Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Tante Cantik


__ADS_3

Aku mengitung sampai sepuluh, rasanya tidak terlalu lama. Tapi Syahdan sudah menghilang dari pandanganku. Aku mencarinya ke setiap sudut taman, tapi nihil. Karena pintu gerbang masih terkunci, aku berpikir kalau Syahdan bersembunyi di dalam rumah. Setiap ruangan sudah aku periksa, tapi aku belum menemukan Syahdan.


"Kamu sedang apa?" Tanya mbak Mala dengan ketus.


Memang kakak dari mas Anwar yang satu ini tidak pernah bersikap ramah padaku. Berbeda dengan mas Ari, kakak pertama dan mbak Lina, kakak ke tiga mas Anwar.


Mas Anwar dan kakaknya adalah empat bersaudara. Anak pertama Ariyanto Lasmana, Anak Kedua Sarimala Putri Lasmana, anak ke tiga Hana Lina Lasmana dan mas Anwar Yuda Lasmana si anak bungsu.


Seringnya mbak Mala selalu mengeluarkan kata-kata yang menurutku kadang terasa menyakitkan.


"Aku sedang bermain petak umpet dengan Syahdan mbak."


"Petak umpet? Pantas saja, dari tadi aku panggil-panggil anak itu nggak nyahut."


"Maaf mbak, ini aku lagi cari Syahdan. Tapi nggak ketemu di manapun."


"Maksud kamu Syahdan hilang?" Nada suara Mala naik satu oktaf, lalu mneghentakan piring yang berisi makanan di atas meja makan.


"Bukan begitu mbak."


"Pokoknya cari sampai ketemu, lihat saja kalau terjadi apa-apa pada anakku. Kamu yang harus bertanggungjawab."


"Ada apa ini ribut-ribut." Papa yang baru saja keluar dari kamar menghampiri kami.

__ADS_1


"Syahdan hilang pa."


"Hilang bagaimana mbak?" Mas Anwar pun ikut bertanya.


"Tanya saja istri kamu." Mbak Mala meninggalkan ruang makan untuk mencari Syahdan.


"Mas..."


"Jangan khawatir, kita cari sama-sama." Mas Anwar memegang tanganku.


Semua orang sibuk mencari Syahdan. Aku dan mas Anwar mencoba mencari Syahdan ke gudang yang ada di belakang rumah.


Gudang itu terlihat gelap, lembab seperti tidak pernah lagi di kunjungi. Tercium bau kotoran tikus dan kecoa. Mas Anwar membuka pintu gudang dengan perlahan, takut pintu itu lepas dari engselnya karena saat dibuka pintu itu mengeluarkan suara berderet.


"Syahdan..."


"Adan, ini tante. Keluar ya, tante menyerah."


Tidak ada respon.


"Ha..ha..ha.." Terdengar suara tawa dari dalam lemari tua yang tersimpan dekat dengan jendela.


"Mas... apa itu Syahdan?"

__ADS_1


"He..he..he.." Lagi. Tawa itu terdengar lagi.


Mas Anwar mencoba membuka pintu lemari. Tidak semudah yang diperkirakan. Pintu lemari seperti terkunci.


"Syahdan apa kamu di dalam?" Tanya mas Anwar sambil menggedor-gedor pintu lemari.


Tidak ada jawaban.


"Engggg... huuuu... huuuu... mami... mami... Adan nggak bisa keluar." Di balik lemari terdengar suara Syahdan sedang menangis.


"Mas sepertinya Syahdan memang ada di dalam. Ayo cepat buka lemarinya mas."


Mas Anwar mencari sesuatu yang dapat membuka lemari dengan paksa. Akhirnya mas Anwar menemukan sebuah palu. Mas Anwar mencongkel pintu lemari, dibukanya dengan paksa. Saat pintu lemari terbuka, Syahdan sedang meringkuk memeluk lututnya sambil menangis. Melihat aku dan mas Anwar menemukannya, Syahdan langsung memeluk mas Anwar dengan erat.


"Om Adan takut. Huuu... huuu..." Syahdan menangis semakin kencang.


"Adan kenapa bisa masuk ke dalam lemari, padahal lemari ini terkunci?" Aku mencoba bertanya pada Syahdan.


"Adan tadi main sama tante cantik, dia bilang punya tempat persembunyian yang aman." Syahdan menjawab dengan sesenggukan.


"Tante Aish maksudnya?" Mas Anwar mencoba meyakinkan dirinya.


"Bukan tante Aish, tapi tante cantik."

__ADS_1


"Tante cantik?" Aku terperanjat mendengar jawaban Syahdan, seketika aku malah mengingat arwah wanita yang menyukai mas Anwar.


__ADS_2