
Hei anak aneh." Teriak seorang anak seumuran denganku dan teman-temannya ikut berteriak sambil melampariku dengan kerikil.
Aku menangis bukan karena sakit terkena batu, melainkan karena darah menetes dari dahi melalui mataku.
"Hei anak aneh, pergi sana main dengan teman-temanmu!"
"Oooooo... akuuuu adalaaaaaah temanmuuu... Ha..ha..haaaa..." Olok mereka menirukan gaya Casper.
Mereka terus mengolok-olokku, namun gak ada satupun orang yang menolongku.
"Hei ada hantu dibelakang kalian." Seorang anak laki-laki datang meneriaki mereka sambil menunjuk-nunjuk mereka. Anak-anak itupun lari terbirit-birit.
"Ayo ikut aku!" Ajaknya.
"Aku ini teman kakakmu, Andi." Tambahnya, karna aku hanya terdiam.
Aku pun menurut, untuk ikut dengannya. Dia membawaku kerumahnya, mamanya merawat lukaku dengan lembut. Orang tuanya sangat baik, membuatku lupa bahwa baru saja aku menangis karena di jahili anak-anak komplek rumahku.
Mas Anwar mengajakku bermain di depan rumahnya, dia adalah anak yang baik. Gak lama, ayah dan kak Andi datang. Ayah bilang dapat telepon dari pak Lasmana, kalau aku ada dirumahnya.
__ADS_1
"Aish baik-baik saja?" Tanya ayah.
Aku hanya menangguk.
"Ayo kita main lagi sama Anwar." Ajak kak Andi.
"Kak, sepertinya suatu saat nanti aku akan menikah dengan mas Anwar dan kita punya anak laki-laki."
"Yang benar saja, itu pasti hanya keinginan kamu karena Anwar sudah tolongin kamu dari anak-anak bandel itu kan?" Kak Andi terus tertawa meledekku.
Sepertinya ayah dan keluarga mas Anwar sudah cukup lama saling mengenal, karena mereka berbincang cukup lama. Entah kenapa kakek itu terus melirik ke arahku, apa kakek itu adalah kakeknya mas Anwar. Atau mungkin ada yang salah dengan pakaianku, atau kakek itu marah karena aku bermain dengan mas Anwar.
"Ayah ayo pulang." Aku menarik tangan ayah.
"Ayo ayah ayo pulang. Atau kakek nya mas Anwar akan semakin marah sama Aish." Aku terus merengek.
Suasana berubah menjadi hening setelah mendengar ucapanku mengenai kakeknya mas Anwar. Perlahan aku sadar, kalau yang aku lihat gak bisa dilihat orang lain. Benar saja, ketika aku meninggalkan rumah mas Anwar, kakek itu tiba-tiba menghilang.
***
__ADS_1
"Mie-nya udah matang, kamu mau juga?" Mas Anwar membuyarkan lamunanku.
"Ah... nggak mas, mas saja yang makan. Setelah itu mandi, mas bau keringet." Aku meledek mas Anwar.
"Kata siapa, wangi begini." Katanya sambil mengendus badannya.
"Dasar, mas terlalu percaya diri tahu. Ah iya... mas ada film baru gak?"
"Emm... ada. Mau nonton? Nanti ya setelah Isya."
Aku hanya mengangguk.
Mas Anwar selalu mengingatkanku untuk Sholat tepat waktu, walaupun terkadang aku masih sering menundanya. Seringnya aku merasa senang karena sholat berjamaah dengan mas Anwar.
"Mas berdo'a apa?"
"Mas minta sama Allah, supaya rumah tangga kita sehidup sesurga."
"Aamiin."
__ADS_1
Selepas Sholat aku dan mas Anwar ke ruang tengah untuk menonton film baru yang mas Anwar bilang. Mas Anwar sibuk mencari file film sedangkan aku sudah duduk manis menunggu mas Anwar memutar filmnya. Kemudian mas Anwar berbaring di pangkuanku.
Film hampir selesai, tiba-tiba aku baru sadar mas Anwar sudah gak tidur di pangkuanku lagi. Mungkin mas Anwar pergi ke kamar mandi. Tapi film selesai diputar pun mas Anwar belum kembali, kemana perginya mas Anwar?