Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Pagi Membara


__ADS_3

Keheningan pun melanda setelah pergumulan panas tersebut. Terlihat Kayden tengah menjauhkan diri, sedang Gwen menutup mata menyadari air mata membayang di balik kelopaknya. Dan ia tahu bahwa dirinya tidak sanggup menatap Kayden yang berbaring di sebelahnya, sebab wanita itu yang memulainya, mendesaknya menuruti keinginannya hingga Kayden lah yang harus mengakhirinya.


Tiba-tiba Gwen mulai menggigil, merasa sedingin es ketika merutuki keliarannya yang seharusnya tidak terjadi. Kayden lantas menarik belitan selimut dari bawah tubuh Gwen dan menutupi tubuh telanjang mereka berdua. Tetapi, saat Gwen menyusup ke dalam balik selimut itu, Kayden menarik Gwen, tangannya yang kuat menahan istrinya yang meronta, membaliknya, membuatnya meringkuk, dan memeluknya sementara Gwen terlihat gemetar.


“Cobalah untuk tidak berpikir apapun, Gwen,” gumam Kayden dengan nada rendah dan serak. “Berbaring saja di dalam pelukanku.” Sebuah ciuman mendarat di puncak kepala Gwen. “Jangan menyesalinya karena kita sama-sama menginginkannya.”


Gwen terdiam dalam pelukan Kayden yang kulitnya masih terasa lembab akibat keringatnya yang sepenuhnya belum mengering. Ia tidak ingin menjawab terlebih lagi tidak berani berpikir terlalu dalam untuk menyesali apa yang saat ini terjadi. Hanya saja ia sedikit terkejut karena tubuhnya tidak menolak setiap sentuhan yang diberikan suaminya itu. Biarlah ia sedikit egois menenggelamkan pikirannya, tertidur dalam dekapan hangat yang telah Kayden tawarkan.


***


Keesokan harinya, Gwen terbangun karena sinar matahari telah menembus tirai yang tertutup. Samar-samar ia juga mendengar suara yang tak asing ditelinganya, terdengar kasar dan marah.


“Lakukan saja!” Suara Kayden terdengar agak teredam dinding dan jarak. Tetapi itu jelas suaranya—tegang karena tidak sabar.


Masih setengah mengantuk, akhirnya Gwen perlahan menarik tubuhya untuk duduk dan menurunkan kaki ke lantai sebelum menyadari—dirinya tidak mengenakan sehelai benangpun, dan tersentak mengingat mengapa dirinya telanjang. Lantas, ia langsung meraih selimut, melilitkannya ke tubuh polosnya, lalu duduk menggigil ketika potongan-potongan kejadian panas semalam berkelebat di benaknya yang masih berkabut.


Sebuah kejadian yang menurutnya mengerikan serta memalukan, tentang dirinyalah menawarkan diri kepada Kayden yang nyaris memohon menginginkan setiap sentuhan dari tubuh pria itu.


“Ya, Tuhan …” Satu tangannya gemetar terangkat menutupi mata. Rasa malu membakarnya ketika suara Kayden terdengar lagi—berat dan marah.


“Kau tahu bukan? Aku sangat tidak peduli urusan orang lain sekalipun itu keluargaku sendiri!” bentak Kayden. “Biarkan saja itu menimbulkan masalah!” tegasnya. “Ya, aku tahu,” ia menjawab. “Tunda saja dulu dan tunggu aku sampai kembali.” Kayden menghela napas lelah sebelum melanjutkan kalimatnya, “aku tidak tahu kapan akan kembali ke Indonesia. Yang pasti aku akan menunggu kesiapannya untuk pulang ke sana.”


Perlahan tapi pasti, Gwen menegakkan tubuh, tangannya meluncur turun dari wajah saat menyadari Kayden sedang membahas dirinya.

__ADS_1


“Rainer?” Kayden tertawa mengejek. “Sejak kapan dia peduli pada orang lain selain dirinya sendiri?”


Oh sialan. Merasakan debaran hebat saat jantungnya seperti mencuat hanya gara-gara mendengar nama Rainer disebut, Gwen berdiri kemudian memaksakan kakinya untuk melangkah, walaupun ia berjalan sedikit terhuyung karena pening juga mual.


“Oh … yang benar saja. Dia pasti melihatnya,” gerutu Kayden. “Astaga … bukankah mereka semua sudah melihatnya di surat kabar?” dia menggeram dengan kasar. “Dia hanya ingin menghancurkanku untuk membalas dendam,” jedanya. “Tentu saja Valerie. Apa? Jelas saja aku mencintainya. Kau tidak bisa bayangkan, bagaimana selama bertahun-tahun lamanya aku memendam perasaan cinta begitu besar untuknya.”


Gwen mengerutkan dahinya begitu dalam tatkala mendengar nama Valerie disebut. Dengan mata perih dan serasa terbakar, Gwen memandang kehampaan dan melihat kebenaran yang kejam bercampur pahit menatapnya—Kayden mencintai Valerie.


“Aku menyesalinya karena kesalahanku adalah, tidak segera menyadari dia akan berbuat sehina itu hanya demi membalasku,” lanjut Kayden getir. “Andai aku tahu sejak awal, aku akan menghentikannya. Aku sangat mencintainya.”


Dengan selimut ditahan satu tangan yang dingin dan gemetar, Gwen berjalan ke pintu lain. Ia mengulurkan tangannya yang lain untuk membuka pintu, menariknya sehingga bisa melangkah diam-diam ke ruang sebelah.


Kayden berdiri di dekat meja, dan ia terlihat hanya bertelanjang dada, handuknya ia lilitkan pada pinggangnya. Pria itu memunggungi Gwen dengan handphone mahalnya menempel di telinga.


Gwen terkesiap mendengarnya. Itukah arti dirinya bagi Rainer? Sebuah barang yang harus disingkirkan, bukan seonggok daging yang harus dipertahankan. Dan konyolnya lagi dirinya dijadikan pertarungan melawan sang kakak.


“Baiklah …” Kayden mendesah. “Biarkan saja dia. Setidaknya dia sudah mendapatkan keinginannya dari kekacauan terkutuk yang dia ciptakan sendiri. Dan kali ini aku tidak akan membiarkannya mengusik apa yang seharusnya menjadi milikku.”


“Milikku?” Gwen mengatakannya sambil mengernyit.


Kayden dapat mendengarnya sehingga ia berbalik, matanya memancarkan amarah sampai-sampai dia menyadari siapa yang dilihatnya. Kemudian, sorot itu perlahan berubah menjadi kecemasan.


Gwen tidak berbicara, seolah suaranya tersekat ditenggorokan karena mendengar semua kengerian yang terjadi. Dan Kayden sendiri, sepertinya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

__ADS_1


Pria itu langsung memutuskan sambungan ponselnya sebelum ia menatap tajam bola mata Gwen, kemudian berkata, “Jangan berpikir macam-macam karena ini bukan seperti yang kau pikirkan.”


“Kau ternyata pembohong, Kay!” bisik Gwen tajam dan hancur. “Kau sama saja seperti adikmu, membohongiku dengan berdalih mencintaiku.”


Rahang Kayden mengeras, tidak menyukai tuduhan istrinya. Lantas, dengan mantap dia berkata, “Aku sangat berbeda dengannya. Dan aku sungguh tidak membohongimu tentang aku mencintai—”


“Valerie, jika itu maksudmu.” Gwen lalu tertawa getir merutuki kebodohannya hingga ia mengumpati dirinya sendiri, sebelum ia memberikan tatapan tajam dan berkata, “Aku harus mengetahui kenyataan pahit lagi dan lagi, bahwa kau mencintai Valerie.”


Kayeden terdiam, tetapi ia mengerutkan dahinya dalam, terlihat semakin bingung. Tak hanya itu, rona mewarnai tulang pipinya yang tinggi, dan mata gelapnya memercikkan amarah.


“Ya, Tuhan …” Gwen tersedak, bersandar lemah ke pintu. Setelah benar-benar memahami seluruh nasib cintanya yang rumit dan tidak jelas, menurutnya. “Bodohnya aku,” bisiknya. “Benar-benar bodoh.”


“Kau tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” kata Kayden.


“Benarkah?” Matanya yang memerah akibat menahan tangis, melirik ke arah suaminya. Di matanya, pria itu berbeda dari Kayden Kim yang biasa dilihatnya selama beberapa hari ini bersamanya.


Namun, pada akhirnya inilah dia, Kayden Kim yang sebenarnya. Pimpinan tertinggi Kim Corpuration yang lebih introvert, tetapi auranya lebih kuat. Dapat mengendalikan semua hal hanya dengan menjetikkan jari sehingga tidak menunjukkan kelemahannya sama sekali.


Beberapa detik kemudian, pikiran Gwen tersentak saat kembali mengingat kejadian semalam. Dengan suara yang menyiratkan keputusasaannya, ia bertanya pada Kayden, “Jadi, semalam mengapa kau bercinta denganku sedangkan kau mencintai wanita itu?” Gwen mencengkram selimut yang menutupi dadanya. “Apakah kau hanya memanfaatkanku? Atau bahkan memanfaatkan tubuhku untuk membalas dendam kepada adik tiri sialanmu itu?”


“Apa maksudmu?” Kayden bertanya masih dengan mengerutkan dahinya dalam, bersamaan dengan menggertakkan giginya. Lantas, detik berikutnya ia berkata, “Aku tidak sepicik itu. Kau salah menilaiku, Gwen!”


“Ya, kau benar. Aku memang salah menilaimu, sampai-sampai aku begitu bodoh terperangkap dengan ucapan manis kakak beradik Kim sialan,” Gwen menuduhnya sebab hatinya terlalu sakit. “Ya, Tuhan …” wanita itu memajamkan mata, tubuhnya sendiri sedikit gemetar ketika berusaha menegakkan diri dari pintu. “Aku tidak ingin terlibat lebih dalam lagi dengan urusan kalian,” katanya, lalu kembali ke kamar, berdiri mengamati sekitarnya dengan pandangan kosong, tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2