Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Pasangan Harmonis


__ADS_3

Merasa sangat dikecewakan oleh Kayden, Gwen merangkul diri dengan kedua tangannya. Ia terisak pilu dan sejenak mencoba berpikir, apakah Kayden menghukumnya karena Rainer?


Rainer Kim, nama itu menyelinap seperti embusan udara sedingin es yang terasa menusuk hingga ke pori-pori kulit. “Pergi!” bisiknya muram melihat kehadiran pria tersebut di dalam isi kepalanya.


Lima menit kemudian, bunyi gerakan dari kamar mandi membuat Gwen segera mengusap air matanya. Dengan cepat, ia menanggalkan gaunnya yang sudah tak berbentuk dari tubuhnya, dan menggantinya dengan jubah satin. Jemarinya gemetar ketika ia melilitkan sabuk, giginya bergemeletuk di belakang bibir yang terkatup rapat saat kemarahan mulai membuncah dalam dirinya.


“Aku harus menyingkirkan nama Rainer dari kepalaku,” kata Gwen getir.


Pintu kamar mandi terbuka dan Gwen berjalan ke arah Kayden dengan dagu terangkat, bola matanya berpijar dalam kemarahan pahit. “Jangan pernah melakukan itu lagi padaku!” ujarnya, langsung ke wajah pucat Kayden. Masih dengan kobaran amarah, ia seketika melewati suaminya menuju ke kamar mandi, kemudian membanting pintu di belakangnya.


Dada Gwen naik turun, jari mungilnya mengepal dan membuka di sisinya. Monster bermata hitam bernama kecemburuan benar-benar membuat hatinya seolah teriris sehingga ia merasa ingin mencakar pria itu.


Gwen terus mencerca marah dalam hati sembari menanggalkan apa yang tersisa dari pakaiannya, lalu melangkah ke bawah pancuran.


“Astaga …” Tiba-tiba tangisannya kembali pecah di bawah pancuran air hangat yang mendesis, dan ia tidak bisa menghentikannya. Rasanya seperti menaiki roller coaster sampai-sampai sepertinya ia tidak sanggup menanggung perasaan ini. Perasaan melebihi sakit hatinya ketika Rainer mencampakannya.


Namun, sekali lagi Kayden ada di sana. Dia harus menghentikan dan mengakui kesalahan yang diperbuatnya sebelum Gwen menyiksa dirinya sendiri lebih dari ini. Oleh sebab itu, satu tangan Kayden mematikan kran air pancuran, sedangkan satu tangannya lagi memegangi lengan Gwen, menarik wanita itu ke luar dari bilik pancuran hingga membentur dada bidangnya. Detik berikutnya, jubah mandinya di sampirkan ke pundak Gwen, lalu kedua lengan kekarnya memeluk istrinya.


“Aku sungguh minta maaf dan sangat menyesalinya.” Suara Kayden terdengar parau saat Gwen bersandar dalam pelukannya, membiarkan segala sesuatu membanjir ke luar dari dirinya.


Gwen terdiam, tidak menanggapinya. Akan tetapi, ia sangat tahu bahwa Kayden mengatakannya sungguh-sungguh dengan sepenuh hati. Terbukti dari jemarinya yang bergetar ketika pria tersebut memeluk erat tubuh mungilnya, menyiratkan rasa penyesalan yang mendalam. Lagi pula, Gwen menyadari pertengkaran hebat malam ini tidak sepenuhnya salah Kayden. Dirinya ikut andil memancing sisi buruk lainnya dari pria itu sehingga berperilaku demikian.


Akibat terlalu lama menangis, seketika Gwen merasa lemas sebelum akhirnya dirinya lunglai. Kayden sendiri tidak mengatakan apa-apa di tengah keheningan yang menyusul badai emosinya. Dia hanya meloloskan tangan Gwen yang lemas ke lengan jubah mandi menyelubungkan jubah itu di tubuhnya, mengikatnya kuat-kuat, kemudian membopong istrinya untuk membawanya ke tempat tidur.


Pada akhirnya Gwen tertidur dalam balutan jubah mandi yang terbungkus lengan Kayden. Ia mendapatkan kenyamanan aneh saat Kayden tidak melepaskan jubah mandinya sendiri sehingga mereka meringkuk nyaman dalam selubung handuk putih lembut.

__ADS_1


***


Paginya, Gwen terbangun dan mendapati Kayden tidak ada di tempat tidur. Dan pada saat ia akan beranjak dari ranjang empuknya, Gwen mengernyit karena melihat selembar kertas di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Perlahan, tangannya terulur mengambil kertas tersebut untuk dibacanya.


Ternyata surat itu dari Kayden. Suaminya hanya meninggalkan pesan singkat yang memberitahukan ke mana dia pergi, tetapi tidak memberi petunjuk tentang bagaimana perasaannya pagi ini atas ledakan amarah Gwen tadi malam. Walau Kayden telah menyatakan penyesalannya semalam, tetapi istrinya ini ingin mendengarnya lagi dalam keadaan emosi yang sudah stabil.


Gwen menghela napas, membenci kegagalannya sendiri karena hantu Rainer yang masih belum bisa ia atasi. Dan ia membenci Kayden karena menghindarinya pagi ini, membiarkannya cemas sendirian memikirkan suasana hati sang suami.


Seketika, suasana hati Gwen berubah menjadi pembangkangan. Jika Kayden bisa mengindar pagi ini, maka dirinya juga bisa.


Pagi ini aku ada rapat bisnis bersama rekan kerjaku. Aku akan kembali ke hotel sekitar jam satu dan kita bisa pergi makan siang bersama. Begitulah isi surat tersebut.


Gwen menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara kasar. Lantas, ia berkata, “Aku tidak ingin berada di sini pada jam satu siang!” Ia memutuskan. Meskipun, dirinya tidak tahu ke mana akan pergi.


Yang Gwen tahu sekarang adalah kebutuhan untuk segera ke luar dalam kamar hotel ini semakin kuat. Sebelum melangkahkan kakinya ke kamar mandi, ia tergesa-gesa mencari tasnya untuk mengambil paspor serta uangnya. Dirasa perlengkapannya sudah cukup, Gwen segera pergi ke kamar mandi, dan bergegas membersihkan tubuhnya.


Gwen terlihat mengenakan blus katun lembut merah sederhana, dipadukan dengan celana panjang katun berwarna putih. Tanpa menunggu lama, ia segera turun dengan paspor serta uang yang tersimpan aman di tas bahunya, bersama kacamata hitam dan dompetnya.


Sebelum Gwen benar-benar menikmati harinya ini seorang diri, ia terlebih dulu menukar uangnya dengan dollar kepada agen penukaran uang di hotel tersebut agar mempermudah segala sesuatunya.


Saat menunggu giliran, Gwen tertarik oleh percakapan pasangan paruh baya Cina yang berdiri dalam antrean. Ia mendapati pasangan tersebut mengikuti tur mengelilingi Kota London bersama rombongan lainnya.


Karena penasaran, Gwen akhirnya memberanikan diri bertanya pada wanita paruh baya itu, “Permisi, apakah aku bisa ikut rombongan kalian?”


Wanita tersebut mengernyit, sedikit terkejut dengan kejujurannya. “Kami?”

__ADS_1


“Ya,” jawab Gwen cepat penuh keyakinan. “Oh, tapi kalian tak perlu khawatirkan biaya tambahannya. Aku dengan senang hati akan membayarnya.”


“Bukan karena masalah uangnya, Nona. Tapi—”


“Oh … ayolah, Sayang,” sahut pria paruh baya yang berada di samping wanita tua itu. “Biarkan saja dia ikut. Lagi pula masih ada satu kursi kosong.” Seulas senyuman terbit dari seraut wajah yang tak lagi muda sebelum memperkenal dirinya kepada Gwen. “Namaku Endru dan ini istriku Emma.”


Gwen mengangguk sembari tersenyum. “Aku, Gwen.” Seakan ingin memastikan dan membuang keraguannya, ia pun bertanya, “Tapi … apakah benar-benar ada kursi kosong untukku?”


“Tentu saja,” jawab Endru, diakhiri senyuman tulusnya.


Kedua bola mata Gwen berbinar bahagia setelah mendengar jawaban tersebut. Senyumnya pun tak luput dari wajahnya. Namun, tak berapa lama senyuman yang menghiasi wajahnya hilang seketika. Raut wajah kecewa muncul dengan sekejab saat Emma yang berdiri di depannya kembali mengeluarkan suaranya.


“Bukankah beberapa jam yang lalu Leo sudah mengabsen kita satu persatu untuk membagi kelompok ini menjadi dua bagian, dikarenakan kursi kapalnya terbatas?”


“Nah, Sayang. Itu kan, beberapa jam yang lalu,” tukas Endru. “Tapi menurut Helen sepuluh menit yang lalu, putra dari Mr dan Miss. Rodrigo tidak ikut perjalanan ini karena dia lelah dan ingin menikmati istirahatnya di dalam kamar hotel. Kebetulan juga mereka masuk dalam kelompok kapal kita," jelasnya. "Maaf, aku lupa memberitahumu tadi."


“Tunggu dulu,” kata Emma sambil mengernyit. “maksudmu putranya yang tampan berumur delapan belas tahun itu?”


Endru memutar bola matanya malas. “Oh … ayolah, Sayang. Wajah anak itu biasa saja. Kau tak lihat ada jerawat tumbuh di sekitar pipinya,” katanya setengah mengejek sambil bergidik ngeri. “Jadi ku pastikan dia masih jauh dariku yang lebih dulu tampan darinya.” Ia mendengus kesal sebelum melanjutkan kalimatnya, “haruskah kuingatkan lagi bahwa aku sangat tidak suka jika kau memuji ketampanan pria lain dari pada suami lebih tampanmu ini?”


Emma tertawa kecil mendengar suaminya merajuk pada dirinya. Dan bagaikan arus listrik, tawa Emma mengalir pada Gwen yang tersenyum melihat tingkah pasangan harmonis walau di usia mereka yang semakin menua.


“Kau cemburu pada bocoh itu ya?” Emma terkekeh sembari merangkul posesif lengan Endru sehingga wajah suaminya semakin cemberut. “Kita sudah tiga puluh tahun hidup bersama, Sayang. Sekalipun aku mengatakan semua pria di seluruh jagat raya ini tampan, tetapi dihatiku yang terdalam suamiku lebih tampan dari mereka. Jadi, berhentilah cemburu karena aku yakin Tuhan menciptakanmu untuk aku cintai. Dan Tuhan memilihmu dari yang lain karena tahu aku paling mencintai dirimu.”


“Ya, Tuhan …” kata Endru segera menoleh ke arah istrinya. “Seperti biasa, kau lebih pintar menyenangkan hatiku.” Lantas, ia mencium bibir Emma yang tersenyum padanya. “Aku tergila-gila padamu karena aku sangat mencintaimu, tesoro.”

__ADS_1


Gwen tersenyum tipis dan hatinya langsung menghangat tatkala melihat pasangan tersebut. Ia begitu takjub kepada Emma sebab kalimat yang dilontarkan dari bibirnya mampu melelehkan kecemburuan suaminya.


Cemburu? Tiba-tiba Gwen mengingat suaminya sendiri. Pria itu selalu menampakkan sikap agresifnya jika Gwen tidak sengaja menyebut nama adik tirinya. Namun, apakah Kayden tetap akan cemburu pada pria lain selain adik tirinya itu? pikirnya muram.


__ADS_2