
Sedikit lagi, padahal sedikit lagi ngidamnya terlaksana. Namun Allah berkehendak lain, bi Rami menghembuskan napas terakhirnya sebelum ngidamnya terlaksana.
Dulu, sebelum banyak warga yang memiliki kendaraan. Jika ada yang sakit, warga bergotong royong menandu yang sakit untuk pergi berobat menggunakan bambu dan sarung.
Ibuku melarangku keluar rumah, ketika warga hendak lewat membawa tandu jenazah bi Rami yang baru saja di bawa pulang dari rumah sakit.
"Kamu jangan keluar rumah, ibu takut kamu ikut di bawa oleh Rami."
Aku mengangguk saja, tanpa mengerti apa maksud dari perkataan ibu. Aku yang penasaran mengintip dari balik jendela. Meskipun aku tidak melihat jenazahnya secara langsung, aku melihat tubuhnya yang besar dari balik sarung yang digunakan untuk menandunya.
Dua hari setelah pemakaman bi Rami, warga sekitar rumahku geger setelah mendengar cerita dari ibu yang sempat membawa anaknya ke rumah bi Rami. Ibu ini melihat sesosok pocong, tergeletak di samping anaknya yang sedang tertidur pada saat ditinggal olehnya untuk memasak makan sahur. Begitu juga aku dan ibu dari bayi berusia 40 hari, ternyata mengalami hal serupa.
Semenjak saat itu, ibu-ibu tidak berani mencukur rambut anaknya hingga botak. Atau jika memang harus mencukur hingga botak, keluarga akan berkumpul di rumahnya hingga rambut si anak tumbuh kembali.
Kejadian itu berlangsung kurang lebih tiga hingga empat tahun lamanya, sampai suami dari bi Rami menikah lagi dan tinggal bersama istrinya di luar pulau. Setelah itu tidak ada lagi penampakan pocong yang menereor anak-anak dengan kepala yang botak.
***
"Mas juga ingat kejadian itu. Untung mas nggak pernah suka mencukur rambut sampai botak."
__ADS_1
Entah kemana perginya makanan yang mas Anwar beli tadi, karena saat ini hanya tinggal martabak telor yang tersisa dua potong.
Pats.
Tiba-tiba listrik di rumahku mati.
"Mas..."
"Sebentar, mas cari senter dulu. Kamu sabar ya. Jangan takut, mas Ada di sini."
Padahal aku meletakkan handphoneku tidak jauh, tapi dalam keadaan gelap seperti ini susah sekali mencarinya.
Saat itu aku tidak tahu dari mana sumber cahaya yang aku lihat, tapi cukup untuk menerangi ruang makan dan dapur.
Betapa terkejutnya aku, melihat mas Anwar tergeletak di lantai dengan posisi tengkurap bersibah darah.
"Mas Anwar... mas bangun! Mas kenapa bisa sampai seperti ini? Mas... " Aku berteriak sambil menangis, berusaha membangunkan mas Anwar dengan mengguncangkan tubuhnya.
"Mas jangan diam seperti ini, bangun." Air mataku semakin deras mengalir.
__ADS_1
Mataku terpejam, merasakan wajahku yang basah karena air mata. Perlahan mas Anwar menghilang dari pelukanku. Sayup-sayup mendengar suara mas Anwar memanggil namaku.
"Aish bangun. Aish." Mas Anwar menepuk-nepuk lenganku dengan lembut.
"Mas Anwar..." Aku berhambur memeluk erat mas Anwar.
"Mas jangan pergi, jangan pergiiii..." Aku menangis sesenggukan di pelukannya.
"Mas nggak pergi kemana-mana. Mas ada di sini."
Kata-kata yang keluar dari mulut mas Anwar, memberikanku ketenangan.
Ceklek.
Bahkan saat ini hanya mendengar suara pintu terbukapun, selalu terkejut.
"Kamu sudah bangun, Aish. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Ibu bertanya padaku dengan membawa semangkuk bubur yang masih panas.
"Aku nggak apa-apa bu, tadi hanya mimpi saja." Aku mengelap keringat yang mengucur dari leherku.
__ADS_1