
Berjam-jam pun berlalu. Gwen tiba-tiba membuka matanya karena sedikit guncangan dari pesawat akibat menabrak awan. Ia merasakan sensasi aneh yang mengerikan sehingga membuat perutnya tidak enak.
Diperlukan beberapa menit kesunyian yang suram dan tegang sebelum ia berhasil membendung perasaanya. Wanita itu lantas mengamati sekitarnya dengan penuh minat.
Kabin gelap, dengan samar mesin pesawat nyaris tak mengusik keheningan di sekitarnya. Seseorang telah merebahkan kursinya dan menutupinya dengan selimut tipis, dan bantal diposisikan di bawah pipinya. Tirai menutupi jendela-jendela bundar, tetapi ketika melirik ke sana, ternyata di luar sama gelapnya dengan di dalam pesawat.
Gwen menoleh perlahan, mendapati dirinya menatap langsung wajah Kayden yang lelap. Kedekatan tak terduga itu membuatnya terkejut. Untuk sejumlah alasan, ia tidak menyangka pria itu akan tertidur tepat di sebelahnya, dan Gwen merasa agak gelisah melihat Kayden seperti ini, ditambah lagi dengan pernyataan yang dilontarkannya beberapa jam yang lalu.
Seperti miliknya, kursi Kayden dimiringkan ke belakang, kepalanya yang gelap terkulai santai di pundak, menghadap ke arah Gwen. Terlihat beberapa kancing atas kemeja dari pria itu dibuka, dan manset lengannya digulung sehingga menampakkan bulu halus serta gelap di lengannya yang kuning langsat.
Tangannya pun ditautkan longgar di atas perut ratanya. Cincin emas yang Gwen pakaikan di tangan kanan Kayden atas desakan pria itu berkilau lembut dalam keremangan. Gwen seketika melirik tangannya sendiri, terkatup dalam cara yang mirip dengan Kayden, lalu mengamati cincin serasi yang ia kenakan.
“Menikah, dengan pria tak terduga. Dan suamiku ternyata adalah bosku sendiri,” kata Gwen lirih. Ia lalu tersenyum muram merekah dibibirnya saat ia menatap lekat-lekat wajah pria itu. “Apa yang sebenarnya pria ini pikirkan tentang ikatan yang telah dia lakukan? Apa benar, dia menyukaiku? Tapi jika dia benar-benar menyukaiku, mengapa sebelum adiknya dia terlalu pengecut untuk mengatakannya kepadaku?” batinnya.
Seperti biasa, wajah Kayden tidak mengungkapkan apa-apa. Bahkan dalam kondisi tertidur lelap, wajah Kayden masih menyimpan pemikiran-pemikirannya sendiri. Tetapi, dengan mata hitam dingin tersembunyi di balik mata yang membentuk dua lengkungan gelap pada tulang pipinya yang tinggi, raut wajah Kayden melembut sementara garis-garis keras tekad yang agresif itu menyurut dalam lelap. Dan bibirnya terihat lebih lembut, lebih ramah, membentuk lengkungan halus yang yang tampak sensual di mata Gwen.
Itu mengejutkan, karena wanita itu tidak pernah memikirkan Kayden seperti itu sebelumnya. Namun, sekarang ia merasakan desiran dalam dirinya, mirip sapuan ujung jemari pada lapisan dalam perutnya, dan jantungnya semakin berdegup kencang tak karuan.
“Tidak, ini tidak benar.” Gwen menyangkal dan menutup matanya lagi, menghalangi pemandangan itu—menghalangi lelaki tersebut. Kayden mungkin sudah menjadikan dirinya tak tergantikan untuk Gwen saat ini, tetapi wanita itu tidak ingin mulai merasa seperti itu tentang Kayden. Rasanya terlalu mirip keputusasaan.
“Rainer …” Dengan sedih dan terluka, desahan nama itu lolos dari bibir Gwen.
“Kau sudah bangun?”
Gwen membuka mata lagi dan mendapati dirinya menatap langsung manik gelap Kayden, tetapi sorotnya tidak terlalu menyelidik dalam kegelapan. “Apakah Kayden tahu saat aku mulai memikirkan, Rainer?” batin Gwen. Sungguh aneh cara pria itu selalu berhasil menembus pikirannya, bahkan sebelum Gwen sempat mengenang wajah mulus dan manis Rainer Kim.
“Kenapa?” tanya Kayden dengan suaranya yang berat karena Gwen tak kunjung menjawab.
“Aku sudah bangun.” Gwen dengan pelan menyatakan yang sudah jelas. “Berapa lama lagi perjalanan kita?” tanyanya.
__ADS_1
Kayden mengangkat lengan, matanya menyipit saat memandang jarum jam yang melekat di pergelangan tangan kirinya. “Enam jam lagi, kurang lebih,” dia memberitahunya. Ia lalu mengangkat tangan, ujung jemarinya menyibak rambut yang menjuntai di pipi Gwen. Tindakan itu mengejutkan Gwen—bukan berarti karena pria itu menyentuhnya, tetapi karena sensasi mendesir yang sama di perutnya telah membuatnya tersentak menjauh.
Gwen langsung tersadar dengan sangat menyesal, bahwa sikapnya telah menyinggung perasaan Kayden seolah-olah ia menyerang pria itu. Jejak kelembutan lenyap dari wajah pria itu, dan Kayden langsung menegakkan tubuhnya kembali. Sandaran kursinya ia tegakkan, kemudian menyalakan lampu di atas kepalanya.
Gwen tetap terdiam di tempatnya beberapa saat, perasaan bersalah meremas dadanya. Lalu ia perlahan menegakkan tubuhnya. “Maaf,” katanya. “Aku—”
“Ayahmu dan ibumu seorang insinyur, bukan?” Kayden memotong permintaan maafnya.
Gwen mengernyit karena pria itu mengetahui tentang mendiang orang tuanya. Kemudian ia bertanya, "Bagaimana kau tahu?"
Kayden tersenyum menyeringai sebelum ia menjawab, “Aku tahu segalanya tentangmu.” Ya, benar saja. Kayden Kim yang terkenal cerdas dan sok berkuasa terutama pada kehidupan Gwen, maka tak heran ia mengetahui segalanya.
“Ayahku yang berdarah campuran Indonesia-Rusia, beretemu dengan ibuku yang berdarah campuran Indonesia-Cina. Mereka menikah di Jakarta, hingga suatu ketika mereka mengalami kecelakaan saat meninjau proyek bangunan yang mereka kerjakan saat itu.” Gwen memberitahunya dengan suara bergetar. Tangannya yang halus terangkat ke leher untuk menangkup liontin emas kecil yang selalu dipakainya. “Dan mereka tewas di tempat kejadian karena tubuh mereka tertimpa beton.”
“Berapa usiamu waktu itu?”
“Lima belas tahun.” Gwen tersenyum sedih.
“Tapi, kau masih merindukan orang tuamu,” Kayden menyimpulkan.
“Ya.”
“Tenanglah,” gumam Kayden, ketika melihat mata Gwen berkaca-kaca. “Selamanya aku akan menjagamu.”
Gwen hanya terdiam di tempatnya. Memejamkan matanya sebentar merasakan sentuhan lembut di pundaknya. Sentuhan yang begitu tulus dari Kayden untuk menyemangatinya, seolah seperti pasokan aliran listrik yang mengaliri seluruh tubuhnya.
***
Sisa perjalanan sangat berat. Terutama karena Gwen tidak bisa tidur lagi selama berjam-jam, dan harus duduk diam di samping Kayden yang sebaliknya. Pria itu tampak membenamkan diri dalam dokumen-dokumen pekerjaannya.
__ADS_1
Kayden mengeluarkan tas kerja yang tidak diperhatikan Gwen telah dibawanya sampai pria tersebut menariknya dari bawah kursi.
Dan, selain bergabung dengannya menikmati minuman ringan untuk menghilangkan kebosanan, Kayden terus mengabaikannya selama sisa perjalanan.
Gwen baru saja berhasil menahan awal kegugupan berikutnya, ketika Kayden tiba-tiba mencondongkan tubunya ke arahnya. Tubuh hangat pria itu menyapu tubuhnya ketika dia membuka tirai jendela pesawat.
“Sepertinya … sebentar lagi kita sampai di Heatrow,” kata Kayden dan dengan luwes kembali ke kursinya sendiri.
Bulu mata Gwen menggeletar, dan jantungnya berdegup semakin kencang tatkala aroma wangi parfum Kayden begitu menusuk indra penciumannya. Satu momen yang melingkupi Gwen sepenuhnya, sementara ia mengatasi gelenyar akibat sentuhan ringan dari pria itu.
“Dan … selamat datang di London,” kata Kayden lembut, kemudian tersenyum tipis kepada Gwen.
Gwen terdiam. Ia masih sibuk menarik napasnya yang goyah dan menetralkan kerja jantungnya. Namun, tiba-tiba tangan Gwen terulur saat pesawat mulai landing. Gerakan yang naluriah untuk menggapai sesuatu, dan kebetulan lengan Kayden lah yang ada di sana ketika Gwen menghembuskan napas tajam dengan sangat kalut.
Sepersekian menit, Gwen menyadari betapa erat dia mencengkram lengan Kayden, dan dengan pipi tiba-tiba merona, ia melepaskannya. “Maafkan aku,” katanya.
Sebagai jawaban, Kayden lantas meraih tangan Gwen, meletakkannya kembali ke lengannya dan menahannya di sana. “Kau bisa berpegangan padaku seerat yang kau mau. Untuk itulah aku di sini. Itu yang kuinginkan.”
Gwen lagi-lagi begitu takjub sekaligus terkesima dengan perlakuan dan pernyataan tegas Kayden. Akan tetapi,ia menyembunyikannya dengan berdeham. Pria ini—pria yang berada di sampingnya saat ini, selalu memberinya kejutan yang siap mendebarkan kerja jantungnya seperti bom waktu.
Tetapi tidak, wanita itu menyangkal dalam batinnya sambil menggeleng pelan kepalanya. Mereka memang sudah menikah, bukan berarti dirinya bisa jatuh cinta begitu saja kepada Kayden, pikirnya suram.
***
Hi, Readers....😊
Maaf yaa...hanya bisa update 1 Bab, padahal rencananya 2 Bab sekaligus. Tapi apa daya, authornya lagi flu berat ditambah asam lambung sedikit naik 😥 tapi juga...masih lanjut puasa kok 😊 dan diusahakan update tiap hari.
Gimana kabar kalian?
__ADS_1
Semoga tetap sehat yaa...jaga diri dan tubuh kalian ya teman-teman, serta selamat menjalankan puasa 😊