
'Mengapa selama ini mas Anwar tidak mengatakan apapun tentang orang yang mengirim paket itu? Sebenarnya apa yang ada di pikiran mas Anwar? Apakah mas Anwar mengkhawatirkan saya?' Berbagai macam pertanyaan terbesit dalam pikiranku.
Tin. Suara klakson mobil mas Anwar. Mas Anwar tahu kalau aku sudah pulang. Itu kebiasaan mas Anwar kalau tahu aku ada di rumah. Tanpa sadar aku berlari kecil menuju ke pintu depan, menghampiri mas Anwar. Aku sendiri merasa bingung, apa yang harus aku katakan pada mas Anwar terlebih dahulu. Tentang kehamilanku, tentang penyakitku atau tentang orang itu?
Mas Anwar turun dari mobil dengan membawa sebuah kantong plastik putih, entah apa isinya. Wajahnya terlihat sendu , Entah apa yang terjadi dengannya.
"Assalamualaikum." "Waalaikumsalam, Mas bawa apa?"
"Dari pagi mas merasa tidak enak badan, bahkan sampai mual muntah. Tapi tidak ada apapun yang mas muntahkan. Sewaktu perjalanan pulang tadi, mas melihat penjual sawo keliling menggunakan motor. Yang mas pikirkan, sepertinya enak kalau makan sawo." Mas Anwar meletakkan sawo dikeranjang buah setelah mencucinya.
"Tapi mas sudah makan? Sudah minum obat?"
__ADS_1
"Sudah." Mas Anwar memelukku dengan erat.
Cukup lama mas Anwar memelukku. Aku dan mas Anwar saling diam tanpa kata. Pelukan mas Anwar terasa menenangkan. Sejak sampai di dalam rumah mas Anwar sama sekali belum menyadari paket yang aku simpan di atas meja. Saat ini mas Anwar sedang menikmati buah sawo yang dibelinya saat perjalanan pulang tadi.
"Apa seenak itu mas? Mas sampai lupa menawariku?" Aku tersenyum kecil meledek mas Anwar.
"He...he... Mas juga nggak tahu kenapa bisa teralihkan dengan buah ini. Semenjak beli, mas nggak sabar untuk memakannya." Mas Anwar tertawa kecil setelah mendengar perkataanku.
"Sebelumnya aku penasaran mengapa aku tidak menginginkan apapun. Ternyata yang ngidam bukan aku, tapi mas Anwar." Aku merasa lucu sekali melihat mas Anwar melahap buah sawo itu.
Mas Anwar menatapku seolah bertanya apakah dia tidak salah dengar. Aku mengangguk pelan, sebagai tanda bahwa apa yang ada di pikiran mas Anwar saat ini adalah benar. Mas Anwar langsung memelukku, berkali-kali mengucapkan rasa syukur. Suara isak tangis mulai terdengar di balik punggungku. Sama sekali aku tidak mengira mas Anwar akan menangis mendengar kabar tentang kehamilanku. Aku tahu, tangis ini adalah tangisan bahagianya mas Anwar.
__ADS_1
"Aku minta maaf mas." Beberapa bulir air mata jatuh membasahi punggung mas Anwar.
"Kenapa harus minta maaf?" Mas Anwar melepas pelukannya.
"Selama ini aku sering marah- marah perihal pola makan mas dan masih banyak hal lainnya. Nyatanya akulah sumber masalahnya. Dokter memberi tahu aku kalau ada kista di masing-masing ovariumku mas, dan ukurannya terbilang cukup besar." Tangisanku pecah saat aku mengatakan tentang penyakitku.
Kata demi kata yang diucapkan oleh dokter, aku menyampaikannya pada mas Anwar. Lagi-lagi mas Anwar memelukku dengan erat, dia memberikan kata-kata penyemangat.
Dengan tangannya, mas Anwar menghapus air mataku yang sedari tadi terus saja mengalir tanpa henti.
"Jadi, apa benar kamu sama sekali tidak menginginkan apapun?"
__ADS_1
Aku hanya menggeleng pelan.
"Bagaimana ini? Kenapa jadi mas yang ngidam? Sekarang mas merasa ingin sekali mendapatkan sebuah ci*man dari kamu." Mas Anwar membungkukan tubuhnya dan menunjuk ke arah pipinya.