
“Banyak cara untuk menyenangkan diri sendiri, Kay,” ujar Gwen. “Contohnya dengan liburan, nonton bioskop bersama teman, atau … dengan cara berkencan dengan kekasih.”
Kayden tersenyum miring. “Dulu, aku tidak punya kekasih.”
Gwen sedikit menarik sudut bibirnya ke samping seolah dia tidak percaya dengan jawaban Kayden. “Tidak mungkin orang sepertimu tidak punya kekasih.”
“Dari umur delapan belas tahun, aku sudah dituntut oleh ayahku untuk belajar tentang manajemen perusahaan,” jawab Kayden datar. “Ketika remaja lainnya seusiaku waktu itu sedang bersenang-senang dan menikmati masa-masa remajanya, aku sendiri malah di ruangan kerja ayahku hampir setiap saat. Tidak ada yang membantuku dan memperhatikanku, kecuali para pelayan yang berada di sana. Bahkan ayahku sendiri tidak pernah bertanya sekalipun apa yang sebenarnya aku inginkan. Kadang aku merindukan kasih sayang ibuku sendiri dan pembelaan darinya. Tapi aku bisa apa? Yang aku tahu saat itu adalah, aku harus belajar, belajar dan belajar karena beban tanggung jawabku begitu besar menyandang nama Kim.”
Gwen bergeming. Manik cokelat kehitamannya memandang wajah sendu milik Kayden. Ia terenyuh mendengar pengakuan besar dari masa lalu pria itu. Apakah saat ini Kayden sedang melepaskan topengnya? Inikah wajah aslinya yang tampak suram di balik topengnya yang tegas, rumit, dan penuh kewibawaan. Dan … sebegitu beratkah kehidupan remajanya? Pikir Gwen berkelana.
“Aku juga tidak ada waktu untuk berkenalan ataupun mendekati seorang perempuan seperti teman-temanku yang lainnya,” sahut Kayden menambahkan. “Hingga aku bertemu denganmu dan menikahimu. Bagiku, itu sudah melebihi dari kata kesenangan.”
Gwen terkesiap dalam diam, tapi matanya menatap tajam manik hitam Kayden untuk mencari celah kebohongannya. Akan tetapi, beberapa detik berikutnya sayangnya dia tidak menemukan sedikit pun kebohongan pada diri pria itu. Mengapa setiap perkataannya selalu mengobrak-ngabrik hatinya?
“Ah, sudahlah,” celetuk Kayden. “Ini, makanlah untuk menambah energimu,” ujarnya seraya menaruh piring di depannya dan melepas penutup wadah, memperlihatkan omelet paling empuk serta lembut.
Gwen masih memandangi wajah Kayden saat dia melihat suaminya sedang memotong omeletnya sendiri. Ia memutuskan tidak ingin makan karena perutnya tiba-tiba saja langsung menutup begitu memikirkan masa lalu Kayden.
“Makanlah, Gwen,” perintah Kayden lembut, setelah melihat wanita itu terlalu lama memandanginya.
“Tidak, aku tidak ingin makan!” tegas Gwen.
“Perlu pesan makanan yang lain? Pesanlah makanan yang kau inginkan. Atau mau aku bantu memesankannya dan—”
“Aku ingin omeletmu.”
Kayden mengernyit merasa ada yang salah pada diri istrinya. “Potongan omeletku?”
“Ya.”
“Tapi omelet yang ada di sebelah piringmu sama seperti punyaku, Gwen.”
“Tidak! Aku ingin omelet yang ada dipiringmu, Kayden. Apa tidak boleh?”
“Bukan.” Kayden menggeleng pelan. “Bukan begitu ...” Ia kemudian menghela napas dan membiarkan Gwen menang. “Baiklah, ini,” katanya memberikan piringnya yang berisikan sisa omeletnya kepada wanita itu.
“Tidak, aku tidak mau!”
__ADS_1
Kayden mengerutkan dahinya karena dibuat bingung oleh tingkah Gwen. “Hei, bukankah tadi kau meminta potongan omeletku? Kenapa sekarang berubah pikiran?”
“Iya … aku memang memintanya,” sahut Gwen. “Tapi aku maunya kau suapi aku. Bukankah kau sendiri yang bilang kita akan makan sepiring berdua? Kau lupa ya?”
Kayden sontak terkejut. Ini kali pertama wanita itu memintanya sendiri. Dengan tersenyum samar Kayden perlahan menyuapi istrinya.
Hatinya seketika menghangat saat melihat Gwen yang tersenyum padanya.
Entah mengapa senyum itu melelehkan sesuatu dalam dirinya, sehingga memberinya keberanian besar untuk membalas senyum Gwen yang begitu menggetarkan hatinya.
“Kau suka dengan makanannya?” tanya Kayden basa-basi.
“Ya, tentu. Sangat suka. Ini sungguh lezat.”
Kayden seketika menarik sudut bibirnya ke samping. Senyum lebar dari istrinya membuat pria itu semakin jatuh hati padanya. “Oh, Tuhan … aku ingin melihat senyum itu setiap hari,” batinnya.
“Kay, aku—” Tiba-tiba telepon genggam Kayden berdering kembali sehingga Gwen tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
“Maaf, Gwen. Aku harus menjawab telepon ini karena sangat penting.”
“Habiskan makananmu, Gwen,” ujar Kayden disela-sela kesibukannya dengan teleponnya.
Lagi-lagi Gwen mengangguk lesu sebagai jawaban. Sambil mengunyah makanannya, wanita itu memandangi Kayden yang tiba-tiba bangkit untuk mengambil beberapa berkas. Entah apa yang dibicarakan bersama seseorang di seberang sana sehingga Kayden terus mengernyit.
“Apakah setiap hari kau selalu seperti ini, Kay?” batin Gwen.
“Baiklah, Gwen.” Kayden berbalik ke kamar begitu selesai menelepon yang menghabiskan waktu beberapa menit. “Aku butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk mandi dan berganti pakaian. Jika ada telepon berdering, tolong kau angkat dan catat pesan apapun. Kemudian sampaikan kepada mereka, aku akan segera menghubunginya.”
“Ya, baiklah.”
“O ya, satu lagi.” Saat Kayden melangkahkan kakinya ke kamar dan seakan mengingat sesuatu, ia tiba-tiba berbalik menghadap Gwen yang masih di meja makan, jaraknya tak jauh dari tempatnya berdiri. “Jika ada pesan masuk, kau buka saja. Sandinya 1404,” katanya memberitahu, kemudian menyeringai tipis sebelum ia meninggalkan Gwen di ruangan itu sendirian.
Gwen mengerutkan dahinya dalam. Ia merasa sangat familiar dengan angka-angka yang disebutkan Kayden barusan. Namun, beberapa detik setelahnya tiba-tiba wanita itu melebarkan matanya. “Tunggu dulu,” jedanya. “Bukankan itu tanggal ulang tahunku? Tapi …Tidak.” Ia menggelengkan kepalanya seolah tak percaya. “Tidak boleh. Aku tidak boleh terlalu cepat mengambil kesimpulan.”
Sepuluh menit pun berlalu. Begitu Kayden kembali, Gwen sedang berdiri di dekat jendela, memandang hiruk pikuk kota London dari atas hotel berbintang.
“Tidak ada yang menelepon?” tanya Kayden.
__ADS_1
Gwen berbalik dan mendapati Kayden berdiri dalam setelan abu-abu indah dan kemeja biru tua dengan dasi di leher. Rambut gelapnya tersisir rapi, rahangnya yang kuning langsat terlihat bersih dari bayangan yang telah sedikit menggelapkannya sebelumnya.
Kayden sendiri tidak sedang memandangnya karena ia tampak berkonsentrasi menarik-narik lengan kemejanya agar rapi, sehingga melewatkan desahan lirih yang tak bisa Gwen tahan ketika segenap indranya bereaksi terhadap daya tarik pria itu.
“Tidak,” jawab Gwen, merasa agak kehabisan napas.
Kayden mendongak karena mendengar nada gelisah dalam suara wanita itu. Dia menyipit memandangi wajah Gwen. “Ada apa?” tanyanya penuh selidik.
“Ti-tidak ada,” Gwen menyangkalnya, cepat-cepat berpaling.
Kayden tak tinggal diam. Ia lantas mendekat dan berdiri di depan Gwen. Aroma bersih tubuhnya yang bercampur wangi parfumnya semakin mengusik perasaan wanita itu yang memang sudah terusik dan bingung. Postur tubuh Kayden yang tinggi sehingga mata Gwen sejajar dengan dagunya yang tercukur rapi, menambah kerja jantungnya yang tak seperti biasanya.
“Gwen …” kata Kayden pelan. “Jika kau mencemaskan soal kita akan tidur seranjang malam ini, sebaiknya jangan.”
“Tidak kok!” Gwen menyangkalnya.
“Tidak?” Kayden mengernyit. “Terlihat jelas diwajahmu bahwa ada sesuatu yang mengganggumu.” Dia mengangkat dagu Gwen, jemarinya mendesak wanita itu agar menatapnya.
“Ha-hanya saja rasanya tidak benar,” kata Gwen gemetar. “Semua keintiman ini yang dipaksakan bersama pria yang tidak—”
“Kau sukai?” Kayden menyelanya.
“Aku tidak bilang begitu!” sergah Gwen, menatap suaminya dengan sorot memprotes. Sayangnya, raut wajah Kayden tidak percaya dan Gwen menghela napas, berharap Kayden mau memberinya sedikit ruang untuk mengambil banyak oksigen. “Kay, sebenarnya kau sulit untuk—”
Untuk diabaikan, begitu Gwen hendak berkata, tetapi ia menahan diri tidak mengatakannya karena tahu pria itu tidak akan mengerti. Ia ingin mengabaikan Kayden tetapi dirinya tidak mampu, karena seiring waktu tiap menitnya yang dihabiskannya di samping pria itu, dirinya semakin menyadari sosoknya. Sosok pria yang bisa dengan mudah membuatnya jatuh cinta.
“Untuk apa, Gwen. Hem?” tanya Kayden lirih. Manik hitamnya menjelajahi wajah putih mulus istrinya hingga terpaku di bibir merahnya. Ia pun menelan ludah dengan susah payah. Darahnya seketika berdesir hebat, rasa gerah yang seolah mulai mencekiknya entah karena dasi yang terlalu ketat, atau gairahnya yang seolah menyatu.
“Ka-Kay …” kata Gwen lirih saat suaminya mendekatkan wajahnya hingga pucuk hidung mancung mereka bersentuhan dan nyaris tak menyisahkan jarak. Di ruangan itu ia rasanya begitu sesak, serta kerja jantungnya berdegup semakin cepat karena napas hangat menerpa bibir mereka. Gwen tahu selanjutnya akan berakhir di mana. Bibir merahnya pasti akan bertemu dengan bibir Kayden saat ini juga. Dan sebelum itu terjadi, dia harus sesegera mungkin memutuskan untuk mengakhirinya.
“Bi-bisakah kita pergi sekarang?” Manik cokelat kehitaman Gwen memohon dengan sangat cemas sampai-sampai Kayden meringis, lalu ia tersentak menegakkan tubuhnya untuk menjaga jarak dari Gwen.
“Ya, tentu.” Kayden menyetujuinya. Ia melepaskan Gwen, meninggalkannya dengan perasaan hampa. Lagi dan lagi, wanita itu telah menyinggung perasaannya.
*****
Thankyou udah baca sampai bab ini. Jangan lupa tinggalin jejak Like/Vote dan Komentar kalian, karena Dhi seneng banget baca komen kalian 😊😉
__ADS_1