Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Wanita yang Mas Anwar Kagumi


__ADS_3

Hari itu mas Anwar merasa terganggu atas sikap dari kak Rania. Hampir setiap hari kak Rania selalu datang ke kelas mas Anwar. Entah itu untuk sekedar melihat mas Anwar atau untuk memaksa mas Anwar pergi ke kantin dengannya.


Mas Anwar tetap tidak goyah akan rayuan dan bujukan dari kak Rania. Tapi beberapa minggu setelah kak Rania sering datang ke kelas nya, kak Zayn sahabat mas Anwar mulai menyukai kak Rania. Menurutnya kak Rania adalah wanita yang cantik dan periang.


Kak Zayn sempat bertanya pada mas Anwar, apakah mas Anwar menyukai kak Rania atau tidak. Tentu saja dengan tegas mas Anwar menjawab tidak. Mendengar jawaban mas Anwar, kak Zayn memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada kak Rania.


Kak Zayn akan mengungkapkan perasaannya pada kak Rania menggunakan boneka beruang yang besar. Di dalam boneka itu ada sebuah rekaman suara, kalau seseorang menekan tombol hati pada dada beruang itu maka rekaman tersebut akan menyala.


Dari kejauhan kak Zayn sudah melihat kak Rania akan datang ke kelas, lantas kak Zayn bersembunyi di balik pintu kelas. Entah angin apa yang membuatnya menjadi gugup, sehingga kak Zayn meminta agar mas Anwar memberikan boneka itu pada kak Rania.


"Anwar apa maksudnya ini?" Tanya kak Rania.


"Itu..." Sebelum sempat mas Anwar menjawab kak Rania sudah lebih dahulu menekan tombol hati pada beruang itu.


'Rania, aku menyukaimu. Apakah kamu mau jadi pacarku.'


Mendengar isi rekaman dalam beruang itu, kak Rania langsung memeluk mas Anwar. Karena siswa yang lain melihat apa yang terjadi, mereka memberikan tepuk tangan dan mengucapkan selamat pada kak Rania dan mas Anwar. Mas Anwar mencoba melepaskan pelukan kak Rania.


"Tidak Rania, ini salah paham. Boneka itu bukan dariku. Juga perasaan itu bukan milikku."


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Itu dari Zayn."


Kak Zayn melihat semua itu tepat di depannya. Mas Anwar melihat rona marah dan kekecewaan pada wajah kak Zayn. Lalu, meskipun mas Anwar memberikan penjelasan pada kak Rania. Kak Rania terus menempel pada mas Anwar, dan mengaku pada teman-temannya kalau kak Rania dan mas Anwar berpacaran.


"Jadi begitulah ceritanya."


"Lucu sekali mas." Aku menutup mulutku untuk menahan tawa.


"Apa yang lucu?"


"Ya... kak Rania yang lucu. Tingkat percaya dirinya yang terlalu tinggi."


"Jadi mas nggak punya mantan pacar?"


"Nggak."


"Kalau yang pernah mas sukai? Apa sama sekali nggak ada?"


"Yang mas sukai? Pernah, sekali. Tapi mas nggak berani mengungkapkannya."


"Siapa mas?"

__ADS_1


"Ada. Dia wanita sholeha, mas kagum karena dia tidak pernah melepas kerudungnya."


"Apa mas masih bertemu dengannya?"


"Tidak."


Padahal mas Anwar menjawab pertanyaanku tanpa ragu. Tapi tiba-tiba saja mood ku jadi buruk.


"Aku mandi dulu mas."


Sampai saat mas Anwar akan berangkat kerjapun aku masih bersikap cuek padanya.


"Hari ini aku shif malam, jadi kemungkinan pulang besok pagi."


"Lalu apa mas akan tidur sendirian malam ini?"


"Kenapa mas nggak tidur dengan membayangkan wanita yang mas kagumi?" Aku berkata dengan bibir mengerucut.


"Astaghfirullah. Jadi istri mas sedang cemburu? Kemarilah, mas beri obat penenang." Mas Anwar merentangkan tangannya.


"Tidak. Terima kasih banyak, hati-hati di jalan. Sampai bertemu besok mas."

__ADS_1


__ADS_2