
Tangis sesenggukan Syahdan menyadarkanku dari ingatan masa laluku. Aku memeluknya erat, untuk menenangkannya. Aku membawanya keluar dari gudang.
"Ini semua salahmu." Mbak Mala berteriak sambil mengacungkan jari telunjuknya padaku.
"Maaf mbak. Aku tidak menjaga Syahdan dengan benar."
Mbak Mala masih tetap nyerocos, ngomel-ngomel.
"Kamu nggak akan mengerti bagaimana rasa khawatir mbak saat Syahdan menghilang tadi. Bagaimana bisa mengerti, kamu saja gak bec*s untuk punya anak."
Deg. Kata-kata mbak mala menusuk dadaku.
"Kamu itu bod*h atau bagaimana, pernah sekolah kesehatan tapi punya anak saja nggak bisa."
Sayatan demi sayatan kata-kata mbak Mala terasa perih di dalam dadaku.
Tidak terasa aku meneteskan air mata. Menjelaskanpun tidak ada gunanya. Aku memilih pergi ke kamar, meninggalkan mereka di ruang tamu.
Siapa di dunia ini yang tidak menginginkan anak. Memangnya kenapa kalau aku pernah sekolah di kesehatan? Aku juga manusia biasa, yang hanya bisa berharap dan berencana. Sedangkan Allah-lah Sang Maha Berkehendak.
__ADS_1
"Nggak perlu di masukkan ke hati perkataan mbak Mala." Mas Anwar memelukku dari belakang.
Aku tidak menjawab, derai air mataku semakin deras mengalir.
Setelah kejadian itu, mbak Mala lebih banyak diam. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, mungkin masih menyimpan amarah padaku atau mungkin merasa bersalah atas apa yang dikatakannya padaku.
Merasa bersalah? Sepertinya itu hanya hayalanku saja. Nyatanya sebelum ini pun seringkali kata-katanya menyakitiku, namun tidak ada satupun kata maaf terlontar darinya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Sebulan berlalu setelah kejadian itu, selama itu pula aku tetap menjalankan pesan dari pak Amar. Aku merasa bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Entah mengapa aku masih merasa 'mereka' tetap ada di sekitarku.
Tentu saja wanita yang menyukai mas Anwar terkadang menampakan dirinya, dia selalu mengganggu dalam mimpiku. Sepertinya saat ini dia hanya bisa datang menemuiku lewat mimpi.
Hanya saja untuk saat ini ada sesuatu yang baru. Aku sering melihat bayangan hitam berkelebat. Tubuhnya tinggi memakai jubah yang lebar dan menutupi kakinya. Setiap dia menampakan dirinya, tubuhku terasa lemas. Bahkan kakiku sampai tidak bisa menahan beban tubuhku.
"Kamu nggak apa-apa Aish?"
"Aku nggak apa-apa kak. Hanya lututku rasanya lemas sekali."
"Ya ampun, ayo bangun. Apa kamu mau periksa ke dokter?"
__ADS_1
"Nggak perlu kak. Aku udah nggak apa-apa." Aku menunjukan senyum terpaksa.
Aku merasa sangat kesal sekali. Apa yang harus aku lakukan? Mengapa dia selalu datang dan membuatku seperti ini. Mataku berkaca-kaca, tanganku meremas tanganku yang lain.
***
Saat aku masih duduk di bangku SMP, aku pernah ikut wisata sekolah ke Bogor. Rangkaian acaranya lumayan banyak, salah satunya adalah berkemah.
Hal yang dilakukan saat sampai di tempat berkemah adalah mendirikan tenda, lalu mencari kayu bakar untuk acara api unggun saat tengah malam nanti.
Bukannya mencari kayu bakar, aku malah kesasar. Saat itu aku melihat bayangan hitam, sepertinya dia ingin aku mengikutinya. Aku semakin masuk ke dalam hutan, jauh dari tempatku berdiri sebelumnya.
Bayangan hitam itu berhenti di depan sebuah pohon mangga yang sangat besar. Dia menunjuk ke arah pohon, setelah itu dia menghilang.
Aku berusaha mendekati pohon mangga tersebut. Aku melihat sesuatu tertancap ditengah-tengah batang pohon. Karena aku penasaran, aku menarik benda tersebut. Setelah aku mendapatkannya, ternyata itu adalah sebuah keris yang sangat kecil, seukuran jari telunjukku.
"Aishwa."
Seseorang memanggilku, dengan refleks aku memalingkan wajahku ke arah sumber suara. Saat aku menoleh tiba-tiba aku sudah berada di belakang tenda.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sini, ayo bawa kayu bakar milikmu. Acara api unggun akan di mulai."
Apa ini hanya halusinasiku saja? Tidak. Ini nyata. Karena aku memegang keris itu.