
Selagi mas Anwar memarkirkan mobil, aku menunggunya di depan pintu masuk restoran tempat reuni diadakan.
Apa karena sudah sore, langitnya sudah mulai gelap. Atau akan turun hujan?
Aku melihat mas Anwar datang dari arah parkiran bersama seorang wanita.
Deg. Deg. Deg. Jantungku terasa berdegup terlalu kencang.
'Kak Rania.'
Tidak. Bukan karena mas Anwar sedang bersama dengan kak Rania. Melainkan aku melihat seorang nenek dengan tubuh bongkoknya berjalan beriringan dengan kak Rania. Aku pernah melihat nenek itu di rumah. Dia sosok yang menendang kepalaku saat aku tersungkur dilantai.
'Apa mungkin? Bagaimana bisa? Tidak Aish. Jangan suudzon!' Mulutku terus bergerak tidak bersuara.
"Hai Aishwa."
"Ah iya kak. Lama tidak bertemu."
Nenek bongkok itu terus menatapku tajam, seolah-olah menaruh kebencian terhadapku. Kakiku lebih dulu melangkah mundur karena refleks.
"Ada apa Aishwa?" Kak Rania bergerak maju mendekatiku.
"Tidak kak. Mas ayo masuk."
"Aku duluan Ran."
Gemuruh angin terdengar sampai ke dalam restoran. Perlahan mulai gerimis karena langit tak kuasa menahan beratnya air hujan.
__ADS_1
Beberapa dari teman mas Anwar menyapaku. Mereka juga mengajak pasangan, bahkan sudah ada yang memiliki anak.
"Mas aku ke toilet sebentar."
Mas Anwar menganggukkan kepalanya.
Keluar dari salah satu toilet, di depan cermin besar kak Rania berdiri sambil merapikan makeupnya. Saat aku mencuci tangan, lipstik milik kak Rania terjatuh di bawah kakiku.
"Ah maaf. Tolong ambilkan."
'Ambilkan? Aku?'
"Ini kak." Sedikit senyum dariku yang terpaksa.
"Terima kasih."
"Saya duluan kak."
Langkah kakiku terhenti saat mendengar perkataan kak Rania.
"Apa maksud dari perkataan kak Rania."
"Tidak ada maksud apa-apa. Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya, dengan wajah lesu dengan penuh kekhawatiran."
'Mas Anwar pernah bertmu kak Rania? Kapan? Mas Anwar nggak mengatakan apapun.'
"Setidaknya berdandanlah lebih cantik, dengan begitu mungkin Anwar akan terlihat lebih bahagia." Tanpa melihatku, kak Rania berjalan meninggalkanku dengan pinggulnya yang berlenggak-lenggok.
__ADS_1
Hatiku merasa tidak nyaman sekali mendengar perkataan kak Rania. Apa mungkin kak Rania masih menaruh hati pada mas Anwar. Untuk apa? Jelas sekali mas Anwar itu sudah menikah.
"Kenapa lama?" Tanya mas Anwar.
"Memangnya lama ya?"
"Lumayan."
Mataku terus melirik ke arah kak Rania yang sibuk menebar senyuman pada teman-temannya.
"Rania. Apa kamu belum mau menikah?" Tanya seorang laki-laki bertubuh sintal.
Kak Rania hanya membalas dengan tawa.
"Atau belum ada calonnya? Kalau begitu menikahlah denganku." Ucapannya terdengar hanya sebatas gurauan.
"Aku belum berpikir untuk menikah." Lagi-lagi senyuman yang dia torehkan.
"Apa kamu belum move on dari Anwar?"
Deg. Setelah perkataan itu terlontar, mendadak suasana menjadi canggung.
"Hei, itu hanya masa lalu." Celetuk lagi temannya mas Anwar yang lain.
"Benar. Itu hanya masa lalu, lagi pula hubungan itu karena kesalahpahaman antara aku dan Rania. Dan lagi aku sudah menikah." Mas Anwar berbicara dengan tegas.
Teman-teman mas Anwar mulai berbisik-bisik. Mungkin mereka juga penasaran, sama sepertiku. Maksud dari hubungan karena kesalahpahaman antara mas Anwar dan kak Rania itu bagaimana?
__ADS_1
"Aku pamit pulang duluan ya, ada urusan penting." Kak Rania pergi dengan terburu-buru tanpa sengaja meninggalkan tas makeupnya.
Salah seorang wanita mengambil tas itu, berusaha mengejar kak Rania. Namun karena kak Rania pergi dengan terburu-buru, wanita itu kembali ke meja makan dengan tas yang masih di tangannya.