Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Kejutan Ulang Tahun


__ADS_3

Bu Neneng dan karyawan yang lain melakukan sandiwara, mereka berpura-pura bertengkar karna kesalahan yang aku lakukan. Padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun, sebagai hukumannya aku harus merapikan gudang obat dengan memeriksa tanggal kedaluarsa yang ada di bagian belakang ruang farmasi.


"Ternyata zaman sekarang masih ada penindasan antara junior dan senior ditempat kerja." Gumamku.


"Walau bagaimanapun aku harus tetap melakukannya, semangat." Ucapku sambil mengepalkan tangan.


Berselang satu jam, pekerjaanku tak kunjung selesai. Saking banyaknya stok obat yang harus diperiksa. Secara tidak sengaja aku menjatuhkan dus obat dan membuat obat itu berserakan hingga ke dekat pintu keluar. Saat aku memungut obat yang berserakan, sekelebat bayangan hitam melewatiku.


"Jangan hiraukan! Biarkan saja, Aish." Aku menggerutu.


"Ini hari ulang tahunku, bisa-bisanya 'mereka' menggangguku. Ini sudah jam makan siang, yang lain mungkin sudah pergi ke kantin untuk makan. Sedangkan pekerjaanku masih banyak. Sabar Aish, semangat Aish." Ucapku sambil tersenyum tipis.


Setelah selesai, semua obat yang berserakan sudah rapi kembali. Saat aku membelakangi pintu, tiba-tiba pintu tertutup dengan keras. Aku terkejut, mencoba membuka kembali pintunya.


"Bagaimana ini, pintunya terkunci. Handphone aku mana, ya ampun aku lupa. Handphonenya tadi aku simpan di tas."


Lampu gudang berkedip beberapa kali.


"Apalagi sekarang." Aku mulai menangis.

__ADS_1


Cukup lama aku terduduk di lantai. Ketukan pintu mulai terdengar. Aku berpikir mungkin 'mereka' lagi. Tapi ternyata bukan, ketukan pintu itu diikuti suara bu Neneng memanggil namaku.


"Aish... apa kamu masih di dalam? Buka pintunya."


"Bu, saya di sini. Pintunya terkunci. Saya tidak bisa membukanya."


Terdengar kunci pintu berusaha di buka.


"Alhamdulillah terima kasih bu."


"Happy birthday to you... happy birthday to you... happy birthday... happy birthday... happy birhtday to you..."


"Selamat ulang tahun ya Aish, maafkan kami tadi mengerjai kamu." Ucap pak Harsa cengengesan.


Senang, terharu, kesal dan sedih bercampur menjadi satu. Aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata, aku hanya tersenyum sambil menitikan air mata. Meskipun ini hari ke dua bekerja di sini, kami sudah lama saling kenal. Ya... dulu aku pernah magang di sini, walaupun sebentar cukup untukku akrab dengan mereka.


"Aish ayo tiup lilinnya, aku sudah gak sabar makan kuenya." Kata kak Suhanda dengan khas gemulainya.


"Terimakasih banyak bu, pak, kak Amy, kak Anda. Maaf kalau aku berpikiran negatif tentang kalian." Ucapuku penuh haru.

__ADS_1


"Ya ampun, kamu pikir kita apa." Jawab ka Suhanda dengan nada bercanda.


"Akting kalian mumpuni sekali, sepertinya cocok untuk dapat penghargaan." Ledekku sambil terus tersenyum.


Semuanya tertawa mengingat kejadian tadi memang terlihat nyata. Apalagi saat aku berada di gudang obat, terasa sangat nyata hingga membuatku ingin menangis sekencang-kencangnya.


"Terus yang berperan sebagai bayangan tadi siapa? Yang mengunci gudang? Yang buat lampu gudang berkedip-kedip? Kak Anda ya...?" Tanyaku sambil tertawa menggoda kak Suhanda.


Semua terdiam dengan saling melempar pandang mendengar pertanyaanku.


"Kita hanya akting bertengkar saja Aish." Jawab kak Amy keheranan.


"Apa ada orang lain yang ikut dalam sandiwara ini?" Tanya pak Harsa pada kak Amy.


"Nggak ada pak."


"Lantas siapa?"


"Ehemm... sudah-sudah kita makan saja kuenya sebelum waktu istirahat habis. Banyak pasien yang mengantri untuk mengambil obat." Bu Neneng mengalihkan pembicaraan. Ya... bu Neneng paham akan situasi ini. Mengingat bu Neneng tahu kalau aku bisa melihat mereka."

__ADS_1


__ADS_2