Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Kebenaran


__ADS_3

“Astaga …!” Gwen tersedak gundah, pipinya memanas oleh rasa malu saat jemarinya berusaha menarik selimut untuk menutupinya.


Akan tetapi, tangan Kayden ada di sana lebih dulu—tidak membantu, melainkan mengklaim bahwa seluruh tubuh Gwen adalah miliknya. Tangannya yang masih menggenggam ponsel kembali menarik pinggang ramping istrinya dengan lengannya, menyusupkan seluruh jemari kanannya di balik selimut, kemudian mengusap lembut punggung Gwen yang hampir telanjang.


Dan tiba-tiba suasana penuh amarah berubah menjadi jauh lebih berbahaya ketika Gwen berdiri terpaku, merasakan sentuhan jemari Kayden di punggungnnya yang mengakibatkan desiran hebat di sekujur tubuhnya. Wanita itu merasakan sebuah gairah membara menenggelamkan kemampuannya untuk memprotes.


Plin plan, istilah itu seakan mengejeknya. Plin plan dalam perasaannya karena ia seharusnya menyangkal sentuhan suaminya.


Tapi tidak, ia sungguh tidak menolaknya saat Kayden menariknya lebih mendekat. Mata Gwen terangkat momohon kepadanya, lalu terpaku begitu melihat gairah membakar yang sama di mata suaminya itu.


“Kumohon jangan, Kay …” kata Gwen gemetar.


Namun, Kayden menggeleng. “Tubuhmu menginginkanku, Gwen,” katanya parau.


Bibir Gwen terkatup rapat. Ia menyadari bahwa pernyataan tersebut sepenuhnya benar. Air matanya seketika merebak tatkala tubuhnya menginginkan setiap sentuhan yang diberikan Kayden.


“Apakah kau tidak mengerti?” tukas Gwen. “Aku merasa seolah mengkhianati diriku sendiri!”


“Karena kau tidak mencintaiku?”


“Aku masih mencoba, Kay. Aku masih mencoba …” balasnya serak. “Tapi apa artinya jika kau ternyata tidak mencintaiku—”


“Cukup, Gwen. Hentikan!” perintah Kayden. “Mari kita selesaikan kesalah pahaman ini. Dan mari kira luruskan satu hal,” geramnya.


Gwen mengernyit saat tangan kiri Kayden terangkat, menekan tombol panggilan ke luar pada ponselnya. Lantas, beberapa detik kemudian ia menghidupkan pengeras suara ketika nada panggilan tersambung pada seseorang yang ditelepon mengangkatnya. Sedang tangan kanannya beralih memeluk pinggang Gwen sangat posesif.


“Ya, Brother,” jawab seseorang di seberang telepon.


“Evan, katakan pada istriku apa yang kita bicarakan tadi!”

__ADS_1


“What?” seru Evan, nadanya terdengar bingung karena perintah Kayden.


Gwen mengernyit sambil membatin, “Apa hubungannya semua ini dengan Evan?”


Seolah Kayden dapat membaca apa yang dipikirkan istrinya, ia berkata, “Dengar, Gwen. Tadi pagi sebelum kau bangun, Evan meneleponku untuk membicarakan kerja sama kita. Selanjutnya, ia menanyakan hubungan kita, Rainer dan Valerie,” ujarnya singkat.


Gwen terdiam, tetapi kerutan dalam di dahinya menyiratkan bahwa ia belum puas dengan penjelasan Kayden sehingga pria itu menghela napas panjang.


“Hei, tunggu dulu,” celetuk Evan. “Apa kalian bertengkar?”


“Oh … ayolah, Evan,” sahut Kayden tak sabaran. “Gara-gara pertanyaan konyolmu itu, Gwen salah paham padaku karena ia mendengarkan bukan yang sebenarnya.” Ia melirik Gwen, mendapatinya sedang menyorot tajam pada dirinya. “Gwen mengira aku mencintai Valerie,” tambahnya muram. “Dan terjadilah pertengkaran di antara kami.”


Evan terkekeh sebelum ia mulai berbicara, “Dan aku harus menjelaskan kepada Gwen, apa yang kita bicarakan tadi supaya istrimu percaya dan tidak lagi marah kepadamu? Begitukah, maksudmu?” Detik berikutnya, ia tertawa mengejek. “Rupanya kau suami takut istri, Kayden Kim.”


“Tertawalah sesuka hatimu hingga kau puas, Evan Sandres!” Kayden sudah mulai geram. “Setelah ini akan kupastikan kau kehilangan semua sahammu. Tak hanya itu,” jedanya. “aku akan membatalkan kerja sama kita secepatnya.”


Tanpa berbasa-basi akhirnya Evan menjelaskan kepada Gwen dengan tegas dan sederhana, bahwa Kayden sangat mencintainya. Jangan meragukan cinta dan kesetiaannya karena ia hanya mencintai istrinya seorang, bukan mencinta wanita lain apalagi Valerie. Begitulah yang dikatakan Evan dari seberang telepon sebelum Kayden memutuskan sambungan teleponnya terlebih dulu, sebab Evan kembali membahas masalah pekerjaan. Menurut Kayden, dalam situasi saat ini tidaklah pas membahas hal tersebut. Ia lebih mengutamakan untuk meyakinkan Gwen agar kesalah pahaman di antara mereka segera selesai dan tidak berlarut-larut.


Wajah Gwen kembali tenang, tidak setegang berpuluh-puluh menit yang lalu. Saat Kayden melemparkan ponselnya di atas kursi yang jaraknya tak jauh dari mereka berdiri, Gwen menelan ludah, merasakan kulit hangat dada bidang suaminya tiba-tiba menempel di dadanya.


Kayden mengulas senyum puas, degupan jantung sang istri yang berpacu cepat dapat dirasakannya. Sebuah gairah juga terpancar jelas di manik cokelat kehitamannya. “Masih meragukanku?”


Gwen terdiam. Namun, beberapa detik setelahnya, Gwen menggeleng ketika jemari panjang Kayden menyentuh pahanya, lalu secara perlahan jemari itu naik mengusap lembut perutnya, seolah menuntutnya segera memberi jawaban. Dan sebelum Gwen sempat berpikir untuk menghentikannya, Kayden mengulurkan tangannya untuk melucuti selimut yang membelit tubuh istrinya.


Tanpa busana, gemetar, serta bergairah, Gwen menatap Kayden dengan memohon ketika suaminya mengambil langkah terakhir dan semakin merapatkan tubuh mereka.


“Kay—” Gwen berhasil mengucapkan permohonan terakhir, sebelum pria itu memagut bibirnya.


“Tidak,” gumam Kayden. “Kau juga menginginkan ini sepertiku.”

__ADS_1


“Tapi rasanya salah!” Gwen mengerang.


“Di mana letak kesalahannya jika kau dan aku saling menginginkan setiap sentuhan dari kita satu sama lain?” tanya Kayden.


Mata Gwen berkaca-kaca oleh air mata kepedihan—kepedihan Kayden, serta kepedihannya sendiri. Sekali lagi, ia harus memantapkan hatinya bahwa penjelasan Evan sepenuhnya benar. Oleh sebab itu, ia pun bertanya kepada suaminya agar keraguannya dapat terpatahkan, “Kay, apakah kau membayangkan wanita lain tadi malam, dan bukan aku?”


“Tidak!” Kayden mengatakannya dengan tegas, sorot matanya yang gelap tak pernah goyah dari tatapan tak berdaya Gwen. “Aku bisa sangat jujur mengatakan,” dia melanjutkan dengan parau, “wanita lain bahkan Valerie sekalipun tidak pernah memasuki pikiranku semalam. Aku tidak menginginkan siapapun. Aku hanya menginginkanmu, Gwen!”


“Tapi—”


“Tidak,” kata Kayden lagi. “Percayalah padaku, Gwen.” Dan dia memagut apapun yang Gwen coba katakan dengan ciuman mendesak.


Ranjang telah menunggu. Kayden membaringkannya di sana, lalu berlutut, selagi dia menanggalkan handuknya.


Jantung Gwen berdetak keras ketika ia berbaring memandangi suaminya. Kayden begitu mengagumkan untuk dilihat—tampan, berotot dan seksi.


Indra-indra Gwen tergugah, pusaran gairah yang lambat, dalam, serta penuh nafsu yang berputar dari rongga perut, meluapkan hawa panas ke kulitnya ketika ujung-ujung saraf sensitif berkumpul di permukaan kulit, mengantisipasi belaian pria itu.


Kayden begitu bergairah hingga Gwen menyadarinya tanpa daya. Tubuhnya berdenyut-denyut lembut, memohon sentuhan suami tampannya.


Karena tak dapat menahan kebutuhan tersebut, Gwen mengulurkan tangan, meluncurkannya ke dada bidang Kayden, merasakan kehangatan, kehidupan, serta kekuatan ketika tangannya perlahan naik, berhenti di atas bahunya yang kokoh. Lalu, sambil mengangkat matanya ke arah Kayden, Gwen menatapnya dengan kepasrahan membisu.


Kayden menerimanya dengan geraman penuh kemenangan yang memutuskan nasib Gwen. Ia melahapnya dan tidak ada cara lain untuk menggambarkannya.


“Jangan mengulangi keputusan bodoh seperti tadi, Gwen,” ujar Kayden lunglai setelah percintaan yang melelahkan tulang. Pria itu masih memeluknya, memerangkap Gwen dalam kekuatan fisik dan sensualitasnya. “Saat hatimu mulai terusik oleh sesuatu, ketahuilah kebenarannya terlebih dahulu sebelum kau memutuskannya.”


Gwen terdiam, mencerna baik-baik perkataan Kayden di akhir kalimat.


“Aku mencintaimu, Gwen,” tegas Kayden. “Sangat mencintaimu,” tambahnya.

__ADS_1


__ADS_2