Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Bertemu Dengannya


__ADS_3

“Aku siap,” kata Gwen kaku, berdiri di pintu ruang tamu dan melihat Kayden mengantongi ponselnya.


Tindakan itu membuat Gwen mengernyit, bertanya-tanya siapa yang tadi diajaknya bicara. Tapi jelas dari ekspresi Kayden yang muram, pria itu tidak akan memberi tahunya ketika dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, memastikan semuanya sudah aman untuk ditinggalkan.


Lantas, Kayden menghampirinya. Satu tangan memeluk pinggang Gwen sehingga wanita itu sontak terkejut. Sementara tangan lain Kayden memadamkan lampu.


“Lain kali kita kemari,” kata Kayden penuh arti. “tentu hanya untuk menyambut kepulangan paman dan bibimu.”


“Aku masih membencimu,” bisik Gwen saat Kayden menutup pintu depan di belakang mereka.


“Aku tahu,” Kayden tersenyum. “Menyebalkan, bukan? Membenci seseorang yang membuatmu terpikat?”


Gwen memutar bola matanya malas. Rasanya ia sangat enggan menyanggahnya, sebab wanita itu tahu bahwa dirinya akan kalah dalam urusan mendebat suaminya.


***


Perjalanan ke rumah Kayden dilalui dalam kesunyian suram dan tak seorang pun berusaha memecahkannya. Gwen tidak yakin alasannya, tetapi Kayden sangat tegang ketika mengemudikan mobilnya. Ketegangannya semakin menjadi saat mereka hampir sampai ke rumah besar Kim. Akibatnya, Gwen sendiri merasa tegang, seolah-olah harus melindungi diri dari kengerian tak kasat mata yang terpaksa dihadapinya.


Jika soal insting, Gwen harus mengakui instingnya bekerja sangat baik hari ini, batinnya ketika mobil Kayden berhenti di samping mobil lain yang diparkir di halaman depan rumah.


“Ada orang lain di sini,” kata Gwen sambil mengerutkan dahinya. “Tapi siapa?”

__ADS_1


Kayden mengatupkan bibirnya karena ia merasa tidak perlu menjawabnya. Wajah tampannya terlihat tegang saat dia turun dari mobil dan mengitarinya untuk membantu Gwen turun. Sambil terus mencengkram lengan Gwen, dia membuka pintu depan dan membimbing istrinya masuk, lalu menyusuri koridor indah ke pintu ruang duduk tempat dia berhenti sejenak seolah-olah untuk menenangkan diri.


Kemudian, Kayden mendorong pintu terbuka dan dengan muram mempersilakan Gwen masuk lebih dulu.


Pada saat Gwen melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam, pandangan matanya seketika terpaku pada pria yang berdiri menunggu di dalam ruangan. Seorang pria yang sangat dikenalnya dan sempat menempatkan namanya bersemayam dihatinya. Dan pria itu adalah Rainer. Gwen langsung mengernyit karena ia menyadari mengapa Kayden berhenti sejenak tadi.


Rainer Kim—adik tiri Kayden Kim terlihat kaku dan tidak nyaman. Ekspresi wajahnya sangat waspada ketika dia mengarahkan tatapan matanya pada Kayden sebelum kembali memandang Gwen.


Rainer tidak berbicara. Tak seorang pun berbicara. Dan di belakangnya, Gwen bisa merasakan ketegangan Kayden berdenyut-denyut di sekujur tubuhnya saat pria itu berdiri di sana dalam keheningan mendadak yang mencekam serta mengamati mereka.


“Well, well, well,” kata Gwen yang pada akhirnya bereaksi. “Kedua Kim bersaudara ada di sini. Bagus sekali. Seandainya Valerie muncul, kita bisa bertukar pengantin. Sangat menarik, bukan?”


Rainer berjengit. “Jangan, Gwen,” katanya tidak nyaman.


Namun, Kayden menghalanginya. “Kau tetap di sini,” tegasnya, menahan pundak Gwen agar tetap tinggal. “Katamu kau tidak ingin hidup dalam kebohongan. Jadi, coba kita lihat apakah kau bisa hidup lebih tenang dengan kebenaran.”


“Kebenaran?” tanya Gwen sambil mengernyit. “Kau benar-benar mengira aku akan memercayai apapun yang dikatakan Rainer?” tambahnya getir.


“Kau akan memercayainya jika dia menghargai posisinya dalam keluarga ini,” kata Kayden muram. Dan ucapan itu ditujukan pada Rainer, bukan Gwen. “Dia tahu kenapa dia harus ada di sini. Dia juga tahu apa taruhannya.” Mata Kayden yang menjadi sehitam batu oleh tekad, memaku tatapan Gwen yang penuh tuduhan. “Kau tetap di sini,” ulangnya. “Kau mendengarkan, lalu dia pergi, dan kita bicara.”


Dengan pernyataan arogan itu Kayden melepaskan tangan dari pundak Gwen, lalu berbalik, dan berjalan ke luar ruangan dengan yakin menutup pintu di belakangnya.

__ADS_1


Sekarang, ada keheningan baru yang berdenyut oleh keengganan antara Gwen dan Rainer.


“Rasanya kita perlu bicara,” kata Rainer datar, memutuskan memecahkan keheningan yang melanda beberapa menit itu.


Sebenarnya, Rainer berusaha meringankan suasana. Tapi Gwen tidak berminat mendengarkannya, dan hal tersebut diungkapkan lewat eskpresi dingin saat Gwen berbalik menghadap pria itu.


“Tidak!” jawab Gwen ketus. “Tidak ada lagi yang ingin ku sampaikan kepadamu,” lanjutnya dingin.


“Menurutku juga tidak.” Rainer menyeringai masam. “Tapi kakakku memaksa—atau setidaknya,” tambahnya, “dia bersikeras ada banyak penjelasan yang harus ku berikan kepadamu.”


“Tetap saja aku tidak ingin mendengarnya,” sahut Gwen kaku. “Bahkan, aku akan menjadikannya mudah bagimu, Rai. Karena aku perlu memberitahumu bahwa aku bersyukur kau meninggalkanku dulu.”


“Sebab kau mendapatkan Kayden sebagai gantinya?”


Dagu Gwen terangkat. “Aku mengaguminya," katanya jujur. “Hanya beberapa minggu bersamanya, dan aku sudah lupa seperti apa wajahmu.”


Rainer meringis mendengarnya. “Itu bukan hal baru,” katanya, menghela napas yang melenyapkan sedikit ketegangan. “Kayden telah mengalahkanku sepanjang hidupku. Jadi, kalau kau berhenti jatuh cinta padaku dan malah jatuh cinta padanya, itu sama sekali tidak mengejutkan, Gwen. Bahkan,” tambahnya muram, “aku sudah bisa menduganya.”


“Apa maksudmu?” Gwen mengerutkan kening, tidak memahami arah pembicaraan pria itu.


“Maksudnya adalah bahwa kakak tiriku yang arogan itu mempunyai sifat apa adanya.” Sambil sedikit mengangkat bahu dengan elegan, Rainer berbalik dan berjalan ke jendela. Di luar terlihat gelap, sangat gelap sampai-sampai dia seharusnya tidak bisa melihat lebih jauh dari pada teras rumah. Namun, Rainer berhasil memakukan tatapannya pada sesuatu di luar sana.

__ADS_1


“Kau tahu, Gwen? Sepanjang hidupku aku telah bersaing dengan Kayden demi mendapat sesuatu,” kata Rainer berat. “Sewaktu masih muda, aku bersaing untuk mendapatkan simpati ayah kami agar menjadi putra yang sama layaknya seperti Kayden,” katanya sinis. “tapi sayangnya aku tidak bisa menjangkaunya. Waktu itu semua orang termasuk aku tahu bahwa aku takkan bisa sebaik Kayden di mata ayah kami.” Dia mengatakannya dengan datar. “Kayden Kim, putra sulung keluarga Kim bertubuh tinggi, tangguh, dan sangat cerdas. Begitu pula di sekolah,” tambahnya seraya memasukkan tangan ke saku celana, sementara Gwen dalam diam pindah ke kursi terdekat lalu menjatuhkan diri di sana. Ia tertarik mendengar apa yang disampaikan Rainer, meskipun enggan.


“Dulu, aku masuk ke sekolah yang sama dengan Kayden. Dia meninggalkan jenis warisan yang nyaris mustahil dikalahkan walaupun aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Dia selalu unggul dalam semua bidang,” Rainer mengaku dengan nada merendahkan diri. “Setidaknya aku pernah mencoba bersaing dengan legenda sialan itu. Ironisnya aku selalu gagal hingga kami beranjak dewasa.” Dia tertawa keras. “Begitu pula di tempat kerja. Kayden Kim dari kelas berat bersaing dengan Rainer Kim dari kelas ringan. Aku terlalu tolol dan lemah, Gwen."


__ADS_2