Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
EPILOG


__ADS_3

Rasa pegal yang mulai menyerang kaki Gwen menunjukkan bahwa sudah cukup lama ia berdiri di sana. Namun, karena tekadnya yang kuat untuk setia menunggu suaminya bangun, tidak tergoyahkan meskipun hampir tiga puluh menit berlalu.


“Maafkan aku, Kay …” ujar Gwen lirih.


Mata Kayden masih terpejam dengan dahi berkerut. Gwen yang mengetahui ekspresi suaminya itu, pada akhirnya ia berasumsi pria ini tidak nyaman tertidur di kursi rotan yang keras. Atau, pria ini tidak nyaman dengan pertengkaran hebat terakhir kali dengan istrinya?


Entahlah, apa pun itu yang jelas malam ini ia harus menuntaskannya, batin Gwen.


Selang beberapa detik kemudian, seketika jantungnya berdebar agak terlalu cepat karena melihat Kayden mulai bergerak. Butuh banyak keberanian untuk menghampiri Kayden seperti ini, tanpa mengetahui bagaimana suasana hatinya.


“Hai.” Gwen memberanikan diri membuka suara dengan malu-malu, tidak yakin dengan sambutan suaminya.


Mata Kayden membuka perlahan. Wajahnya tak terbaca saat menatap Gwen. “Sudah mendapatkan kebenaranmu sekarang?” tanyanya datar.


“Ya,” Gwen tersenyum lembut.


“Lalu bagaimana?”


“Bagus,” Gwen mengaku.


Sebelum Kayden sempat berbicara lagi, Gwen melangkahkan satu kaki melewati paha Kayden, lalu langsung duduk begitu saja dipangkuan suaminya sehingga pria itu sedikit terkejut. “Jadi, bolehkah aku menciummu untuk itu?” pintanya. “Atau kau masih terlalu marah untuk menginginkanku?”


Kayden tidak menjawab, ekspresi muramnya tetap bertahan ketika dia hanya memejamkan mata.


Dan dengan sedih Gwen harus menerima bahwa Kayden tidak akan membuat ini mudah baginya. Meskipun dia harus melakukan hal senekat ini yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya, Gwen akan terus berjuang demi mendapatkan hati suaminya kembali.


“Aku bisa pergi lagi jika kau benar-benar tak peduli,” Gwen menawarkan.


Lagi, Kayden tidak menjawabnya.


“Dasar iblis kejam,” ejek Gwen, berharap Kayden menanggapinya. Namun, Kayden tetap mengatupkan bibirnya, bahkan tidak mengerjapkan bulu mata hitamnya sekalipun.


Gwen menghela napas karena Kayden masih tidak bereaksi. Tapi ia tidak akan menyerah untuk menakhlukkan pria yang tiba-tiba menjadi sekeras batu ini. Gwen menyadari, Kayden hingga bersikap seperti itu memang gara-gara dirinya. Jadi, ia harus menerima konsekwensinya sekarang.


Sambil menatap wajah tampan Kayden, Gwen masih mencoba memikirkan cara untuk memancing suaminya agar berbicara. Lantas, ia mengulum bibirnya ke dalam ketika menemukan sebuah ide konyol setelah beberapa detik berlalu.


“Masalahnya adalah,” Gwen melanjutkan dengan agak tragis, “kau benar-benar terlalu tua untukku ….” Ia memutuskan memanas-manasi Kayden.


“Aku tahu,” Kayden sependapat.


Dada Gwen terangkat saat ia mendesah pelan. “Hanya itu yang kau katakan?”


Mata Kayden terbuka, pandangannya menatap wajah sendu istrinya. "Aku lelah, Gwen ….”


“Gwen?” Wanita itu bertanya sambil mengernyit, seolah ada yang salah dengan kalimat Kayden. Bagaiman pun caranya, ia akan terus mencoba untuk meluluhkan hati suaminya. "Kau biasanya memanggilku Sayang, kan?”


“Hem.” Kayden menjawab singkat sembari menutup matanya.


“Astaga, Kay …” erang Gwen. Tanpa berpikir lama, ia menangkup wajah pria itu dan menciumnya karena Gwen sendiri mulai kehilangan kesabaran menghadapi sifat apatis suaminya.


Kayden benar-benar terkejut dengan serangan mendadak istrinya.


Meskipun, sebenarnya ia berusaha melawan, tetapi tubuhnya mematung. Tangannya lantas terangkat ke pinggang Gwen dan mencoba mendorong sang istri darinya, sementara bibirnya sama sekali tidak merespon terhadap bujukan bibir wanita itu.


Akan tetapi, setelah berhasil membuat Kayden lengah, Gwen bertekad akan membuatnya lengah lagi. Ia terus menekankan ciuman kecil lembut dan menggoda di sepanjang garis bibir milik Kayden sampai ketegangan mulai meninggalkan pria itu.


Dan benar saja, Kayden terlampau lemah untuk menghadapi bujuk rayuan ciuman mematikan istrinya. Jadi, pada akhirnya ia berhenti mendorong Gwen, bibirnya menyerah dan mulai membalas ciuman istrinya sehingga dalam hati Gwen bersorak penuh kemenangan.


“Untuk apa itu?” geram Kayden ketika Gwen membiarkan mereka menghela napas.

__ADS_1


“Karena, mau kau tua atau tidak, aku mencintaimu, Kay,” jawab Gwen, dan menyaksikan seraut wajah Kayden begitu datar, tidak ada ekspresi sedikit pun.


“Di mana Rainer?” tanya  Kayden kemudian. Ia sengaja mengganti topik pembicaraan karena ia harus berusaha terlebih dahulu untuk menetralkan kerja jantungnya akibat pernyataan Gwen.


Dalam hati, sebenarnya Kayden bahagia mendengar kalimat cinta tersebut terlontar langsung dari bibir istrinya. Bukankah, hal itu yang ia tunggu-tunggu setelah sekian lama?


Sedangkan Gwen yang melihat tidak ada tanggapan dari Kayden, ia tampak kecewa sambil perlahan menurunkan pandangan matanya yang kosong ke dagu suaminya. Beginikah rasanya saat dirinya mengacuhkan Kayden dulu? Begitu hampa dan sakit, batinnya getir. Bersabar, itulah yang ada dipikirannya saat ini.


Melihat Gwen termenung dan tak kunjung menjawab, Kayden lantas mengulang pertanyaannya kembali, “Di mana Rainer?”


Gwen tersentak dari lamunannya. Sekarang, bola matanya beradu dengan manik hitam Kayden. “Dia sudah pergi,” jawabnya malas. “Besok pagi-pagi sekali dia harus kembali ke Paris—ke istrinya. Dan dia juga sudah menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan."


Alis Kayden terangkat mendengarnya. “Rainer memberi tahumu semuanya?”


“Dia merasa bersalah,” Gwen menjelaskan. “Karena memaksamu memohon kepadanya agar melepaskanku.”


“Memohon?” Kayden memprotes. “Si pembohong itu. Aku mengancam akan menyiksanya secara sadis jika dia tidak menghentikan permainan tololnya. Tapi aku keberatan dituduh memohon.”


Gwen mengangkat bahu. “Ya … menurut Rainer, kau telah memohon kepadanya. Dan,” matanya yang indah menunjukkan kilauan menggoda berbahaya. “aku lebih menyukai ide kau memohon padanya agar meninggalkanku, supaya kau bisa menggantikannya.”


“Aku akan berhati-hati dalam mengambil keputusan, kalau aku jadi kau, Gwen,” Kayden memperingatkan dengan sangat pelan. “Karena aku masih sangat marah padamu.”


“Aku tahu,” Gwen mengakui. “Tapi aku membawakanmu hadiah,” katanya. “Boleh dibilang, tawaran damai sekaligus hadiah ulang tahunmu. Aku sangat bersalah, sebab tidak menghargai apa yang sudah susah payah kau lalui untuk mendapatkanku ….”


Gwen menggigit bibir bawahnya. Matanya menatap memohon penuh penyesalan kepada Kayden sembari menunggu jawaban dari suaminya.


Kayden pernah melihat tatapan itu sebelumnya, tepat pada malam pertama yang mereka lalui dengan penuh gairah. Matanya menggelap begitu mengingat dampak tatapan mematikan pada dirinya waktu itu—begitu mengusik dan sangat menggoda.


Lantas, Kayden menghembuskan napas. “Baiklah, kau menang. Lalu, apa hadiahnya?”


Gwen tersenyum puas. Seketika ia membuka jaket jeans navynya, kemudian menjatuhkannya di lantai. Dan yang terakhir, pada saat ia akan membuka kancing pertama kemeja v-neck polosnya yang berwarna putih berlengan pendek, Kayden tiba-tiba mencengkram pelan pergelangan tangan istrinya untuk menghentikannya.


“Membuka bungkusan hadiah ulang tahunmu.” Seulas senyuman terbit dari bibir ranum Gwen setelah berkata demikian.


“Maksudmu?"


“Maksudku, hadiahmu adalah aku,” ujar Gwen pelan. “Itu pun kalau kau masih menginginkanku setelah tingkah bodohku hari ini …” lirihnya.


Dada Kayden kembang kempis dalam tarikan napas pendek-pendek. Matanya terpejam sejenak, lalu beberapa detik berikutnya ia membuka matanya, dan mendapati Gwen menundukkan kepalanya oleh penyesalan mendalam.


“Ya Tuhan … Kemarilah, Sayang.” Dia meraih Gwen, menariknya ke dalam pelukan. “Apakah kau tidak merasakan, betapa pria malang ini jatuh cinta setengah mati padamu?”


“Kurasa aku pasti buta,” Gwen mengakui dengan sedih sembari memeluk erat pinggang suaminya, sementara pipi kanannya ia sandarkan didada bidang suaminya. “Tapi aku juga jatuh cinta setengah mati padamu, Kay!” tambahnya dengan nada mendesak.


Kayden tersenyum setelah mendengar pengakuan besar istrinya. “Mulai kapan, hem?” tanyanya lembut sembari mengelus rambut halus Gwen yang tergerai di pundak seperti yang disukai pria itu.


“Sejak kau mengambil alih hidupku.”


“Baguslah,” kata Kayden. Ia mendaratkan ciuman pendek di puncak kepala Gwen sebelum melanjutkan kalimatnya, “aku melakukannya karena aku sangat posesif dalam setiap hidupmu.”


Gwen yang masih memeluk erat Kayden seolah tidak ingin melepaskannya, ia sontak mendongakkan kepalanya ke arah pria itu, dagunya bertumpu pada dada suaminya sementara manik hitam Kayden menyelami bola mata indah wanita itu.


“Dan menurutmu aku tidak begitu?” kata Gwen, lalu melanjutkan dengan kelebatan posesif, “Jadi, jika aku sampai melihatmu mengecup pipi wanita lain selain diriku,” ia memperingatkan dengan sengit, “aku akan marah dan tidak akan berbicara padamu berhari-hari.”


Kayden terkekeh sebelum ia berkata, “Kedengarannya itu ancaman bagiku kerena kecemburuanmu.”


“Ya … boleh dibilang begitu. Kenapa? Kau tidak suka?”


Kayden yang menatap lembut wajah istrinya, seketika ia memberikan seulas senyum manisnya, kemudian menjawab, “Aku suka. Sangat suka.” Sebuah kecupan yang begitu mendalam mendarat di kening Gwen sehingga wanita itu sejenak memejamkan matanya, merasakan cinta yang begitu besar dari Kayden.

__ADS_1


“Maafkan untuk semua yang ku lakukan padamu, Kay …” ujar Gwen setelah Kayden melepaskan ciumannya beberapa detik yang lalu. “Maaf juga untuk sikap berlebihanku hari ini,” pintanya sungguh-sungguh yang menatap wajah suaminya.


“Jangan,” gumam Kayden. “Sejujurnya, aku bersyukur ketika kau salah paham dengan Ava. Berkatnya, akhirnya kau mengatakan secara langsung padaku bahwa kau mencintaku.”


Gwen terkekeh sebelum ia berkata, “Ya, kau benar. Dan sepertinya besok aku akan menemui Ava untuk berterima kasih padanya.”


“Kau bisa melakukannya lain kali, Sayang …”


Gwen mengernyit. “Kenapa?”


“Karena dia sudah kembali ke Rusia sore tadi.”


Mata Gwen terbelalak karena keterkejutannya. “Secepat itu?”


"Ya. Suaminya itu pencemburu akut,” ejeknya.


“Sama denganmu, kan?”


“Nah, nah,” Kayden memprotes. “Bukan hanya diriku saja, tapi kau juga sama denganku—”


Gwen langsung membungkam mulut Kayden dengan bibirnya untuk menghentikan kalimat suaminya itu. Dan seakan gayung bersambut, tangan Kayden terulur menekan tengkuk Gwen, memperdalam ciuman mereka—menyalurkan kerinduannya yang beberapa hari ini terpendam karena tidak bertemu dengan istrinya akibat perjalanan bisnisnya.


Mata mereka sama-sama terpejam. Sementara bibir mereka berdua masih bertautan satu sama lain secara perlahan, seolah menyalurkan rasa cinta yang begitu besar di antara keduanya.


Tangan Gwen terulur naik, menyentuh rahang kokoh Kayden, lalu mendorongnya pelan. Tak ada penolakan dari pria itu yang langsung melepaskan ciumannya.


Pada saat tatapan mereka bertemu yang hanya beberapa senti saja menyisahkan jarak, Gwen lantas membuka suaranya sembari mengusap lembut pipi Kayden.


“Terima kasih selalu menjadi pelangiku setelah badai. Terima kasih atas cinta serta kasih sayangmu untukku. Happy birthday, i love you, Kayden Kim. And …” Seulas senyuman terselip dikedua sudut bibir Gwen sebelum ia melanjutkan kalimatnya, “i wanna grow old with you, Babe.”


Manik hitam milik Kayden berbinar bagai bintang setelah mendengar kalimat terakhir istrinya. Ia sontak tersenyum lebar dan hatinya berbunga-bunga. Menurutnya, ini adalah kado terindahnya karena hal tersebut tidak dapat tergantikan oleh apa pun itu.


“Thank you so much, Sweetheart,” Kayden membalasnya.


“Ayo,” bisik Gwen, turun dari pangkuan dan menarik tangan Kayden supaya mengikutinya.


“Ke mana?” Kayden bertanya, seolah-olah dia tidak tahu saja.


“Tentu untuk membuka hadiahmu, Babe,” jawab Gwen sembari mengerlingkan matanya, kemudian menarik Kayden bersamanya untuk masuk ke kamar.


Kamar mereka. Rumah mereka. Hidup mereka, dan cinta mereka. Karena inilah dia, sebuah kebenaran sejati. Gwen mencintai Kayden. Kayden mencintai Gwen dengan caranya sendiri.


Meskipun sebelumnya banyak penghalang di antara mereka, tetapi pada waktu yang tepat Tuhan akan menakdirkan mereka untuk bersama sehingga sebuah hubungan yang serius pun tercipta.


Karena sejatinya, cinta yang tulus akan mencintai tanpa syarat. Tentu mudah untuk mencintai bagian yang kita sukai, tapi saat kita belajar untuk menerima bagian yang tidak kita sukai, saat itulah rasa suka menjelma menjadi rasa cinta.


...TAMAT...


***


Hai, Readers ...


Akhirnya kisah Kayden Gwen udah berakhir. Asli Dhi terhura, eh terharu maksudnya. Hehehe ...


Tapi emang beneran Dhi terharu, karena menulis cerita Menyentuh Hatimu butuh perjuangan sangat ekstra. Ekstra membagi waktu dalam dunia kenyataan dan dunia halu. Sempat berminggu-minggu sakit, dan pada akhirnya cerita ini bolong beberapa kali hingga terlalu lama. Tapi berkat doa dan support dari keluarga juga kalian para pembaca setia Menyentuh Hatimu, Dhi jadi semangat lagi.


Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan dan tidak sesuai ekspektasi kalian. Tak lupa juga Dhi ucapkan terima kasih banyak atas kebersamaan kalian yang sudah menyempatkan diri membaca, memberi vote, like, dan komentar, disela-sela kesibukan kalian. Semoga cerita Menyentuh Hatimu ini dapat menghibur kalian semua yaa ...


Terima kasih dan salam hangat dari Dian Dhi 😊😉🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2