ingatan itu.
“Jadi kau meninggalkanku, begitu saja,” Kayden mendesak ke dalam keheningan yang pekat. “Tanpa membicarakan terlebih dulu padaku. Tanpa sedikit pun petunjuk untukku mengapa kau bersikap seperti ini?” cercanya. “Kemudian kau memutuskan sepihak bahwa kita telah hidup dalam kebohongan dan dengan tenang," jedanya. "kau akan ke luar dari hidupku. Itu kah yang kau inginkan, Gwen?”
***
__ADS_1
Hello, Readers....😘
Gimana kabar kalian?
Dhi harap kabar kalian sehat selalu, ya ... Aamiin.
Masih menikmati cerita Menyentuh Hatimu, kan? 😊
Dhi berharap, masih tetep enjoy dong ... 😉
Oiya, Guys. Sekedar info, Dhi harus segera menyelesaikan cerita ini. Jadi kisahnya si Kay & Gwen tinggal beberapa bab lagi. Maepkan daku ya, Dear ... 😭🙏
Tapi tenang. Jangan khawatir 😃
Ada cerita menarik lainnya yang akan bikin kalian gemmesss karena emosi naik turun sama baper juga.
Terus, terus, kapan dong Dhi loncingnya tuh ceritee?? Akuh penasaran beungetz 😁
Nah ... infonya ntar dikasih tahu di Instagram Dhi, yaa 😁
di Follow aja yuk IG nya : dian.dhi2020
atau mau di intip juga boleh. Syuka-syuka kalian, Readers kesayangan akoh...😘
Pak Satpam jaga keamanan,
Sambil lalu makan jajan.
Terima kasih Dhi ucapkan,
Kurang lebihnya tolong maafkan.
__ADS_1
😊🙏
Stay Healthy and Take Care of Yourself.