
Hari berlalu begitu saja, berjalan seperti biasanya. Dalam waktu satu bulan ini tidak ada salah satu dari 'mereka' menggangguku. Rasanya sangat damai, aku seperti hidup layaknya manusia biasa.
Pasien hari ini banyak sekali, badanku rasanya lelah. Rasa malas datang menghampiri, membuatku malas untu memasak.
"Assalamualaikum. Mas pulang jam berapa?"
"Waalaikumsalam. Sepertinya mas pulang lebih cepat hari ini, kenapa?"
"Hari ini aku capek mas, apa boleh kita makan di luar?"
"Baiklah. Mau makan dimana?"
"Pecel Si Kembar, mau gak mas?"
"Ya sudah, tunggu mas pulang ya." Jawab mas Anwar dengan sumringah.
Pecel Si Kembar adalah tempat makan favoritnya mas Anwar, masakannya juga enak. Nama warungnya Pecel Si Kembar karena pemiliknya menang kembar, kadang aku dan mas Anwar tidak bisa membedakan antara keduanya, seringnya aku memanggil dua-duanya dengan sebutan mas Kembar. Yang paling mas Anwar suka adalah rasa sambelnya yang enak, dia bilang nggak ada duanya.
__ADS_1
"Eh... mas Anwar. Baru ke sini lagi mas?" Tanya mas Kembar.
"Iya mas, istri saya lagi pengen makan di sini."
"Wah mbak Aish lagi ngidam?" Tanya istri mas Kembar ikut nimbrung.
Mendengar perkataan istrinya mas Kembar, aku hanya menjawab dengan satu kali gelengan kepala. Melihatku menggelengkan kepala, istri mas Kembar seketika diam karena mungkin merasa tidak enak.
"Doakan saja ya mbak, untuk saat ini kita masih betah berdua." Mas Anwar memberikan penjelasan.
Sepulang dari warung Pecel Si Kembar, perasaanku terus merasa sedih. Bagaimana tidak, aku dan mas Anwar sudah 3 tahun menikah. Siapa yang tidak ingin memiliki keturunan, hanya saja Allah belum mempercayakan kami untuk mempunyai seorang anak.
"Mas yakin, kalau memang sudah waktunya, Allah akan berikan kita kepercayaan-Nya." Pelukan mas Anwar memang menghangatkan.
"Tapi kapan mas." Bulir-bulir air mataku sudah tidak bisa ku bendung lagi.
"Sabar ya."
__ADS_1
"Ini semua karena mas pola hidupnya ga sehat, makanannya nggak dijaga." Gerutuku, padahal ini semua bukan salah mas Anwar.
Perlahan hatiku merasa marah pada mas Anwar. Sehingga aku melepaskan pelukan mas Anwar juga menghindar dari mas Anwar dan aku memutuskan untuk tidur di sofa ruang tengah. Mas Anwar hanya membiarkanku melakukan semua ini, aku tahu mas Anwar tidak ingin bertengkar denganku.
Setiap harinya selalu ada saja hal-hal yang mas Anwar lakukan membuatku kesal. Mulai dari handuk basah di atas tempat tidur, baju di lemari berantakan, baju bekas pakai menggantung, pulang terlambat dan masih banyak lagi hal-hal sepele namun membuatku merasa jengkel.
Apa ini? Kenapa aku terus merasa uring-uringan. Apapun yang mas Anwar lakukan selalu salah di mataku. Puncaknya saat menonton film di rumah, mas Anwar hanya diam saja. Omelan dan ocehanku rasanya tidak pernah mas Anwar dengarkan. Rasanya sakit sekali, sesak, tapi apa yang harus aku lakukan. Dalam diam aku menangis, semakin terisak, membuat mas Anwar menyadari bahwa aku menangis. Mas Anwar memelukku, memanggil-manggil namaku.
"Aish sadar, Aish... Aish buka matamu." Nada suara mas Anwar perlahan meninggi.
"Ada apa mas? Kenapa ada pak Amar?"
"Syukurlah kamu sudah sadar Aish, ibu khawatir sekali." Aku mendengar suara ibu dari arah belakangku.
"Ibu kenapa ada disini?"
"Kamu tidak ingat Aish?"
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala.