
“Memangnya kau ingin melihatnya lagi?” tanya Kayden. Mengusik Gwen dengan sorot mata dingin yang disipitkan.
“Astaga … Tapi kan—”
“Tidak ada tapi-tapian,” potong Kayden. “Aku benci melihat benda-benda itu. Jadi aku menyingkirkannya. Bahkan kalaupun kau keberatan, sudah terlambat. Kau sekarang istriku, Gwen,” tambahnya muram. “Bukan istri Rainer. Dan barang-barang yang kau beli untuk menyenangkannya tentu tidak akan dan tidak sama sekali menyenangkanku.”
“Tapi bagaimana dengan semua uang itu, Kay?” seru Gwen. Terlepas Kayden benar atau salah, ia tak suka melihat pria itu menghamburkan uang begitu saja.
Kayden tersenyum menyeringai sebelum ia berkata, “Uang siapa? Uang Rainer maksudmu?”
Gwen seketika menundukkan kepalanya. Memang benar adanya, Rainer lah yang telah mengeluarkan uang untuk seserahan pernikahannya. Gwen hanya sekertaris junior dengan penghasilan yang minim. Seperti yang dijelaskan Rainer kepadanya sewaktu membicarakan bulan madu mereka, Gwen akan menjadi tanggung jawabnya. Jadi, mengapa dia tidak boleh membayar jenis pakaian yang dia harap dan dikenakan istrinya?
“Tidak perlu memusingkan soal itu,” tukas Kayden. “Karena uang apapun yang dibelanjakan Rainer untukmu, asalnya dariku. Jadi menghamburkan uang itu urusanku, bukan urusanmu. Sana ganti pakaian,” perintahnya, kemarahan berkelebat di matanya. Pria itu tidak menyukai jika nama Rainer disebut-sebut kembali diantara obrolan mereka. “Ada jamuan bisnis yang harus kita hadiri malam ini. Tetapi sebelumnya, kita harus menuju kantorku untuk mengambil beberapa dokumen yang perlu kupelajari sebelum kita bertemu orang-orang ini,” tegasnya.
Semula memang rencananya Kayden sendiri lah yang akan menghadiri jamuan makan malam bersama relasinya. Akan tetapi, sekarang rencana itu berubah karena kekesalannya kepada Gwen masih belum surut.
“Kita?” Kepala Gwen tersentak tegak, ia menahan napas karena terkejut. “Astaga … tapi aku butuh tidur seharian … Kayden!” serunya. “Lagi pula kau tidak membutuhkan ku untuk—”
“Namamu sekarang, Gwen Sandriana Kim, Nyonya besar Kim.” Kayden memotong kalimat wanita itu. Ia kemudian menghampirinya, dan jemarinya menekan pundak Gwen dengan keras. “Dengar,” kata Kayden. “Di mata semua, kita suami-istri. Dan sebagai istri, sudah menjadi tugasmu untuk berada disisiku sementara aku menjamu mereka. Apakah itu permintaan yang terlalu besar?”
“Ti-tidak. Tentu saja tidak,” jawab Gwen gugup.
__ADS_1
“Bagus.” Kayden mengangguk. “Jadi, apakah kau ikut aku ke kantorku, atau lebih suka duduk di sini maratapi seserahanmu yang hilang?” ucapnya sehingga menyakiti Gwen.
Wanita itu tidak mengerti mengapa Kayden tiba-tiba menyerangnya seperti ini. Di mana kelembutannya berbelas-belas jam yang lalu? Pikirnya suram.
“Aku akan ikut denganmu,” Gwen mengiyakan dengan datar. “Tapi, asal kau tahu. Aku tidak peduli apa yang kau lakukan dengan pakaian-pakaian itu. Tapi aku keberatan jika kau menyiratkan bahwa aku perempuan materialistis! Dulu aku memang tulus mencintai Rainer. Dan aku memutuskan menikahinya karena pribadinya yang kusangka asli—bukan karena dia kaya sehingga aku mendapatkan apapun darinya!”
“Kau masih belum bisa membuka topeng Rainer.” Kayden membalas dingin. “Tapi pada akhirnya dia akan menghianatimu juga, kan?”
Gwen menunduk, ejekan kejam tersebut kembali lagi menyakitinya.
“Dengar,” kata Kayden melanjutkan, berpaling tidak sabar. “Aku muak mendengar nama Rainer dari bibirmu. Aku tidak suka obrolan diantara kita mengungkit namanya.”
Gwen mengangkat kepalanya tidak sabar. “Oh, Demi Tuhan, Kayden!” serunya. “Tapi kau yang memaksaku sehingga menyebut namanya.”
“Ap-apa maksudmu?” Gwen terkesiap, mulai pusing dengan semua kejutan yang dilontarkan Kayden kepadanya.
Kayden pelan-pelan berbalik menghadapnya, matanya menyipit dan sangat waspada saat dia bertanya hati-hati, “Tentang apa, tepatnya?”
“Kayden,” desahnya, kegelisahan mendalam membuat ujung lidahnya membasahi bibirnya yang tiba-tiba kering. “Kita tidak berbagi kamar ini, kan?”
“Tentu saja,” Kayden memberitahunya, matanya semakin menyipit ketika secercah warna yang tersisa lenyap dari wajah Kayden.
__ADS_1
“Ini suite room dengan satu kamar. Tentu saja kita harus berbagi.”
Gwen menatapnya ngeri. Suite room dengan satu kamar dan satu tempat tidur. “Tidak,” bisiknya ketika tanda bahaya menghujam bagaikan seribu jarum tajam menembusnya. “Itu tidak adil. Aku sudah melakukan semua hal yang kau inginkan, Kay. Tapi aku tidak mau tidur seranjang denganmu.”
“Kenapa tidak?” desak Kayden, kemudian ia tersenyum menyeringai. “Tidak ada dosa yang menghalangi suami dan istri tidur di ranjang yang sama.”
“Dalam hal ini ada,” Gwen menyanggah, berusaha keras menjaga suaranya agar tetap setenang Kayden. Pria itu tidak boleh tidur dengannya. Gwen kemudian menggelengkan kepalanya sebelum ia berkata, “Pokoknya tidak boleh dan aku menolak!”
Kayden menghela napas lelah sebelum ia berkata, “Dengar, Gwen. Ini kamar suite terbaik ketika aku datang kemari. Dan semua orang di hotel ini mengenalku. Menurutmu bagaimana pendapat mereka jika aku tiba-tiba meminta suite dua kamar, padahal mereka tahu aku baru saja menikahi wanita cantik?”
Gwen menelan ludah, sangat memahami pria itu. “Tapi—” Tiba-tiba telepon di ruangan lain berdering.
“Jadilah istri yang baik dan berpakaianlah,” kata Kayden ketika dia berbalik untuk menjawab telepon, menambahkan dengan santai ke balik pundak, “Aku akan sekalian memesan makanan dan kita akan makan di sini sekarang karena sudah sangat terlambat. “Lima belas menit, Gwen,” dia menuntaskan dengan tegas.
“Tidak heran dia menjadi pengusaha brilian,” kata Gwen setelah ditinggalkan, menatap hampa ruangan kosong itu. “Pria itu bisa mencabik-cabik sanggahan apapun tanpa perlu bersusah payah. Dan seharusnya aku mengingat hal itu.” Kemudian dia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit dengan perasaan tak berdaya.
Bekerja untuk Kim Corporation, Gwen pastilah buta dan tuli kalau sampai tidak tahu apa-apa tentang pria yang sudah menggajinya. Bukan karena ia pernah menjalin kontak dengan Kayden Kim—bukan juga karena sering melihatnya di ruangan kantornya yang bertingkat dan luas, sehingga sang bos yang menempati lantai paling atas jarang menginjakkan kaki di tempat anak buahnya bekerja. Akan tetapi, Gwen terkenang mengingat kembali momen singkat sebelum ia bertemu dengan Rainer, ketika matanya bertubrukan dengan manik hitam Kayden.
Kala itu, Gwen sedang menyusuri koridor dengan lengannya penuh berkas yang baru saja diambilnya dari bagian arsip. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak bisa menghindar ke samping saat orang-orang menghambur ke arahnya seperti kawanan ternak, sehingga terjebak di antara dinding tubuh-tubuh manusia itu. Mereka sudah berusaha menghindari, tetapi Gwen membiarkannya.
Namun, seorang pria yang tampak agak mengerikan dengan kernyitan agresif di wajah, tidak sengaja menubruk lengan Gwen begitu keras sampai-sampai ia terhuyung, berkas-berkas beterbangan ke satu arah, dan tubuhnya terjatuh ke arah lain.
__ADS_1
Pria itu bahkan tidak meminta maaf, malahan melangkah pergi tanpa menoleh untuk melihat kekacauan yang dia tinggalkan. Ya, pria itu adalah Kayden Kim sang bos besar di Kim Corporation.