Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Pria Otoriter


__ADS_3

“Good.” Kayden mengangguk, lalu berdiri meregangkan tubuhnya dengan malas sehingga membuat pandangan Gwen terarah pada otot-otot yang berkedut di sepanjang dinding perut Kayden yang kaku. Mulut wanita itu tiba-tiba mengering dan ia cepat-cepat memalingkan muka, mendadak jemarinya kaku seolah ototnya tiba-tiba kejang.


Pada saat Kayden menjauh, Gwen akhirnya bisa mengembuskan napas yang tanpa sadar telah ditahannya. Lantas, beberapa detik berikutnya ia mengernyit karena tidak menyukai kecurigaan bahwa dirinya semakin menyadari keberadaan Kayden yang telah menjadi teman seumur hidupnya. Apakah pria itu akan mencoba berjuang untuk membangun cinta dalam rumah tangganya agar tetap harmonis? Sejenak, terbesit pemikiran tersebut hingga dia mendesah pelan.


Akan tetapi, Gwen seketika mengingat saat salah satu temannya berkata bahwa cinta tidak menciptakan pernikahan. Pernikahan yang sadar dan terencana akan menciptakan cinta. Hal itu sebenarnya yang sama terjadi dalam semua hubungan. Yang harus diperhatikan di sini adalah, pernikahan itu sekali seumur hidup. Pasangan yang kau pilih adalah pasanganmu sampai mati. Salah atau benar, itulah pasanganmu. Begitulah menurut temannya.


Wanita itu pada akhirnya sadar dan harus menghadapi kenyataan bahwa sosok Kayden lah yang akan terus berdiri di sampingnya dalam suka ataupun duka, sesuai dengan janji suci pernikahan yang mereka ikrarkan di mata Tuhan. Apakah ia akan berdamai dengan masa lalunya? Entahlah, Gwen pun masih meragukan hal itu.


“Gwen,” panggilan dengan suara berat milik Kayden membuyarkan lamunannya.


“Ya.”


“Nyalakan laptopku.” Ketika Kayden menyesap cappuccinonya, Gwen langsung menuruti perintahnya tanpa ada bantahan atau sanggahan seperti biasanya. “Kau bisa menggunakan ini untuk mempermudah tugas-tugasmu yang kuberikan tadi,” tambahnya.


Gwen tidak menjawab, tetapi dia mengangguk sebagai jawaban. Tanpa menunggu lama, ia langsung membuka file baru dan mengetik tugas-tugas yang sebagian belum terselesaikan. Sementara Kayden sendiri membenamkan diri dalam setumpuk dokumen yang begitu membuatnya lelah.


Mereka bekerja dalam keheningan. Kayden tampak membolak-balik kertas, mengambil bolpoin untuk menandai laporan yang menurutnya tidak benar. Terkadang juga ia hanya duduk malas di kursinya untuk membaca laporan itu dengan teliti. Sungguh situasi yang sangat aneh, pikir Gwen ketika ia berhenti sejenak untuk menyesap cappucinonya.


Di sinilah mereka, disebuah gedung perkantoran Kota London—dua orang yang bersatatus suami istri dan baru menikah. Bukankah seharusnya pengantin baru pergi berbulan madu? Jawabannya tentu saja iya jika saja pernikahannya didasari rasa cinta terlebih dahulu dan rencana berbulan madu yang sudah matang.


Tanpa sadar Gwen tersenyum kecut karena merutuki nasibnya, bahwa Kayden malah menyuruh dirinya untuk bekerja. Pria otoriter itu sepertinya tidak memberi kesempatan Gwen untuk sekedar merebahkan tubuhnya ataupun bermalas-malasan di kamar hotel kelas atas yang ditempati mereka.


“Apa yang membuatmu tersenyum?” Tiba-tiba suara berat Kayden terdengar seperti menginterogasi, menyela pemikiran Gwen yang berkelana.


“Apakah pria itu melewatkan sesuatu?” Gwen bertanya muram dalam batinnya ketika mendongak dan menemukan bahwa alih-alih berkonsentrasi pada pekerjaan sendiri. Seperti yang ia kira, Kayden malah bersandar di kursi menatap Gwen sembari mengerutkan dahinya.

__ADS_1


“Aku ingin tahu apa yang dipikirkan pegawaimu tentang kau yang membuatku bekerja seperti ini,” kata Gwen jujur.


“Aku lebih suka mengetahui apa yang kau pikirkan tentang diriku,” balas Kayden lembut.


Gwen menunduk, pipinya langsung merona seperti tomat. “Menurutku, kau terlalu pemaksa,” katanya, memutuskan menempatkan pernyataan Kayden yang sarat makna.


“Karena aku sangat peduli padamu,” tegas Kayden. “Dan tugasku sebagai suamimu adalah mengalihkan lamunan pahitmu di masa lalu, kemudian menggantinya dengan lamunan manis di masa depan.”


Bibir Gwen mengatup rapat, tidak tahu lagi harus berkata apa. Lagi dan lagi, suami tampannya itu selalu dapat menembus apa yang ada di isi kepala istrinya. Konyolnya, pipinya tetap merah padam begitu lama setelah itu. Dan setiap kali Gwen mendongak, ia mendapati Kayden duduk mengawasinya.


“Astaga … sungguh mengganggu. Dia benar-benar menyusahkanku,” gerutu Gwen dalam hatinya. “Ya tuhan … aku begitu merindukan kasur empuk dan seperangkatnya,” batinnya dengan putus asa.


***


Perfect—bos yang tampan dan mapan, bersikap dingin tapi bisa romantis pada istrinya, cerdas dalam pemikiran serta cerdas dalam membentuk otot-otot yang sempurna dambaan kaum hawa. Begitulah salah satu obrolan ringan dengan suara lirih dari pegawai Kayden, tetapi celakanya pria itu masih bisa mendengarnya.


Kayden tidak marah ataupun menegur mereka. Ia membiarkannya, berpura-pura tidak mendengar, malahan membalas sapaan mereka dengan senyum tipisnya. Berbeda dengan Gwen yang tampak terlihat tersenyum canggung ketika berpuluh-puluh pasang bola mata memperhatikannya.


“Ka-kay,” panggil Gwen gugup ketika mereka sudah ke luar gedung perkantoran.


Sambil terus berjalan dengan tangan Kayden yang masih menggenggam tangan Gwen, ia hanya menjawab singkat, “Ya.”


“Bisakah kau melepaskan tanganmu?” pinta Gwen putus asa. “Aku bisa berjalan sendiri di belakangmu tanpa harus tanganku kau genggam.”


“Jangan harap aku melepaskanmu!” Kayden menjawab syarat penuh makna.

__ADS_1


“Tapi—“


“Kita sekarang berada di Negara lain, Gwen.” Kayden mengingatkannya. “Dan aku tahu, kau baru pertama kali kemari. Jadi diamlah, perhatikan sekelilingmu dan nikmati setiap perjalanan kita di Kota London ini. Satu lagi, Gwen. Kau itu sekarang istriku, dan memang seharusnya kau berjalan di sampingku bukan di belakangku.”


Gwen tidak menjawab, tetapi ia mengerucutkan bibirnya. Selalu Kayden mempunyai alasannya tersendiri disetiap tindakannya. Wanita itu masih terdiam dan terus berjalan di samping Kayden dengan membiarkan pria itu menggenggam tangannya. Rasanya ia begitu lelah dan tidak ada tenaga untuk mendebat suaminya.


“Sekarang kita ke mana?” Gwen bertanya mengalihkan topik pembicaraan. Namun, dirinya berharap Kayden akan mengantarkan kembali ke hotel untuk beristirahat.


Tapi sayangnya, Kayden malah berkata dengan enteng, “Berbelanja pakaianmu.”


“Astaga … Kayden!” erang Gwen. “Kumohon, tidak perlu!” Ia begitu lelah sampai nyaris pingsan di pinggir jalan London. “Kau baru saja membelikanku banyak pakaian tanpa ku ketahui. Dan sekarang aku tidak mau lagi!”


“Ada pusat perbelanjaan di seberang jalan, Gwen,” kata Kayden datar. “Kau bisa membeli barang-barang bermerek di sana. Mulai dari tas, sepatu, pakaian desainer ternama hingga pakaian dalam.”


Gwen mengernyit begitu dalam hingga alisnya nyaris terlihat tersambung. Wanita itu frustrasi dengan sikap Kayden yang selalu pemaksa dan maunya sendiri.


“Hentikan, Kay!” seru Gwen sambil menyentak tangan Kayden dan menghentikan langkahnya.


Kayden yang tersentak dengan perlakuan Gwen, ia langsung menghentikan langkahnya juga, menarik napas panjang, kemudian membalikkan tubuhnya ke arah Gwen dan bertanya dengan sorot matanya yang dingin, “Apa yang kau inginkan, Gwen?”


“Oh … Demi Tuhan, Kayden. Aku menunggu pertanyaan itu sejak tadi!” jawab Gwen tak kalah sengit. “Aku ingin kau antar aku kembali ke hotel karena aku sudah lelah. Dan aku ingin tidur tanpa ada gangguan sedikitpun, termasuk gangguan sikap pemaksamu itu. Aku muak dengan sikapmu yang selalu otoriter kepadaku, Kayden Kim! Kita tidak sedang berada di kantor. Jadi hentikan semua sikap sok pedulimu kepadaku.”


Kayden tidak menjawabnya, tetapi di dalam matanya terdapat kilatan amarah yang tidak disampaikan. Ia bisa saja menyanggah pernyataan Gwen dengan memberi alasan logis kenapa dirinya bersikap pemaksa kepada wanita itu. Namun, Kayden tak melakukannya karena ia melihat Gwen tengah meluapkan emosi yang dibendungnya sejak tadi.


Gwen tidak tahu, dibalik sikap pemaksa suaminya, sebenarnya Kayden hanya ingin mencurahkan perhatiannya kepada istrinya dengan memberikan barang-barang mewah seperti barang-barang yang pria itu miliki. Kayden ingin Gwen menikmati hidupnya ketika menikah dengannya, dan memastikan hanya kebahagiaan yang berada disekeliling istrinya.

__ADS_1


__ADS_2