Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Pengalaman Pertama


__ADS_3

Siang itu Kayden dan Gwen ke luar dari hotel menuju kantor cabang Kayden di London. Pria itu bertekad untuk menikmati setiap detiknya bersama Gwen di kota yang memiliki julukan The Smoke itu. Terbukti dia meninggalkan gagasan menggunakan mobil yang dikemudikan oleh sopir hotel agar bisa bepergian menaiki kereta bawah.


London memang dikenal memiliki alat transportasi umum kereta bawah tanah atau yang dikenal dengan sebutan The Tube atau London Underground. Dan London Underground merupakan jalur kereta api bawah tanah tertua atau yang pertama di dunia.


Sebenarnya, ini pengalaman tersendiri bagi Gwen menaiki kereta bawah tanah di London. Sewaktu kuliah dulu, Gwen pernah membaca buku tentang kebudayaan atau gaya hidup di suatu daerah atau Negara terutama tentang kebudayaan di London, dan alat transportasi kereta bawah tanahnya. Jika di Indonesia pembangunan kereta bawah tanah pertama baru dimulai pada tahun 2013, maka London sudah memulainya ratusan tahun sebelum itu. London Underground bahkan sudah mulai beroperasi pada tahun 1863, di mana saat itu kereta masih mengandalkan tenaga uap hinga akhirnya mulai mencoba penggunaan tenaga listrik pada tahun 1890.


Dan pada tahun 1968, London bahkan sudah mulai mencoba pengoprasian kereta secara otomatis di jalur Victoria Line. Jalur tersebut merupakan jalur kereta otomatis pertama di dunia. Meski begitu, stasiun-stasiun London Underground yang sudah berumur ratusan tahun tersebut masih sangat nyaman dilewati dan penggunannya juga tertib.


Akan tetapi, tentunya Gwen akan sangat senang dan lebih menghargai tentang sejarah London Underground yang sempat ia ketahui dari membaca buku, jika saja dirinya tidak merasa lelah dan jika adegan terakhir di kamar hotel tidak menimbulkan kekakuan di antara mereka.


“Kita mampir ke kantor tidak akan lama,” kata Kayden memecah keheningan di antara mereka saat kereta berhenti hingga kemudian mereka melangkah ke luar. Kayden lantas berjalan terlebih dahulu meninggalkan Gwen di belakangnya.


Gwen yang ditinggalkan dan merasa diabaikan, ia langsung menekuk wajahnya dan mengumpat pelan. “Sialan! Tahu begitu aku lebih baik tidur seharian saja di kamar hotel. Seharusnya aku yang marah, bukan dia.” Gwen lalu mendengus kesal sambil menggelengkan kepalanya. “Terlalu kekanakan.”


Namun, baru beberapa langkah Gwen berjalan, ia mendapati Kayden yang tiba-tiba berhenti dan memutar tubuhnya, kemudian melangkahkan kakinya ke arah wanita itu.


“Kemarikan telapak tanganmu, Gwen,” kata Kayden saat dia berdiri di hadapannya.


Gwen mengernyit karena bingung. Namun, beberapa detik setelahnya dengan reflek ia pun mengangkat tangannya sebelah kanan sambil bertanya, “Tanganku? Untuk apa?”

__ADS_1


Kayden bergeming, tetapi ia langsung meraih telapak tangan Gwen untuk digenggamnya.


Gwen sontak terkejut dengan sikap Kayden yang selalu serba tiba-tiba, rumit dan susah ditebak.


“Maafkan aku telah meninggalkanmu,” ujar Kayden sungguh-sungguh.


Gwen tersenyum miring sebelum ia berkata ketus, “Ku kira kau akan mengabaikanku.”


“Aku tak bisa mengabaikanmu terlalu lama,” Kayden berkata datar, tetapi kalimatnya menyiratkan sebuah penegasan. Dengan genggaman kokoh yang begitu posesif, ia langsung menuntun Gwen berjalan di sampingnya. Pandangan matanya yang lurus ke depan begitu waspada, seolah dia melindungi miliknya yang sangat berharga bagi kehidupannya.


Dan entah apa yang dipikirkan Gwen hingga ia harus mengulum bibirnya ke dalam. Sentuhan tangan kekar Kayden begitu hangat dan terasa pas di telapak tangannya yang kecil, sehingga kembali menimbulkan gelenyar aneh dalam dirinya. Pria ini—pria yang sejak awal pertemuan mereka selalu memberi kesan yang sulit diprediksi. Pria ini—pria yang akan selalu kembali dan tidak akan segan meminta maaf jika dia melakukan kesalahan.


Masih dengan tangan Kayden yang menggenggam tangan Gwen, mereka menyebrangi jalan padat Kota London dan masuk melalui pintu kaca. Gwen lantas mendesah pelan penuh syukur, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Setidaknya, dia membutuhkan ruang untuk melepaskan genggaman tangan Kayden sebelum ia melakukan hal bodoh yang berakibat kembali menyinggung suaminya.


Gedung ikonik milik Kayden ini mempunyai berbagai fasilitas, juga ruang ritel hingga restoran. Ada 25.000 meter persegi leasable area atau area yang bisa disewakan di gedung ini. Terdiri dari Sembilan lantai dengan spesifikasi Grade A dari lower ground hingga lantai delapan. Sementara di lantai basement, ada 210 fasilitas parkir sepeda bagi para pekerja yang menggunakan sepeda sebagai transportasi dan area penyimpanan.


Sungguh menakjubkan hasil dari kerja keras Kayden, andai saja Gwen bisa menghargainya dan tidak mempedulikan perutnya yang serasa terjun bebas karena lift yang membawa mereka naik ke lantai paling atas hanya dalam beberapa detik. Gwen menghela napas ketika pintu-pintunya terbuka, dan ia mendapati diri menatap perempuan asia paling cantik yang pernah dilihatnya.


Sambil tersenyum penuh sambutan, mata indah perempun asia itu tertuju langsung kepada Kayden. Dia membungkuk hormat dan mengatakan sesuatu dalam bahasa mandarin, yang Kayden jawab dalam bahasa yang sama. Lantas, perempuan itu menatap Gwen dengan rasa ingin tahu.

__ADS_1


“Gwen, ini Leticia Wu, direktur penjualan kita di sini. Leticia,” Kayden mengakhiri dengan tegas, “Ini istriku, Gwen.”


Perempuan itu tidak terkejut, dan ketika dia membungkuk sopan, Gwen dengan muram berasumsi berita tentang pernikahan mereka telah tersebar hingga sampai sejauh ini.


“Senang bertemu dengan Anda Mrs. Kim,” kata Leticia dengan suara lembut. “Selamat atas pernikahan kalian.”


“Terima kasih,” jawab Gwen canggung.


Kayden sadar bahwa Gwen akan merasa tidak nyaman karena tidak terbiasa dengan kehidupan barunya yang menyandang Mrs. Kim, istri dari Kayden Kim. Oleh sebab itu, Kayden langsung menuntut untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cepat pada Leticia, sembari membimbing Gwen melintasi ruang masuk putih dan abu-abu yang megah, lalu melewati pintu ke ruangan elegan yang dinginnya nyaris seluruhnya kaca.


Gwen mengernyit heran karena ia melihat sebuah ruang kantor mewah berdesain modern, dan hampir seluruhnya bernuansa abu-abu. Karpet abu-abu, dinding abu-abu, lemari abu-abu, sofa dan kursi kulit juga abu-abu. Meja abu-abu besar memenuhi hampir sepanjang dinding kaca, serta perlengkapan kantor standar yang terpajang rapi di atasnya hanya berwarna lebih gelap dari abu-abu yang sama.


“Tolong buatkan dua cangkir cappuccino untukku dan istriku, Leticia,” kata Kayden sehingga Leticia tersenyum membungkuk hormat, kemudian pergi untuk menyiapkannya, meninggalkan Kayden dan Gwen di dalam ruang kerja yang megah nan elegan.


“Apakah pekerjaanmu akan lama?” tanya Gwen penasaran.


“Ini tidak akan lama,” jawab Kayden seolah memberi janji kepadanya. “Duduklah di sini, Gwen.” Ia menambahkan, kemudian membimbing wanita itu ke sofa kulit lembut.


Begitu Gwen duduk, Kayden lantas meninggalkannya untuk beralih ke meja besar tempat setumpuk berkas yang menarik perhatiannya. Gwen duduk tanpa suara, tetapi dia mengawasi dan mengamati pria itu, ketika sekali lagi sang suami membenamkan diri dalam pekerjaan, duduk di belakang meja kursi kantor kulit abu-abu bersandaran tinggi, dengan wajah tirus dan rahang kokoh menajam oleh konsentrasi penuh.

__ADS_1


Kayden Kim bukan pria manis, Gwen memutuskan saat mengamati. Rainer lah yang seperti itu—pria yang benar-benar bersikap manis dengan sejuta kegombalannya serta deklarasi cinta yang sempat ia nyatakan, sebelum dia menghianati cinta tulus dan murni dari mantannya, yang saat ini telah menjadi kakak iparnya.


Berbeda dengan Kayden yang memiliki daya tarik lebih karena wajahnya. Misalkan saja hidungnya yang panjang dan ramping dengan bekas luka di sisi benjolan di tengah, mengisyaratkan bahwa hidung itu pernah patah, seolah untuk menegaskan sisi jantannya selain menggunakan otak cerdasnya. Ditambah lagi dengan sikapnya yang teralu rumit, semakin menambah aura kekuatan maskulinnya.


__ADS_2