Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Kebersamaan


__ADS_3

Empat hari kemudian, setelah Gwen membersihkan tubuhnya, rambutnya dikuncir ekor kuda, dan mengenakan dress biru muda polos tanpa lengan, ia duduk di meja makan sembari mengunyah roti mentega hangat. Sambil menunggu Kayden mandi dan berpakaian, ia menikmati sarapannya dengan tenang.


Sarapan, begitu Kayden menyebutnya. Lebih mirip perbaikan gizi, pikir Gwen, meringis sambil menelan roti menteganya. Dirasakannya pipinya memanas saat ia duduk di sana, nyaris tidak percaya dengan perubahan dirinya, atau perubahan yang dipaksakan padanya, Gwen mengoreksi pikirannya sendiri.


Tiba-tiba tanpa sadar ia menyeringai tipis dikala mengingat hari-harinya dipenuhi oleh perhatian Kayden. Kecupan di dahi ataupun di bibirnya selalu ia dapatkan setiap waktu. Pria itu juga selalu mengajaknya mengobrol santai disela-sela pekerjaannya. Sesekali mereka juga bercinta saat malam mulai tiba.


Namun, Gwen masih bisa merasakan Kayden jauh di dalam dirinya. Ia mengakui malu-malu dalam batinnya sembari meletakkan sisa roti menteganya di atas meja makan, kemudian menandaskan segelas jus jeruknya sebelum dia berdiri, dan melangkahkan kakinya untuk memandangi bangunan tertinggi yang meruncing di bagian atasnya.


Sekelebat bayangan percintaan mereka beberapa hari ini seketika muncul dipikiran Gwen. Sekujur tubuhnya masih dapat merasakan kenikmatan sentuhannya. Bibirnya pun berdenyut-denyut mendambakan kecupan dari bibir suaminya. Rasanya sungguh luar biasa, hangat dan memusingkan.


Seiringnya waktu, Gwen dapat melenyapkan perasaannya terhadap Rainer. Tentu hal itu menyadarkan Gwen dengan keterkejutannya yang membuatnya ngeri. Ia nyaris tak dapat mengingat wajah Rainer sekarang, apalagi cinta yang begitu mendalam setiap kali Gwen memikirkan pria itu.


Lantas, Gwen menghela napas tidak nyaman kerena ia sama sekali tidak paham soal cinta. Jika harus menggambarkan emosi tersebut, maka Kayden lah sekarang yang bisa disebutnya.


Seolah mendapat isyarat, pria itu tiba-tiba datang, lalu memeluk pinggang ramping Gwen dan mengaitkan tangannya di perut Gwen. “Apa yang begitu menarik di luar sana?” tanya Kayden sambil menghirup dalam-dalam aroma wangi lavender yang menguar dari tubuh istrinya.


Gwen mengerjapkan matanya. “Lihat, gedung itu tampak tinggi dan uniknya bagian atasnya meruncing.”


“Itu adalah The Shard,” Kayden mengoreksinya dengan geli. “The Shard terdiri dari sembilan puluh lima lantai, dan juga menawarkan pemandangan sejauh empat puluh mil ke seluruh kota London,” jedanya. “Bangunan ini setinggi seribu enam belas kaki atau tiga ratus sepuluh meter. Dan menaranya sendiri dirancang oleh arsitek ternama yaitu Renzo piano.”


Kagum dengan wawasan Kayden yang ternyata lebih luas, Gwen mendengus mengejek dirinya sendiri. “Kau seperti perpustakaan berjalan mengetahui segalanya,” katanya, ketika ia berbalik dalam pelukan Kayden untuk menghadapnya. “Dan kau—Oh,” ia mengakhirinya dengan kesiap kecil.


“Apa?” tanya Kayden lembut, lalu tersenyum sebab melihat kebingungan di wajah Gwen.


Wanita itu seketika menahan napas saat melihat Kayden yang sangat berbeda dengan pria yang berjalan ke luar dari ruangan ini dua puluh menit yang lalu.


Setelah mandi dan mencukur kumis tipisnya hingga bersih, saat ini Kayden terlihat sangat tampan. Rambutnya yang masih basah ia sisir rapi ke belakang. Aroma wangi parfum mahal begitu maskulin, menguar di balik kemeja biru tanpa kerah yang kasual sekaligus berkelas. Bau itu begitu mengusik indra penciumannya sebab menimbulkan sesuatu yang mulai dikenalinya—berbahaya serta menggiurkan.

__ADS_1


“Kau kelihatan menarik,” kata Gwen malu-malu.


“Kau juga,” balas Kayden. “Sangat cantik dan juga menarik.”


Gwen tersipu mendengar pujian suaminya. Lantas, detik setelahnya Kayden menunduk kemudian menciumnya. Ciuman ini rasanya berbeda. Hangat, lambat, serta lembut. Lebih mirip ciuman mereka di lantai dansa malam itu.


Secara naluriah tangan Gwen terulur, menemukan tengkuk Kayden, berpegangan di sana untuk memperpanjang kesenangan. Kayden sendiri mengaitkan tangan di punggung Gwen, lalu dengan lembut menariknya lebih dekat sehingga momen indah ini akan Gwen hargai selamanya.


Beberapa detik setelahnya, Kayden memutuskan ciuman itu. Akan tetapi, detik berikutnya bibirnya langsung kembali mencium Gwen lagi dengan gesture yang anehnya tampaknya pedih.


Ketika Gwen berani menatapnya, ia menemukan manik hitam Kayden menggelap oleh suasana hati yang tidak bisa wanita itu jelaskan.


“Kau sangat istimewa, Gwen,” kata Kayden serak. “Kau tahu itu?”


Kau juga, begitu Gwen ingin berkata, tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengutarakannya. Jadi, sebagai gantinya ia berjinjit untuk membalas ciuman Kayden, dan wanita itu tersipu malu saat menjauh.


***


Malam pun tiba. Kayden memutuskan mengajak Gwen untuk makan malam di salah satu restoran daerah Notting Hill, London. Sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi kayu, wanita itu langsung mengernyit karena suasana restoran tersebut jauh dari kata mewah dan glamor.


“Tumben kau mengajakku makan di restoran seperti ini?” Gwen bertanya sebab sedari tadi ia sudah penasaran.


Kayden terkekeh. “Seperti ini bagaimana maksudmu?”


“Restoran ini tidak mewah, Kay,” Gwen menjawabnya dengan santai.


“Kau tidak suka?” tanya Kayden lembut. “Apa kita cari restoran yang lain saja?”

__ADS_1


“Jangan,” jawab Gwen cepat. “Aku lebih suka restoran sederhana ini dari pada restoran mewah. Biasanya, restoran seperti ini makanan yang di sajikan malah sangat lezat.”


“Tahu dari mana jika makanan di sini sangat lezat?”


Gwen tersenyum lebar sebelum ia menyahut, “Dari acara kuliner dunia yang sering kulihat di TV.”


Kayden seketika tertawa. Bukan menertawakan dalam artian mengejek ataupun merendahkannya. Melainkan, pria itu begitu takjub mendengar kejujuran dari bibir Gwen. Betapa polosnya istrinya itu sampai-sampai ia tak membalasnya untuk memprotes. Gwen sedikitpun tak tersinggung dengan tawa tersebut. Ia menyukainya karena menurutnya lebih baik seperti itu dari pada melihat Kayden yang bersikap pemaksa dengan wajahnya yang selalu tegang, tanpa ada seraut senyuman sedikitpun.


“Jika begitu, sekarang kau bisa menikmati makanan di sini secara langsung,” timpal Kayden, kemudian memanggil pelayan dan memesan makanan.


“Tentu saja,” jawab Gwen, diakhiri senyuman. “Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.”


Dan memang benar-benar lezat makanan yang di pesan Kayden, setelah sebelumnya seorang pelayan menyajikan menu andalan dari restoran tersebut. Sejenak, Gwen tampak tertegun pada saat mencicipi potongan steak daging berlumur saus jamur yang begitu khas, beda dari pada yang lainnya.


Sambil menyantap hidangan terenak itu, mereka berdua pun berbincang-bincang. Kayden membicarakan beberapa proyek yang sedang ia kerjakan bersama kawan-kawannya, dan Gwen berusaha terlihat mengimbanginya dengan perbincangan tentang bangunan yang nilainya fantastis.


Namun, disela-sela obrolan mereka, Gwen sangat tergoda mengamati setiap gerakan pria itu. Kayden sangat tampan sehingga terlalu disayangkan jika melepaskan pandangan darinya. Rahangnya yang kokoh, sangat cocok dengan bahu Kayden yang lebar dan tampak begitu kuat.


***


Hai, Reders ... 😊


Sampai di bab ini, apakah kalian masih penasaran sama kisah cinta Kayden Gwen selanjutnya??


Jika kalian penasaran, beri komentar, like, dan Vote kalian agar Author tambah semangat nulisnya. 😉


Thank you...😘

__ADS_1


__ADS_2