Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Bekerja Bersama


__ADS_3

Sebenarnya, tidak ada yang menyeramkan tentang hal itu. Malahan rasa ingin tahu Gwen terpicu tentang bagaimana luka tersebut bisa sampai di sana, menunjukkan bahwa Kayden tidak selalu mengandalkan kekuatan mentalnya seperti yang dilakukan belakangan ini. Mungkin saja di masa lalu dia juga bersedia sedikit menggunakan kekuatan fisik.


Tetapi sebaliknya, Rainer mustahil disebut pria berkekuatan fisik. Bentuk wajahnya yang sempurna nyaris tak ada bekas luka apapun, ditambah dengan tubuhnya yang ramping tanpa otot yang merusak garis pakaiannya. Sedangkan pakaian Kayden—meski mahal dan dibuat khusus, tidak dapat menyembunyikan bentangan otot keras yang membentuk sosoknya yang lebih kekar.


Kakak beradik itu memang hampir sama tinggi. Akan tetapi, ketika mereka berdiri berdampingan, Kayden secara fisik mengalahkan Rainer dalam segala hal—dengan bahunya yang lebih lebar, dada yang lebih bidang, dan sudut-sudut pada perutnya yang menyempit ke pinggul ramping dan kencang.


Sedang garis tubuh Rainer sendiri lebih halus dan tubuhnya yang lebih ramping, sama sekali tidak memiliki aura kekuatan maskulin seperti yang dipancarkan Kayden. Bahkan rambut mereka berdua pun berbeda. Rambut terang Rainer yang halus dan sesuai dengan jati dirinya, sama seperti rambut Kayden yang gelap, tebal, dan sedikit bergelombang terasa cocok untuknya.


Rainer memang banyak tersenyum, berbeda dengan Kayden hingga Gwen bisa menghitung dengan jari berapa kali ia melihat suaminya tersenyum, dan nyaris tak pernah melakukan candaan sama sekali. Rainer yang dapat mencairkan suasana dengan candaan konyolnya entah situasi itu pantas atau tidak, aura maskulinnya tetap saja tidak terpancar.


Bahkan, Gwen tiba-tiba menyadari bahwa Rainer memiliki kebiasaan buruk menertawakan kemalangan orang lain, seperti saat pria itu menertawakan ketidak nyamanan David Leonard bagian kepala HRD, gara-gara diperintahkan mencari Gwen untuk meminta maaf.


Pemikiran Rainer kurang dewasa karena ia lebih muda lima tahun dari pada Kayden, Gwen mengingatkan diri sendiri. Oleh sebab itu, terkadang Rainer memandang kehidupan adalah hanya untuk bersenang-senang belaka. Dan karena ia lebih muda, mungkin Gwen tidak adil karena membandingkannya dengan sang kakak yang jauh lebih cerdas dan lebih bijaksana.


Gwen seketika mengernyit, mendapati dirinya membentur dinding kokoh yang menghalangi pemikirannya tentang Kayden. Ia penasaran dan frustrasi karena tidak menemukan jawaban, hingga suara berat seseorang menghentikan lamunannya.


“Gwen, bisakah kau membantuku?”


Gwen mengerjap, kembali memfokuskan pandangan matanya dan menemukan Kayden menyipit mengamatinya.


“Oh, ya,” Gwen menjawab tidak yakin. “Apa yang bisa kubantu?”


“Bantu aku mencatat, sementara aku membaca berkas-berkas ini.” Kayden mengibaskan setumpuk kertas padanya. Senyum anehnya di sudut bibirnya nyaris menyiratkan permohonan masam.


Gwen menghela napas sebelum dia berdiri dengan gugup. Lantas, ia menjawab, “Oke. Aku akan membantumu.”


“Bagus. Terima kasih.” Kayden menjatuhkan kertas-kertas itu, meraih ke bawah dan membuka laci meja, mengeluarkan notes serta beberapa pensil tajam, lalu menyodorkannya. “Tarik kursinya, dan ayo kita mulai,” perintahnya, melambai ke kursi bersandaran tegak di sudut kanan kursinya sendiri.


Gwen melakukan apa yang Kayden perintah. Dengan gugup, ia berpindah kursi lalu duduk di sana, mengambil notes dan pensil. Kayden nyaris tak melirik karena perhatiannya tertuju pada berkas-berkas di hadapannya.

__ADS_1


Keheningan mulai melanda beberapa menit, saat Kayden mengumpulkan pikiran dan Gwen harus mencegah dirinya menggigit ujung pensil dengan gelisah. Setelahnya, Kayden pun memulai, mendiktekan komentar dalam nada yang jelas dan tepat sehingga Gwen tidak mengalami kesulitan.


Bermenit-menit kemudian, kegugupan yang sempat dialami wanita itu terasa hilang seketika, tersapu kecepatan Kayden menangani informasi. Setelah mencatat, Gwen tahu pria itu sedang membaca laporan penjualan, dan ia sangat terkesan dengan cara dingin serta kecepatannya berpikir saat Kayden mengkritik laporan tersebut, mengajukan pertanyaan serta membuat pernyataan tegas yang akan membuat orang begitu malang menyusun laporan menggeliat di kursi.


Meskipun pengalamannya masih sedikit, tetapi ada satu hal yang Gwen yakini bahwa semua itu adalah laporan yang seharusnya sudah benar-benar bebas dari pertanyaan dan komentar ketika mendarat di meja kebesaran milik Kayden Kim.


Tak berapa lama, tiba-tiba pintu terdengar diketuk dari luar, dan ternyata Leticia muncul membawa nampan dua cangkir cappucino. Dia ternyata terdiam sejenak, sorot keterkejutannya terlihat dimatanya yang indah ketika menyadari apa yang terjadi di ruangan itu.


“Taruh saja minuman itu di mejaku, Leticia,” perintah Kayden penuh penegasan. “Dan kau boleh ke luar dari ruanganku. Terima kasih.”


“Ba-baik, Mr. Kim,” Leticia menjawab sedikit gugup karena sorot mata bosnya yang menajam kepadanya, mengisyaratkan bahwa ia telah lancang mengganggu dan harus segera pergi dari ruangan tersebut secepat mungkin.


Saat Leticia meletakkan dua cangkir cappuccino di meja yang diperintahkan bosnya, Gwen menoleh ke arahnya, kemudian tersenyum tipis kepada wanita asia itu sebelum ia berkata, “Leticia, terima kasih.”


Leticia membalas senyuman istri bosnya. Ia tahu, senyuman itu sangat ramah dan hangat. “Sama-sama, Mrs. Kim. Saya ke luar dulu,” jawabnya, kemudian diangguki oleh Gwen sembari sedikit menarik kedua sudut bibirnya ke samping.


Setelah dipastikan Leticia ke luar dari ruangan Kayden dan menutup pintu, Kayden langsung melanjutkan pekerjaannya bersama Gwen yang sempat tertunda. Kayden kembali berkomentar pedas yang dilontarkannya ketika membahas laporan tersebut, sehingga membuat Gwen semakin menghargainya sambil terus mencatat. Hal itu terus berlangsung halaman demi halaman pertanyaan dan pernyataan dari Kayden hingga membuat Gwen sangat tenggelam sampai-sampai ia terlonjak saat Kayden berbicara langsung kepadanya.


Gwen menengadah, manik cokelat kehitamannya tampak begitu hangat oleh cahaya yang sudah berhari-hari lenyap dari sana.


“Sudah,” jawabnya, lalu tersenyum tipis mendengar nada terkejut senang dalam suaranya. “Aku sebenarnya terlatih untuk urusan catat mencatat.” Gwen menjelaskannya dengan malu-malu. “Tapi ….”


Kayden mengangkat alis kirinya. “Tapi apa?”


Gwen sejenak menghela napas sebelum ia berkata, “Tapi sejak aku bergabung dengan perusahaanmu, aku jarang mendapat kesempatan untuk menggunakannya. Ya … aku tahu posisiku,” lanjutnya muram. “Aku hanya sekertaris junior di sana. Maka dari itu seniorku menyuruhku bekerja untuk para marketingmu, karena mereka cenderung mencatat laporan hasil penjualan mereka ke perekam mini kemudian menyerahkan kasetnya untuk aku tulis.” Ia sedikit mengakat bahu. “Tadinya kusangka kemampuanku sudah lenyap.”


Sebenarnya Gwen mengingat dalam hati, kesempatannya menggunakan keterampilannya itu pada saat bekerja bersama Rainer. Namun, sungguh disayangkan ketika pria tersebut begitu mudah dan terlalu santai sampai-sampai semuanya sama sekali tidak menguji kemampuan Gwen. Tidak seperti sekarang saat bersama Kayden yang terlampau serius saat membenamkan diri dalam pekerjaannya.


“Gwen?”

__ADS_1


Wanita itu mengerjap, memusatkan pikiran kembali ke arah Kayden yang duduk di sebelahnya.


Kayden lantas menyipit mengawasinya dan Gwen menyadari bahwa sekali lagi, pria itu tahu setiap kali nama Rainer muncul dikepalanya hingga Kayden langsung bereaksi—menariknya ke luar dari lamunan sebelum terjerumus semakin dalam.


“Apakah menurutmu …” Kayden melanjutkan begitu Gwen memperhatikan, “kau bisa mengartikan dan menyalin itu untukku jika aku menemukan kalimat yang sedikit mengusikku?”


“Tentu saja,” kata Gwen bersemangat. Ia merasa lebih nyaman dengan hubungan bos-sekertaris junior ini dari pada hubungan mereka yang lain dan terlalu intim.


***


Hai, Readers Kesayangan ... 😊


Ceritanya bakal terus berlanjut kok..


Jadi stay dan tungguin terus update dari thor yaa...😁


Author juga mohon maap tidak bisa up banyak karena ada pekerjaan di real life yang harus dilakoni.


Tapi ....


Komentar penyemangat dan like yang bertambah bikin Author selalu berusaha keras agar kisahnya di upload.


Tentu saja akan update setelah lolos review dari pihak manga/noveltoon.


Maaf Author nyinyir nih 😂


Terimakasih semua udah baca karya Thor ...


Salam hangat selalu 😊

__ADS_1


Dian Dhi


__ADS_2