
Mungkin nggak semua orang bisa 'melihat' seperti aku, percaya atau tidak nyatanya aku mengalaminya sendiri. Aku masih ingat betul pngalaman pertama bisa melihat 'mereka'. Saat itu usiaku baru tujuh tahun. Jam dua pagi terbangun karna mendengar suara orang yang membangunkan warga untuk sahur, ya.. saat itu bulan Ramadhan. Aku membuka mataku perlahan sambil terus mengucek mata karna kantuk masih terasa. Awalnya aku berpikir ini hanya halusinasi atau masih terbawa mimpi. Tapi setelah benar-benar tersadar dari tidurku, aku melihat sosok pocong terbaring didepan pintu kamarku yang terbuka. Aku terus memanggil ibu dan ayahku, tapi mereka sedang sibuk menyiapkan makanan untuk sahur. Pocong itu tiba-tiba bergerak seperti sedang diseret. Aku menarik selimutku menutup semua tubuh dan membenamkan kepala ke bantal. Perlahan selimutku seperti ada yang menarik dari arah kaki. Sedikit demi sedikit selimutku mulai terbuka.
"Aish.. Aish.. Aishwaaa..." Teriak ibu memanggil namaku.
"Dari tadi ibu panggil gak nyahut."
"Ma.. ma.. maaf bu, Aish.. Aish.. tadi gak dengar suara ibu." Jawabku dengan nafas terengah-engah.
"Aish kenapa? Ada apa? Nyari siapa, tengok sana tengok sini?"
"Aish.. Aish tadi lihat pocong bu. Aish takut." Rengekku.
Ibu hanya tertawa kegelian, ibu bilang bulan puasa itu syaitan dirantai agar tidak mengganggu manusia. Mungkinkah aku hanya mimpi? Tapi apa yang aku lihat terasa begitu nyata.
***
Tiba-tiba mas Anwar memelukku dari belakang, menaruh kepalanya dipundakku. Parfumnya yang menyengat, seakan-akan dia memakai satu botol parfum untuk sekali pakai. Meski menyengat, parfumnya begitu wangi, sampai aku pun merasa senang saat mencium parfumnya.
__ADS_1
"Ngeliatin apa sih? Serius begitu?"
"Apa sih mas, gak usah peluk-peluk. Malu, nanti dilihat ibu."
"Kenapa? Gaboleh? Sama istri sendiri."
"Malu tahu mas."Aku melepas pelukan mas Anwar.
Kemudian aku mengajak mas Anwar duduk di ruang tengah dan menceritakan pengalaman 'melihat' pertamaku pada mas Anwar, yang membuatku berdiri mematung didepan kamarku dulu. Dia begitu excited setiap kali aku menceritakan hal-hal yang berbau horor, karena mas Anwar adalah penggemar film-film horor. Yang aku tahu komputer yang ada dirumah kebanyakan isinya adalah film-film horor.
"Sepertinya kurang lengkap kalau dengerin cerita kamu tanpa kopi. Mas boleh minta dibuatin kopi?" Tanyanya sambil menggodaku.
"Buuuu... gulanya habis ya?" Teriakku.
"Sepertinya ga kedengaran sama ibu, terus kenapa lampu dapur mati begini. Gelap begini, cari gulanya makin susah. Ah.. mungkin di rak atas gulanya." Gumamku
Krrrrreeeeeeeet.
__ADS_1
Pintu rak terbuka dengan sendirinya sesaat sebelum tanganku menyentuh gagang pintunya. Angin sepoi-sepoi dengan lembut menerbangkan helaian kerudungku. Sekelebat bayangan melewati pintu dapur.
"Massss... Buuuu... " Aku yang berpikir itu mungkin mas Anwar atau ibu.
Ku urungkan niatku untuk mencari siapa yang lewat itu, aku fokus kembali ke kopi. Mas Anwar pasti nunggu lama, karna aku nyari gula dulu.
Braaaaakkk.
Pintu dapur tiba-tiba tertutup dengan sendirinya. Aku berteriak karena tanganku tersiram air panas saat terkejut mendengar pintu tertutup dengan kerasnya. Ibu dan mas Anwar berlari menghampiriku, dengan wajah panik dan khawatir.
"Astaghfirullah, ada apa Aish. Tanganmu kenapa?" Tanya ibu dengan raut wajah panik.
Sedangkan mas Anwar langsung menarik tanganku begitu tahu tanganku tersiram air panas, membawaku ke wastafel dan menyirami tanganku dengan air kran.
"Maafin mas ya, harusnya mas gak minta kopi."
"Gak apa-apa kok mas, cuma perih sedikit."
__ADS_1
"Ada ya..?" Tanya mas Anwar seolah-olah mengerti apa yang aku alami.