
Gwen mengira Kayden akan meninggalkannya saat itu, tetapi ternyata dia salah besar. Tiba-tiba saja Kayden berhenti sejenak, kemudian menoleh untuk melihat apa yang terjadi. Merasa bersalah, ia pun kembali dan meminta maaf kepada Gwen atas kecelakaan tersebut, dan bertanya kepada wanita itu apakah baik-baik saja.
Tabrakan itu membuat Gwen sesak napas, dan fakta bahwa ia langsung mengenalinya sebagai bos besar yang jarang dilihat orang selain di lantai eksekutif, hanya membuatnya semakin gugup. Gwen ingat saat itu dirinya langsung merona, tetapi ia langsung mengalihkan pandangan matanya dari sosok Kayden ketika pria itu membungkuk untuk membantu Gwen mengumpulkan berkas-berkas yang berserakan.
Kayden Kim tidak akan pernah lari dari tanggung jawabnya. Terbukti sangat jelas saat ia berjongkok sehingga celana panjang gelapnya mengetat di paha kokohnya untuk kembali membantu Gwen meraup kertas-kertas dan mengembalikannya ke map berkas yang berantakan.
Gwen lantas menggumam terimakasih saat Kayden menyerahkan berkasnya, dan pria itu mengangguk mengiyakan sebelum ia kembali menegakkan diri ke sosoknya yang menjulang tinggi dan menakutkan. Sebenarnya, pada dasarnya hanya itu yang dikenang Gwen.
Sejak saat itulah bola mata mereka berserobok. Hanya sedikit kenangan kecil ketika Gwen mendongak dan Kayden menunduk hingga sepasang manik hitam tajamnya seolah menembus tepat ke dalam diri wanita itu. Beberapa detik setelahnya, Kayden tersenyum tipis sambil mengangguk lagi dan berlalu meninggalkan Gwen berdiri di sana menatap kosong, sementara pria itu bergabung dengan relasinya yang menunggu tidak sabar.
Seharusnya pertemuan mereka berakhir di sana. Namun sayangnya, alam semesta tidak mengizinkannya. Seharian Kayden memikirkan wanita yang ditabraknya sehingga dirinya sulit berkonsentrasi melakukan pekerjaannya.
Gelenyar aneh menjalar hingga kerelung hatinya. Jantungnya berdegup kencang setiap ia memikirkan wanita itu. Apakah ada yang salah dengan dirinya? Atau jangan-jangan dia sudah membuat kesalahan dan menyakitnya? Atau … inikah rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama, mengingat seumur hidupnya dia tak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Pikirnya yang semakin berkecamuk.
Untuk mengatasi gejolak kebingungannya yang tidak menemukan jawaban, keesokan harinya Kayden memberanikan diri muncul di samping meja Gwen dan berdeham-deham tidak nyaman sehingga membuat Gwen terkejut.
“Aku yakin berutang permintaan maaf padamu,” kata Kayden dengan wajahnya yang tegang, seolah dia kesulitan meminta maaf. Tak hanya itu, berdekatan dengan wanita tersebut kerja jantungnya berdebar semakin kencang dan tangannya keringat dingin. Menurutnya, ia harus segera memutuskan sesuatu jika tak ingin memalukan dirinya lebih jauh lagi di hadapan wanita itu. “Lanjutkan lagi pekerjaanmu.” Tanpa menunggu jawaban dari Gwen, ia segera bergegas pergi dari hadapannya karena tidak tahu harus berkata apalagi. Dan yang terpenting adalah dirinya harus menetralkan kerja jantungnya yang sedari tadi seolah ingin mencuat dari tempatnya.
Gwen hanya mengerjap menatap punggung lebar nan kokoh milik Kayden yang mulai menghilang di balik tembok ruangannya. Ia pun bertanya-tanya dalam benaknya mengapa bos besar seperti pria tersebut repot-repot melakukan itu? Padahal Gwen hanya sekertaris junior Kayden di antara banyaknya sekertaris yang mengisi semua meja di pusat pengetikan yang luas ini.
Selang beberapa minggu kemudian, ketika Gwen dikirim untuk melakukan pekerjaan mendesak untuk Rainer, tak disangka terjadilah ketertarikan satu sama lain antara dirinya dengan adik bos besarnya itu. Rainer tiba-tiba mengungkit insiden kakaknya yang menabrak seorang wanita karena karyawan lainnya menerjang ke arahnya sehingga wanita itu terjebak. Rainer lalu tersenyum lebar menceritakan yang terjadi sesudahnya.
“Kayden sangat marah,” begitu kata Rainer. “Begitu menyuruh kami ke lantai atas, dia menyerang David bagian HRD.” Dari ekspresinya terlihat bahwa Rainer menganggap semua itu lucu. “Katanya, jika David tidak mampu menerapkan dasar-dasar kesopanan, untuk apa dia bekerja padanya? David yang mendengarkannya hanya diam menatapnya karena dia bingung. Dia bertanya-tanya apa yang telah dia lakukan sehingga ditegur sekeras itu oleh bos besar agung kita si Kayden Kim itu. Dan David yang malang diperintahkan untuk mencari tahu siapa dirimu, Gwen.”
Gwen mengernyit sebelum ia bertanya, “Untuk apa?”
“Ya … apalagi kalau bukan minta maaf padamu,” jawab Rainer santai.
__ADS_1
Gwen bergeming. Tetapi ia mengingat kejadian di mana Kayden Kim meminta maaf kepadanya.
“Kau tahu, Gwen? Dia memarahi David di depan kami semua. Jelas kami sangat terkejut dengan reaksi berlebihannya. Tindakan Kayden sangat konyol. Kami mengira kau dilarikan ke rumah sakit atau semacamnya. Ternyata kau bahkan tidak tergores sedikit pun, bukan?” Rainer bertanya dengan rasa ingin tahu.
Kenangan itulah yang sayangnya baru sekarang Gwen ketahui ketika berbaring di tempat tidur yang akan ia gunakan bersama Kayden malam ini, bahwa cara Rainer berbicara saat itu telah menempatkan pria tersebut di antara kawanan yang menerjang dan nyaris menginjak-injak dirinya. Gwen pun tidak menyadari itu sebelumnya.
Dan hanya Kayden yang saat itu sangat peduli untuk berhenti. Hanya Kayden lah yang memandangnya lebih dari pada sekedar ‘tindakan konyol’ seperti anggapan Rainer. Kayden lah dengan sikap seorang pria sejati meminta maaf kepadanya.
Berbanding terbalik dengan Rainer Kim. Sosoknya adalah beban berikutnya yang begitu menyesakkan dada Gwen. Rainer, pria Kim yang lebih muda, lebih ceria serta tidak terlalu menakutkan dan bukan lelaki rumit seperti kakak tirinya. Namun sekarang, Gwen sangat tahu bahwa Rainer Kim ternyata mempunyai pikiran lebih dangkal, lebih egois, dan lebih berkhianat kepadanya.
“Gwen!” Suara berat yang memanggil dari ruangan lain membuat matanya membelalak kaget sehingga membuyarkan lamunan wanita itu.
“Iya, aku datang!” jawab Gwen. Ia kemudian melompat turun dari tempat tidur, terhuyung oleh campuran kelelahan yang luar biasa serta kebingungan menyengsarakan tentang jalan takdir yang akan membawanya ke perjalanan hidupnya.
Gwen sejenak menunduk memandang ranjang, membayangkan dua kepala di bantal seputih salju, lalu dia bergidik menolak apapun yang menyelusup ke benaknya. “Tidak,” bisiknya pada diri sendiri.
***
Makanan mereka baru saja diantar begitu Gwen masuk ke ruangan makan. Suara Kayden terdengar tidak sabar ketika dia memerintahkan pelayan meninggalkan troli yang dipanaskan di samping meja makan sebelum menyuruhnya pergi.
Tertarik oleh harumnya aroma teh hijau, Gwen berjalan ke meja lalu duduk. Bola matanya hati-hati menghindari tatapan menusuk yang dibidikkan Kayden kepadanya.
Telepon genggam Kayden berdering ketika Gwen menuang secangkir teh hijau. Saat Kayden baru melintas ruangan, wanita itu menyadari ada meja kayu besar yang tidak ia perhatikan sebelumnya, dan bagian atasnya lenyap dalam gundukan tinggi berkas-berkas.
“Tidak heran jika dia tampak tak sabaran. Sementara aku santai-santai di kamar, Kayden sibuk bekerja keras,” batin Gwen muram.
Gwen lantas berdeham sebelum ia bertanya, “Kay, kau mau teh hijau juga?” Dengan suaranya yang terdengar santai walau kenyataannya ia setegang dawai piano, Gwen menawarkan karena tak tega melihat Kayden yang terlihat sangat sibuk. “Atau kau mandi dulu?”
__ADS_1
Kayden melirik arloji, kemudian menghela napas lelah. “Ya, aku mau teh hijau,” dia memutuskan. “Dua sendok gula.” Dan dia terlihat berusaha menenangkan ketegangan dari pundaknya saat bergabung dengan istrinya.
Kayden baru berjalan satu langkah ketika telepon genggamnya berdering lagi. Sambil menghela napas, dia menggeser layar telepon gengamnya untuk menerima panggilan telepon itu. “Jangan telepon hingga setengah jam lagi. Aku masih makan bersama istriku.” Dia memerintahkan siapapun yang ada di ujung sambungan, kemudian menaruh telepon genggamnya di meja makan. Terlihat jelas raut wajahnya tersiksa saat duduk di seberang Gwen.
“Apa semua baik-baik saja?” Gwen memberanikan diri bertanya sembari menyerahkan secangkir teh hijau kepada pria itu.
“Terimakasih,” kata Kayden, lalu ia tersenyum tipis saat menerima secangkir teh hijau tersebut. “Ya, semua baik-baik saja.” Ia lantas menyesap teh hijaunya dengan hati yang berbunga-bunga. Ini memang bukan kali pertama Gwen membuatkan minuman untuknya karena dulu wanita itu adalah sekertaris juniornya yang selalu menyiapkannya. Akan tetapi, sekertaris junior itu sekarang berubah status menjadi istrinya yang sah di mata Tuhan dan Negara. Perhatian kecil dari seorang wanita yang dicintai inilah yang selalu ditunggunya bertahun-tahun lamanya.
“Apakah kau selalu harus bekerja dengan kecepatan seperti itu?”
Kayden tersenyum kecut sebelum ia berkata, “Ini salah satu cobaan menjadi pengusaha besar.” Ia mengolok-olok diri sendiri.
“Kau kerja terus, tak pernah bersenang-senang?”
“Sesekali. Itu pun hanya berenang di rumah,” jawab Kayden dengan santai.
Gwen seketika membelalakkan matanya saat mendengar jawaban Kayden. “Kau sebut itu bersenang-senang?”
Kayden menyeringai ketika melihat ekspresi dan pertanyaan Gwen. "Kenapa? Aneh, ya?"
"Bu-bukan begitu ..." Gwen seketika salah tingkah. Sebenarnya ia tak bermaksud menyinggung perasaan suaminya. Dia sedikit terkejut, bagaimana bisa pria kaya seperti Kayden Kim yang terkenal dengan kecerdasannya terutama ketampanannya, tidak tahu cara bersenang-senang. Sungguh mustahil, pikirnya.
“Aku harus menghasilkan banyak uang, Gwen," sahut Kayen datar. "Kau tahu, kan? Ribuan karyawan bergantung padaku. Di belakang mereka ada keluarga yang harus dihidupi.”
“Iya … aku tahu tanggung jawabmu begitu besar. Tapi kau harus menyenangkan dirimu juga, bukan?”
“Bagaimana caranya untuk menyenangkan diri, Gwen?” tanya Kayden suram. “Sedangkan aku tidak tahu cara menyenangkan diriku sendiri.”
__ADS_1