Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Tentang Bi Rami


__ADS_3

Menjelang malam, mama pamit untuk pulang. Begitu juga mbak Mala, Syahdan serta papa. Awalnya Syahdan merengek pada mbak Mala untuk menginap di sini, tapi mbak Mala tidak menyetujuinya.


"Aku bantu mengganti perbannya mas."


"Kamu sudah merasa lebih baik?"


"Berkat meminum obat yang mas berikan dengan penuh kasih sayang, demamku sudah turun." Aku sedikit menggoda mas Anwar.


"Tidak biasanya, kamu menggoda mas seperti ini." Mas Anwar mencubit kecil pipiku.


"Memangnya kenapa? Apa nggak boleh, atau mas lebih suka di goda oleh wanita lain?" Aku menatap tajam mas Anwar.


"Istriku semakin cantik kalau sedang marah seperti ini. Kalau bukan kamu, tentu saja mas nggak akan menyukainya."


Aku dan mas Anwar saling melempar candaan. Terkadang mas Anwar meringis kesakitan, karena aku membersihkan lukanya.


"Mas juga jangan lupa minum obat."


Mas Anwar mengangguk.

__ADS_1


Handphone mas Anwar berdering tanda panggilan masuk.


"Iya mas benar. Sebentar, saya keluar terlebih dahulu."


"Siapa mas?"


"Kamu tunggu di sini."


"Tapi mas..."


"Nggak apa-apa."


Beberapa menit kemudian mas Anwar datang membawa beberapa kantong plastik.


"Mas tadi pesan makanan lewat aplikasi."


"Mas pesan makanan?"


"Heem. Kamu lagi sakit, mas juga sama. Kalau keluar, mas takut kamu masih syok soal kejadian tadi pagi. Jadi mas pesan online. Ini mas beli pecel Si Kembar, mas juga pesan martabak telor, ada ini, ini juga." Mas Anwar mengeluarkan satu persatu makanan yang dipesannya.

__ADS_1


"Ya ampun mas. Bukannya ini terlalu banyak? Mas yakin, kita bisa menghabiskannya?"


"Entahlah, tapi mas mau makan semua makanan ini." Mas Anwar tersenyum dengan menunjukan giginya.


Melihat mas Anwar ngidam seperti ini, aku jadi teringat cerita dari sosok pocong saat pertama kalinya aku dapat melihat 'mereka'.


***


Tetanggaku saling bergosip tentang meninggalnya bi Rami. Entah itu benar atau tidak, kabarnya bi Rami meninggal dalam keadaan hamil.


Tapi yang membuat tetanggaku saling bergosip bukanlah tentang kehamilannya, melainkan penyebab meninggalnya bi Rami.


Bi Rami dan suaminya sudah menikah cukup lama, namun belum juga di karuniai seorang anak. Sempat hamil beberapa kali, namun selalu saja keguguran. Berbeda dengan saat ini, bi Rami dapat mempertahankan usia kehamilannya sampai tujuh bulan.


Kabarnya kehamilannya yang sekarang, selalu mengidamkan hal-hal aneh. Seperti makan hati sapi mentah, menghirup aroma bensin hal-hal aneh lainnya. Mitosnya kalau sampai ngidam ini tidak terlaksana, pada saat lahir nanti anaknya 'ngiler' terus.


Sebelum meninggal, terjadi lagi momen bi Rami mengidam hal aneh. Suaminya menentang keras keingian bi Rami. Untuk beberapa waktu, aku tidak tahu apa yang diinginkan oleh bi Rami sehingga suaminya menentang keinginannya. Tapi aku mendengar dari tetangga yang bersebelahan dengan bi Rami, sempat mendengar pertengkaran suami istri itu. Kalau tidak salah, bi Rami sangat menginginkan mencium anak kecil yang kepalanya botak. Saat itu jarang sekali, anak-anak di kampungku yang di cukur rambutnya hingga botak.


Hanya ada tiga anak kecil yang kepalanya botak saat itu. Bayi yang berusia 40 hari, balita yang baru bisa berjalan dan aku. Kebetulan saat itu karena aku mengalami penyakit kulit di seluruh kepalaku, sehingga mengharuskan rambutku di cukur habis agar dapat di obati dengan baik.

__ADS_1


Karena merajuk pada suaminya, bi Rami sampai mogok makan dan minum selama tiga hari. Pada hari ke empat, bi Rami jatuh sakit. Sehingga ibu dari bi Rami, membujuk menantunya agar menuruti keinginan anaknya yang sedang mengidam.


Melihat kondisi istrinya yang lemah, suaminya merasa tidak tega dan akhirnya menuruti keinginan bi Rami. Suaminya meminta pada ibu si anak yang baru belajar berjalan untuk datang ke rumahnya. Meskipun ragu, si ibu tetap datang membawa anaknya.


__ADS_2