Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Perdebatan Panas


__ADS_3

“Tidak ingin terlibat dalam urusan apa maksudmu?” tanya Kayden menahan geram, setelah sebelumnya berjalan cepat mengikuti Gwen di belakangnya sambil menggenggam ponselnya.


Gwen masih menutup rapat bibirnya. Sejenak, ia berpikir bahwa sekarang dirinya mengetahui semuanya, segala sesuatu tentang Kim bersaudara yang ternyata sangat cerdik membangun kebohongan terkutuk ini.


“Aku tidak akan berperan sebagai pemeran pengganti bagi pria Kim sialan lainnya,” kata Gwen geram sembari memutar tubuhnya ke arah Kayden.


“Tidak ada yang mengharapkanmu melakukan itu, Gwen!” sahut Kayden, lalu mencengkram kuat ponselnya.


“Benarkah?” Dagu Gwen terangkat, mata cokelat kehitamannya semakin menggelap, diselimuti rasa sakit mendalam saat ia dengan getir menyanggahnya.


“Tuduhanmu sangat salah, Gwen.”


Gwen tersenyum sinis, lalu dengan muram ia bertanya, “Tuduhan yang mana menurutmu? Kebenaran bahwa kau berhasil menikmati tubuhku atau kebenaran bahwa kau mencintai Valerie?”


“Gwen!” sentak Kayden yang mulai kehilangan kesabarannya.


“Apa?” seru Gwen yang kembali mengangkat dagu, menantang suaminya dengan tatapan tajamnya. “Kau sama saja seperti Rainer, Kay!”


Seketika rahang Kayden mengeras dengan mata berkilat marah karena pernyataan kasar istrinya begitu sangat menyayat hatinya. Ia tak terima dengan tuduhan Gwen yang semakin menyudutkannya. Dan dengan langkah lebar, ia berjalan ke arah Gwen, tangan kirinya menarik kasar pinggang wanita itu hingga Kayden menunduk, kemudian mencium kasar bibir istrinya.


Gwen membungkam mulutnya, memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan agar Kayden tidak kembali berhasil mencium bibirnya. Menurutnya, cukup sudah ia masuk ke dalam perangkap pria ini dan tak ingin melakukan kebodohan yang berikutnya. Hatinya terlampau sakit, lebih sakit dari pada rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat percintaan yang panas dan liar semalam.


Bukan Kayden Kim namanya jika dia tidak bisa menaklukan apapun. Kali ini ia tidak akan menyerah, tidak akan melepaskan wanita yang sudah lama diincarnya, dan cukup sudah kesabaran yang diberikannya. Bibir istrinya begitu manis untuk disayangkan melontarkan kalimat kasar kepada dirinya.


Oleh sebab itu, Kayden terus mencium bibir Gwen dengan rakus. Mendapati penolakan dari wanita tersebut, Kayden malah mencium dan menggigit kasar lehernya yang terekspos saat istrinya memalingkan wajah. Ia menyeringai puas ketika mendengar rintihan kesakitan dari Gwen hingga membuat lidah Kayden dengan mudah memasukinya.


Beberapa detik berlalu, dan puas dengan memainkan lidahnya di rongga mulut Gwen, bibir Kayden yang terasa panas mencium bibir istrinya dengan kasar, kemudian pria itu menggigit kecil bibir bawah Gwen yang mulai membengkak.


Gwen hampir kehabisan napas karena ciuman yang tak ada hentinya, sehingga suaminya menghentikan ciuman penuh gairah dan sedikit kasar itu. Kayden memberikan sedikit jarak, tapi deru napasnya cepat.

__ADS_1


Gwen ingin mendorong dan menampar wajah Kayden, tetapi ia sama sekali tak bisa bergerak. Pria itu mengunci dengan tubuhnya.


Detik kemudian, setelah Kayden dapat mengendalikan emosinya dan deru napasnya teratur, ia berkata penuh penegasan, “Aku tidak suka kau membandingkanku dengan Rainer! Kami sangat berbeda.”


Dagu Gwen terangkat, bola matanya berkilat oleh amarah. “Lalu apa namanya jika kau mencintai istri adikmu sendiri sedangkan kau terpaksa menikahi mantan adik tirimu itu?”


“Aku tidak mencintainya, Gwen!” ujarnya sungguh-sungguh. “Aku tidak mencintai—”


“Diriku,” sahut Gwen memotong kalimat suaminya yang belum terselesaikan.


“Demi Tuhan, Gwen! Hentikan omong kosong ini.”


“Tidak akan lagi!” Gwen sependapat. “Tidak!”


Mata Kayden menyipit. “Apa maksudmu?” desaknya.


“Singkirkan tanganmu dariku.” Gwen mencoba mendorong pria itu agar menjauh, tetapi Kayden tidak melepaskan.


“Karena kejadian panas semalam tidak akan terjadi lagi,” Gwen memberitahunya dengan muram. “Kita tidak perlu mengkhawatirkan siapa yang mencintai siapa!” Ia mencoba menepis tangan pria itu, dan sekali lagi cengkraman Kayden mengencang.


“Karena kau mendengar sesuatu yang tidak kau sukai?” tanya Kayden mengejek.


Mata Gwen berkilat-kilat. “Karena itu seharusnya tidak terjadi sejak awal!” tukasnya, masih meronta.


“Tapi itu terjadi,” kata Kayden, “Kita bercinta—”


“Kita berhubungan intim!” sahut Gwen tajam.


“Hubungan intim yang sangat wajar dalam hubungan suami istri,” Kayden mengoreksinya. “Hubungan intim yang luar biasa dan menakjubkan.”

__ADS_1


“Kau pasti tahu bedanya, bukan?” bentak Gwen getir.


“Ya,” Kayden menghela napas. “Aku sangat tahu bedanya.” Kemudian sorot matanya menggelap menjadi nyaris posesif. “Jadi kuberitahu supaya kau tidak keliru mengartikan, bahwa yang kita alami semalam tidak bisa diperoleh dengan sembarang orang karena memang tidak dibenarkan dalam ikatan pernikahan!” tukasnya serak. “Tadi malam itu istimewa. Terlalu istimewa untuk kau hina!”


“Aku tidak menghinanya!” seru Gwen.


“Dengar, Gwen,” Kayden kembali pada sikapnya yang memerintah. “Tapi bukan itu yang menjadi masalah di sini,” Ia melanjutkan dengan muram. “Masalahnya adalah, apakah semalam ketika kau mengatakan menginginkanku—” Dia terdiam sejenak, sesuatu yang sangat mirip penderitaan berkelebat di wajahnya yang keras dan tampan. “Dengan semua gairah dan lainnya itu,” dia mengakhiri dengan serak, “apakah kau berpura-pura menginginkanku, alih-alih bahwa aku adalah adik tiri sialanku itu?”


“Demi Tuhan, Kay. Tentu saja tidak!” Gwen menyangkalnya sengit.


“Kalau begitu, apakah kau mulai cemburu pada Valerie?”


Gwen langsung menelan ludah, bibirnya masih terkatup rapat.


Sedangkan Kayden yang semakin geram sebab Gwen tidak segera menjawab pertanyaannya, ia kembali mencium bibir Gwen dengan kasar. “Ayo, katakan padaku apa kau mulai cemburu dengan wanita itu?” desaknya, setelah sebelumnya ia melepaskan ciumannya terlebih dulu.


“Hentikan, Kay …” kata Gwen, deru napasnya tersengal-sengal akibat ciuman itu.


“Bukan jawaban itu yang ingin ku dengar!” geram Kayden. “Atau kulakukan lebih dari ini secara kasar, Gwen? Asal kau tahu, aku juga punya batas kesabaran—”


“Ya!” seru Gwen, air matanya merebak oleh cara kejam Kayden yang membuatnya menyadari itu. “Valerie,” bisiknya. “Kenyataan pahit yang harus kuterima bahwa Rainer telah mencintainya. Dan kau,” Ia menekankan di akhir kalimatnya. “Juga mencintainya. Kau dan Rainer memanfaatkanku demi tujuan kalian sendiri! Tidak ada yang mencintaiku secara tulus.”


Kayden bergeming karena menatap manik Gwen yang berlinang air mata. Ia memutuskan tidak menyanggah ataupun mendebatnya. Pria itu akan memberikan kesempatan pada istrinya untuk mengutarakan perasaannya yang bergejolak akibat ke salah pahaman ini.


“Tidakkah menurutmu sudah cukup memalukan untuk mengetahui dia mengambil pria yang kucintai dariku?” tanya Gwen putus asa. “Dan sekarang, dia juga akan mengambil pria yang sudah menjadi suamiku, lalu menghantui setiap saat yang kita lalui bersama tadi malam.”


Entah mengapa perkataan itu membuat Kayden marah. "Dengar, Gwen. Tidak sedikitpun terlintas dipikiranku untuk memanfaatkanmu. Tidak juga ada wanita lain yang menghantui kebersamaan kita tadi malam,” ujarnya tegas. “Dan jika kau memiliki sedikit harga diri, kau tidak akan membiarkan pria lain menghantui tempat tidurmu!”


“Itu tidak benar!” seru Gwen tak kalah sengit, akhirnya berhasil membebaskan diri dari cengkraman suaminya dan nyaris tersandung selimut yang berjuntai.

__ADS_1


Namun, betapa sialnya Gwen saat satu sudut selimut tertarik, lalu terlepas dari jemarinya sehingga sebelah bahu dan dadanya tersingkap.


__ADS_2