Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Kakek Erwin Meninggal


__ADS_3

Dalam keadaan tangan dan kaki berdarah serta basah kuyup diguyur hujan, mas Anwar menyingkirkan batang pohon yang tadi menghalangi mobilnya lalu pergi ke klinik untuk mengobati lukanya.


"Kasihan sekali suamiku." Aku menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca dan hidung penuh dengan ingus.


"Iiiiii... ingusnya nempel di baju mas."


"Arrrrghhh. Sakit sayang." Mas Anwar mengerang, karna aku mencubit lemak perutnya.


"Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini mas malah bercanda."


Kerucukkkk. Terdengar sebuah suara dari perut mas Anwar.


"Hehe... sepertinya mas lapar." Mas Anwar terkekeh mendengar suara perutnya sendiri.


"Mas mau makan apa?"


"Apa saja." Mas Anwar memberikan sebuah kecupan di puncak kepalaku.


Karena mendengar perut mas Anwar bersuara, itu artinya dia sudah sangat lapar. Jadi aku harus memasak makanan yang cepat matang.


Melihat makanan yang aku masak kemarin tidak tersentuh, sepertinya mas Anwar semalam tidak makan sama sekali.


"Aku gak masak makanan yang lain mas, hanya nasi goreng yang terpikirkan olehku. Karna prosesnya gak lama, tapi mengenyangkan."


"Gak apa-apa, ini enak." Mas Anwar berkata setelah satu suapan masuk ke mulutnya.

__ADS_1


Mas Anwar selalu memuji apapun yang aku masak. Itu karena masakanku sesuai dengan seleranya, menurutnya rasanya persis seperti masakan mama.


Dulu aku sama sekali tidak pandai memasak. Bahkan karena sering bertingkah manja, aku jarang menyentuh peralatan dapur. Namun semenjak kuliah dan hidup mandiri, mau tidak mau aku belajar memasak. Di luar dugaan ternyata masakanku rasanya lumayan enak.


Orang bilang untuk menarik perhatian seorang laki-laki dengan mudah adalah menyenangkan perutnya.


Tidak hanya sampai masakanku saja. Karena terbiasa melihat ayah yang selalu dilayani saat makan oleh ibu atau sekedar menunggu ayah selesai makan, secara tidak langsung aku melakukan hal yang sama kepada mas Anwar. Dan mas Anwar menyukainya.


"Kamu gak makan?" Mas Anwar mencoba menyuapiku.


"Aku belum mandi mas, nanti saja."


Mas Anwar menghabiskan sepiring nasi goreng yang aku berikan padanya.


"Ini minumnya mas. Aku mandi dulu."


Setiap akan sholat aku memapah dan membantu mas Anwar untuk berwudhu.


Selepas ashar mataku terasa sangat berat. Karena aku tidur larut malam. Sebenarnya tidur setelah ashar itu tidak baik. Tanpa sadar aku sudah memejamkan mata.


Tidak berselang lama, sepertinya aku bermimpi. Jelas ini mimpi, karena yang aku lihat sangat gelap. Tidak ada satu warna pun yang terlihat.


Sebuah bayangan hitam bergerak mendekat ke arahku.


"Saya ingin pulang." Tiba-tiba bayangan itu semakin cepat mendekatiku, lalu menghilang menembus tubuhku setelah berkata seperti itu.

__ADS_1


Deg. Mataku terbelalak, karena terkejut hingga membuat aku terbangun.


Mas Anwar pun merasa terkejut karena aku bergerak tiba-tiba dan mengejutkannya.


"Kenapa?"


"Aku tertidur mas." Aku menjawab mas Anwar sambil mengucek mataku.


"Ya ampun. Kamu pasti lelah."


"Aku bermimpi mas."


"Mimpi? Mimpi apa?" Nada bicara mas Anwar terdengar penasaran.


"Mas aku takut." Tubuhku gematar.


"Shhhhh. Tenang, ada mas." Mas Anwar memelukku sambil menepuk-nepuk punggungku.


Ponselku berdering.


"Assalamualaikum, bu. Ada apa?"


"Waalaikumsalam. Aish, kakek Erwin meninggal."


"Innalillahiwainnailaihirojiun. Memangnya kakek sakit bu? Aish belum dengar kabar kalau kakek sakit."

__ADS_1


"Iya kakek Erwin sudah dari dua minggu yang lalu sakit."


__ADS_2