
Mas Anwar menceritakan kejadian yang sama sekali tidak aku ingat. Mas Anwar bilang aku terus menangis dengan mata tertutup begitupun dengan air mata yang sama sekali tidak keluar dari mataku. Bahkan sekeras apapun mas Anwar memanggilku, aku sama sekali tidal bergeming. Karena panik, mas Anwar menghubungi ibu. Ternyata ibu datang dengan bapak tiriku dan pak Amar. Pak Amar adalah 'orang pintar' yang tinggal tidak jauh dari rumah ibu. Menurut beliau keadaan yang aku alami adalah salah satu gangguan dari makhluk halus. Percaya atau tidak mas Anwar hanya mendengarkannya. Jari dan tanganku terasa sangat sakit akibat dari proses pengusiran makhluk halus yang dilakukan pak Amar.
"Ini semua karena arwah seorang wanita yang menyukai nak Anwar."
Aku dan mas Anwar hanya terdiam, berpikir apakah harus percaya atau tidak.
"Apa nak Anwar pernah bekerja di tempat lain selain di perusahaan ini?" Tanya pak Amar.
"Iya pak, saya pernah kerja di luar kota lumayan lama."
"Apa perusahaan tempat nak Anwar kerja dekat dengan pelabuhan."
Mas Anwar mengiyakan setiap perkataan pak Amar. Aku berbisik pada ibu, menanyakan apakah ibu yang memberitahu pak Amar. Ibu bilang tidak. Lantas pak Amar tahu darimana?
"Boleh bapak minta kertas sama pensil atau pulpen juga boleh."
"Sebentar pak."
Kemudian pak Amar mulai menggoreskan pensil di atas kertas putih yang mas Anwar berikan. Cukup lama pak Amar membuat seketsa, sehingga sekarang mulai terlihat jelas penampakan yang pak Amar gambarkan.
__ADS_1
"Kurang lebih seperti ini. Maaf gambar bapak tidak bagus."
"Saya... saya pernah melihatnya pak." Ucapanku terbata karena merasa heran dengan sosok wanita yang digambarkan pak Amar.
"Mas ingat nggak? Aku pernah cerita sama mas. Waktu awal nikah sama mas. Aku melihatnya di rumah mas dulu, sebelum kita punya rumah. Waktu itu aku bilang sama mas, ada wanita di depan kamar mandi belakang rambutnya panjang matanya hitam, entah itu karena wajahnya yang tertutp rambut atau memang matanya nggak ada." Aku mengingatkan kembali mas Anwar.
"Ah... iya mas ingat sekarang. Sampai mas mandi pun serasa ada yang memperkhatikan terus, setelah kamu cerita tentang apa yang kamu lihat."
"Mohon maaf sebelumnya nak Anwar, nak Aish. Wanita ini memang sudah lama menyukai nak Anwar. Sehingga dia sampai menginginkan tubuhnya nak Aish." Jelas pak Amar.
"Maksud bapak apa?"
Mendengar perkataan pak Amar, aku merasa sangat terkejut. Bahkan merasa sangat takut. Bagaimana jika memang apa yang dikatakan oleh pak Amar adalah benar adanya. Tidak terasa pipiku basah karena lelehan air mata yang tidak bisa aku bendung.
"Lalu kami harus bagaimana pak?" Dengan penuh harap ibu bertanya pada pak Amar.
"Untuk sekarang saya tidak merasa yakin, apa dengan cara ini wanita itu bisa pergi dan tidak mengganggu nak Anwar dan nak Aish lagi. Di coba terlebih dahulu, saya minta nak Anwar dan nak Aish membacakan surat Al-Baqarah setiap malam, sebisa mungkin hilangkan dari gambar-gambar yang bernyawa, rajin beribadah, coba untuk tidak menghiraukan segala bentuk gangguan 'mereka'. Tambahan untuk nak Aish, coba berdzikir dengan membaca surat Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlas dan ayat Qursi. Selain itu InsyaAllah saya akan membatu sebisanya, membuat perlindungan untuk kalian."
Aku sangat bersyukur, ternyata cara yang digunakan bukan hal-hal yang berbau musyrik. Karena mas Anwar tidak akan mau melakukannya, tentu saja karena mas Anwar tahu bahwa ajaran Agama tidak membenarkannya.
__ADS_1
"Terima kasih banyak pak Amar, mohon maaf saya tidak bisa mengantar pulang."
"Tidak apa-apa nak."
"Ini ada sedikit untuk ongkos pulang pak Amar." Bapak memberikan sebuah apmlop kepada pak Amar.
Entahlah, apapun yang dilakukan bapak aku selalu merasa risih dan seringnya aku mengabaikan bapak.
"Bapak sama ibu menginap disini ya, baru pulang besok kalau kamu sudah merasa sudah lebih baik." Bapak yang selalu berusaha mengambil perhatianku, namun tidak pernah sekalipun aku memeberikan balasan yang menyenangkan.
Mas Anwar mempersilahkan ibu dan bapak untuk tidur di kamar kedua di rumah kami. Di rumah ada tiga kamar dengan ukuran yang berbeda. Tapi karena hanya aku dan mas Anwar yang tinggal di sini, kedua kamar lainnya selalu kosong.
"Ibu sudah tidur mas?"
"Sepertinya sudah. Kamu juga tidur ya, sepetinya kamu lelah."
"Mas juga, maaf kalau aku selalu merepotkan mas." Kepalaku tertunduk.
"Mas tidak pernah sekalipun merasa kalau semua ini merepotkan. Sudah kewajiban mas sebagai seorang suami, melindungi dan menyayangi kamu."
__ADS_1
"Terima kasih banyak ya mas." Pelukanku segera mendarat di tubuh mas Anwar.