
'Kayden Kim menikahi Gwen Sandriana Decker, setelah Rainer Kim meninggalkannya di altar pernikahan untuk menikahi Valerie Gibson!' Begitulah sebagian isi artikel tersebut yang berisi kebohongan belaka demi judul yang menarik.
“Itu berarti, Rainer berencana meninggalkanku jauh sebelum dia repot-repot memberitahuku bahwa dia tidak menginginkanku,” gumam Gwen dalam hati yang kemudian tersenyum getir.
Isi artikel tersebut sebenarnya masih panjang. Akan tetapi, Kayden yang kebetulan berjalan ke dapur setelah sebelumnya pria itu mencari Gwen di kamarnya, ia langsung merampas kasar koran tersebut dari tangan Gwen.
Amukan yang dilampiaskannya pada Paman Robbert karena membawa surat kabar itu ke rumah, sudah cukup membuat pria paruh baya itu memucat, kemudian berlalu dari dapur tersebut. Dan sementara Gwen, ia hanya duduk di sana, bergidik jijik ketika menyadari betapa mengerikan tipu muslihat Rainer.
“Mengapa para wartawan bisa tahu dan memberitakannya?” tanya Gwen kepada Kayden, menyeret pikirannya dari kejadian yang nyaris membebaskannya dari shock yang membuatnya mati rasa.
“Maafkan aku,” pinta Kayden dengan sungguh-sungguh. “Mungkin salah satu wartawan ada yang mengikuti Rainer sehingga adikku tidak menyadarinya. Rainer tidak berhati-hati dalam melakukan tindakannya.”
“Astaga … bagaimana jika paman dan bibiku mengetahui hal ini?” Gwen bertanya frustrasi seraya berdiri dari tempat duduknya dan menatap wajah Kayden.
“Aku pastikan koran itu tidak sampai di tangan paman dan bibimu.” Kayden mencoba meyakinkan Gwen. “Setelah pagi tadi aku membaca koran ini, aku langsung mengutus salah satu anak buahku lagi untuk segera pergi ke rumah paman dan bibimu, dan juga mengantarkan mereka liburan ke Cina saat itu juga dengan menaiki jet pribadiku.”
“Apa paman dan bibiku sempat membaca koran pagi ini?”
“Tidak,” sahut Kayden yakin. “Menurut anak buahku, sewaktu pagi tadi dia berdiri di depan pintu rumah paman dan bibimu untuk mengetuk pintu, dia melihat koran ini masih di teras depan. Jadi dia langsung mengambilnya dan menyembunyikan koran tersebut.”
Gwen yang mendengar penuturan dari Kayden, akhirnya ia bisa bernapas lega. Wanita itu tak bisa bayangkan, entah apa yang terjadi jika paman dan bibinya membaca artikel terkutuk itu.
“Kau tenang saja. Sebelum anak buahku sampai di rumah paman dan bibimu, pagi tadi aku menghubungi pamanmu dan memaksanya agar berangkat ke Cina pagi itu juga tanpa harus menunggu esok hari.” Kayden lantas menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya, “Awalnya memang tak mudah meyakinkan pamanmu. Tetapi, setelah aku mencoba sekali lagi meyakinkannya, bahwa aku akan menjaga keponakan tersayang mereka dengan segenap hatiku dan aku pastikan kondisi keponakan tersayangnya aman selama bersamaku, baru pamanmu itu menyetujuinya.”
__ADS_1
Gwen pun masih terdiam. Dia hanya menatap wajah Kayden yang terlihat tampan dan tenang. Wanita itu tak memungkiri kakak beradik Kim memang begitu tampan. Tetapi satu hal yang sekarang membuat Gwen tersadar, bahwa keputusan Kayden yang selalu tepat untuk segera mengambil keputusan dalam hal apapun itu, bertolak belakang dengan Rainer yang tergesa-gesa memutuskan sesuatu tanpa berpikir panjang sehingga menimbulkan kekacauan.
“Terimakasih, Mr. Kayden,” kata Gwen lirih. Ia mencoba memberanikan diri mengucapkan kalimat itu.
“Jika kau ingin berterimakasih kepadaku, bisakah kau hanya memanggil namaku saja tanpa ada awalan, Mister?” Kayden memintanya dengan sungguh-sungguh. “Telingaku agak gatal jika mendengarkan kalimat, Mr. Kayden. Entahlah, seperti ada ulat bulu bertubuh tambun yang berjalan ditanganku.”
Gwen yang mendengarkannya pun seketika berhasil tersenyum.
Dan Kayden sendiri, ia juga tersenyum lebar. Sungguh pemandangan yang langka karena sesuatu yang tidak pernah Gwen lihat sebelumnya dilakukan pria itu. Senyuman Kayden mengubah penilaiannya, bahwa atasannya yang sekarang resmi menjadi suaminya, bukanlah pria dingin dan angkuh seperti kebanyakan orang yang menilainya.
Seakan tak ada jawaban dari Gwen, Kayden kembali mengulang pertanyaannya, “Bagaimana, apa kau bisa menerima permintaan kecilku itu?”
“Aku …” Gwen menggigit bibir bawahnya. “Akan mencobanya, Mister …” Ia lantas menggelengkan kepalanya untuk mengoreksi kalimatnya yang salah. “Maksudku, Ka-Kayden. Ya, Kayden.” Dengan jantung yang berdegup kencang, Gwen akhirnya memberanikan diri dan menuruti permintaan kecil dari suaminya.
Gwen hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Dan satu lagi, aku minta kau berhenti berbicara formal kepadaku. Bisakah kau melakukannya?”
“Hemm … akan aku coba.” Gwen menjawab ragu-ragu. “Baiklah, aku akan mandi terlebih dahulu.” Ia mencoba mengalihkan topik pembicaraan di antara mereka, karena hal itu membuat Gwen canggung.
“Oke, silahkan,” jawab Kayden. “Oya, kopermu yang berisi beberapa pakaianmu sudah ada di dalam kamar kita.”
Gwen mengernyit karena bingung. “Kita?”
__ADS_1
“Ya, kamar kita. Tempat tidur yang kau tempati semalam, dulunya adalah kamarku. Berhubung sekarang statusku sudah berubah menjadi pria yang beristri, jadi aku tak bisa mengatakan kamarku lagi, bukan?” Kayden menjelaskannya. “Dan sekarang, sebagai istriku kau mempunyai hak atas semua isi rumah ini termasuk kamar tidur kita.”
“Oh,” jawab Gwen datar tanpa minat. Ia lebih memilih berlalu meninggalkan Kayden sendirian di dapur untuk menuju ke kamar mandi yang letaknya di dalam kamar Kayden. Lebih tepatnya kamar yang beralih status menjadi kamar sepasang suami istri itu.
Kayden yang melihat punggung Gwen berlalu meninggalkannya, seketika pria itu menarik sudut bibirnya ke atas. “Langkah pertama sudah berhasil. Gwen sudah mau memanggil namaku. Langkah selanjutnya, aku harus bisa menghapus bayang-bayang Rainer dari pikirannya.”
***
Lima belas menit setelah Gwen membersihkan tubuhnya, ia lantas ke luar dari kamar mandi dengan memakai dress santai selutut berwarna biru muda, setelah sebelumnya dia mengambilnya dari kopernya. Gwen kemudian berdiri di depan cermin untuk menyisir rambutnya.
Namun, tiba-tiba Gwen teringat Rainer kembali ketika ia menatap wajahnya di pantulan cermin. Dia merasa seolah menatap orang yang sama sekali asing. Seorang wanita dengan mata cokelat besar yang kosong adalah orang berbeda.
Bahkan satu-satunya yang ia kenal, yang mengatakan bahwa benar-benar dirinyalah yang berdiri di sana, adalah rantai emas halus di lehernya dengan liontin berbentuk hati yang tergantung di rantai, dan berisi foto wajah orang tuanya yang sangat ia sayangi serta dirindukannya.
Jari-jarinya yang dingin dan gemetar menyentuh liontin tersebut dengan lembut. Air mata pun jatuh membasahi pipi mulusnya dan mengaburkan sosok yang terpantul di cermin.
“Kenapa menangis?”
Dengan agak terkejut, Gwen mengerjap-ngerjap mengusir air matanya. Bulu matanya yang lentik bergetar saat ia memfokuskan pandangan pada wajah serius Kayden di cermin.
“Tidak, aku tidak menangis. Mataku hanya perih terkena sabun tadi,” kilah Gwen menutupinya.
“Apa kau yakin hanya itu?” Kayden bertanya penuh menelisik seraya mengernyitkan kedua alisnya yang nyaris menyatu.
__ADS_1
“Ya, hanya itu,” sahut Gwen. Dengan cepat ia mengusap sisa air matanya yang sempat mengalir.