Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Tamu Yang Tak Di Undang


__ADS_3

Aku terus merengek bertanya perihal apa yang di katakan oleh bi Asih dan bi Dedeh, bahwa sebelum masuk rumah sakit aku sempat kesurupan.


"Ayah jawab yah. Ibu apa benar aku kesurupan."


Ibu mengangguk berat.


"Haa? Jadi itu alasan bi Asih dan bi Dedeh mengatai Aish gila?"


Mendengar apa yang aku ucapkan mata ayah langsung membulat sempurna. Dia tidak terima bahwa putrinya di ejek.


"Sebenarnya ayah dan ibu juga masih percaya nggak percaya, tapi ayah dan ibu melihat dengan mata kepala sendiri dan mengalaminya secara nyata." Pungkas ayah.


Sore hari itu aku memang merasa tidak enak badan. Seluruh tubuhku terasa nyeri, kepalaku pusing serta demam yang membuat aku terus tidur di kamar.


Menjelang maghrib aku merasakan ingin sekali buang air kecil. Setelah keluar dari kamar mandi, aku mendengar suara berisik. Membuat aku menutup kedua telingaku.


Yang aku ingat, suara berisik itu semakin menusuk telingaku hingga membuat kepalaku berputar.


Menurut cerita ayah dan ibu, saat itu aku pingsan. Tidak membutuhkan waktu lama, aku tersadar dari pingsanku.

__ADS_1


Bukannya sadar sepenuhnya, ayah mendapati aku tertawa cekikikan layaknya seorang wanita dewasa yang tertawa karna merasa sangat menggelikan.


"Hi...hi...hi...hi...hi. Kurang lebih seperti itu suara kamu waktu itu." Ibu bercerita dengan mempraktekan apa yang aku alami.


Tidak sampai di situ, aku juga mengeluarkan suara eraman dengan bertingkah seolah-olah aku adalah seekor harimau.


Tetangga satu persatu datang ke rumah. Salah satu dari tetangga berujar bahwa aku tengah kesurupan.


"Panggil mbah Aam bu Ina, sepertinya Aishwa tengah kesurupan."


Suara tawa dan eraman keluar dari mulutku bergantian. Malah aku semakin banyak tertawa setelah mendengar apa yang di katakan oleh tetangga.


Kurang lebih tiga puluh menit, aku belum juga membuka mata. Dengan gerakan tiba-tiba, aku duduk bersila menghadap kakek Erwin.


"Saya akan pergi." Suara yang keluar dari mulutku terdengar seperti suara laki-laki dewasa.


"Baiklah. Silahkan pergi, saya tidak akan mengantarkan kamu. Karena kamu datang sebagai tamu yang tak di undang."


Aku membalas perkataan kakek Erwin dengan terkekeh, lebih tepatnya bukan aku, tapi makhluk yang ada di tubuhku.

__ADS_1


"Saya akan pergi." Posisiku berubah seketika menjadi berdiri.


"Kamu tidak diijinkan pergi kalau membawa serta cucuku." Kaker Erwin mencekal tanganku.


Semua itu sia-sia, aku dapat meloloskan genggaman kuat dari tangan kakek Erwin. Bahkan sampai beberapa orang menahan tubuhku agar tidak pergi, semua tenaga itu kalah dengan satu kali hentakan dariku.


Setelah usaha yang cukup memakan waktu, akhirnya kakek Erwin berhasil mengeluarkan makhluk itu.


"Apa nak Aish mempunyai benda pusaka?" Tanpa basa-basi, kakek Erwin bertanya pada ibu dan ayah.


Ayah dan ibu menggeleng pelan.


"Sepertinya ada. Apakah ini yang mbah Aam maksud?"


"Iya benar. Benda ini terlalu berat untuk di simpan oleh nak Aish. Bolehkah saya membawanya?"


"Kalau untuk kebaikan Aishwa, silahkan mbah."


Mendapati aku menggigil hebat setelah kejadian itu, serta di tubuhku terdapat beberapa bercak biru. Ayah dan ibu langsung membawaku ke rumah sakit.

__ADS_1


Dari hasil pemeriksaan laboratorium rumah sakit, aku terkena penyakit typhus dan harus do rawat beberapa hari.


__ADS_2