Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Garisnya Ada Dua


__ADS_3

Semenjak terpasangnya kamera pengawas di depan rumah, belum ada satupun paket yang datang. Tidak, bukan belum. Tapi semoga saja paket itu tidak pernah datang lagi.


Tanggal penilaian akreditasi rumah sakit semakin dekat. Setiap staff yang terlibat benar-benar di sibukkan dengan segala sesuatu yang di butuhkan, termasuk aku. Bahkan sampai aku lebih sering menginap di rumah sakit.


Hal ini membuat aku jarang pulang ke rumah. Aku bersyukur mas Anwar selalu mendukung pekerjaanku tanpa mengeluh.


"Hari ini aku juga harus menginap di rumah sakit mas, karena besok hari H acaranya. Semoga hasilnya benar-benar sesuai dengan kerja keras kami selama ini."


"Aamiin."


Pagi itu mas Anwar tidak banyak bicara seperti biasanya. Entah ada masalah atau hanya perasaanku saja.


"Ah iya mas, mas sudah lihat rekaman dari kamera pengawas rumah kita? Apa ada yang terlihat memcurigakan?"


"Nanti saja. Setelah selesai pekerjaan kamu, kita lihat sama-sama. Sudahlah, sana masuk. Mas juga berangkat ya. Sampai ketemu di rumah." Senyum mas Anwar terlihat kaku.


Mulai dari direktur rumah sakit, hingga petugas kebersihan disibukan dengan persiapan besok. Meskipun begitu, kami tetap memberikan pelayanan seperti hari-hari biasanya.

__ADS_1


Acara demi acara telah selesai dilewati. Diakhiri dengan acara penjamuan surveior dari Dinas Kesehatan serta staff rumah sakit.


Saat berada di depan meja yang menyuguhkan beberapa macam buah-buahan, aku teringat paket ancaman yang pertama kali datang. Perutku kembali terasa mual, rasanya ingin memuntahkan semua isi perutku. Padahal aku termasuk orang yang sangat-sangat menyukai semua jenis buah.


"Hmmmb..." Aku menutup rapat mulutku, sebisa mungkin agar tidak terdengar orang lain.


"Aish kamu gak apa-apa? Kamu sakit?" Kak Amy bertanya dengan khawatir.


"Aku gak apa-apa kak. Hmmmb... " Lagi-lagi mual itu tidak kunjung hilang. Aku berlari menuju kamar mandi.


Tok. Tok. Tok. Terdengar ketukan pintu kamar mandi dari luar.


"Aishwa kamu gak apa-apa?"


Aku rasa itu suara bu Neneng.


Ceklek. Aku keluar dari kamar mandi dengan sedikit lemas.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa bu."


"Kamu lagi ngidam, Aish?"


"Nggak bu. Mungkin hanya masuk angin." Aku tidak ingin terlalu berharap, karena mual saja tidak cukup untuk memastikan apakah aku hamil atau tidak.


"Apa sudah periksa?" Bu Neneng bertanya dengan memberikan aku segelas teh manis hangat.


Meskipun saat ini aku sudah terlambat datang bulan, tapi aku selalu takut untuk memeriksanya. Karena dulu pernah terlambat datang bulan, selama dua bulan lebih. Nyatanya aku belum hamil. Itu terjadi karena aku mengalami stress yang berat.


Pada akhirnya aku pergi ke poli kandungan. Kebetulan sore ini dokter spesialis kandungan belum pulang, karena acara akreditasi.


"Sebelum di USG, baiknya Aishwa tes urin terlebih dahulu. Meskipun ada baiknya pemeriksaan urin ini dilakukan pagi hari. Semoga saja ada hasilnya." Dokter menyerahkan sebuah tespek padaku.


Jantungku rasanya terus berdetak dengan kencang, bahkan tanganku gemetar serta kakiku yang terasa lemas. Melihat hasil tespek yang aku pegang saat ini. Mataku mulai berembun. Tangisanku tercekat di tenggorokan.


"Garisnya ada dua. Warna merahnya jelas sekali. Silahkan naik ke tempat tidur, kita lakukan USG." Dokter berkata dengan terus tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2