Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Mimpi Setelah Istikhoroh 3


__ADS_3

Tak ingin kejadian yang sama terus berulang, mas Anwar mengganti semua lampu rumah dengan lampu emergency. Serta menempatkan senter di setiap ruangan. Mengingat saat ini aku sedang hamil, mas Anwar jadi sedikit berlebihan.


"Nggak perlu semuanya di ganti mas."


"Nggak. Mas tetap akan mengganti semua lampunya. Mas nggak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa." Ucap Mas Anwar yang sedang mengganti lampu ruang tamu menggunakan tongkat pengganti lampu.


"Mas...?"


"Hmmm..." Jawabnya tanpa menoleh karena fokus mengganti lampu.


"Apa aku pernah cerita?"


"Cerita apa?" Mas Anwar menghentikan aktivitasnya setelah selesai memasang lampu.


"Dulu, aku pernah melihat bayangan masa depanku. Tapi entah itu hanya halusinasiku saja, atau entah apa itu aku juga nggak tahu."


"Bayangan seperti apa?"


"Aku menggendong bayi laki-laki yang sangat lucu. Hari itu nggak ada hujan, bahkan nggak ada panas sedikitpun. Tapi seorang laki-laki memegangi payung untukku yang sedang menggendong bayi."


"Lalu siapa laki-laki itu?"

__ADS_1


"Aku sama sekali nggak bisa mengingat ataupun melihat wajahnya, yang aku tahu laki-laki itu adalah suamiku mas. Karena ada seseorang yang bertanya, lalu orang itu sempat bilang sama sekali nggak menyangka kalau aku akan menikah dengan tetanggaku."


"Berarti laki-laki itu adalah mas. Apa mungkin anak kita ini laki-laki seperti yang ada dalam bayangan kamu?" Tanya Mas Anwar sambil mengelus perutku.


"Mungkin itu hanya kebetulan mas. Apa mas Anwar menginginkan anak laki-laki?"


Mendengar pertanyaanku mas Anwar terdiam sejenak, seperti sedang berpikir tentang jenis kelamin bayi yang ada dalam kandunganku.


"Laki-laki ataupun perempuan, mas nggak masalah. Tapi kalau bisa memilih, mas ingin anak kita itu perempuan. Biar cantik seperti kamu."


"Ya ampun, mas. Bisa banget ngegombalnya."


Dari semua pembicaraanku dan mas Anwar, ada satu hal yang selalu mengganjal dalam pikiranku. Setelah bayangan itu perlahan memudar, aku tidak pernah lagi melihat bayangan masa depanku. Entah itu bersama anakku ataupun mas Anwar.


"Aish ada apa?"


"Sebentar ya mas, aku lagi nyaman banget. Rasanya aku nggak mau melepas pelukan ini."


Mas Anwar membalas pelukanku dengan hangat.


***

__ADS_1


Setelah sholat istikhoroh yang kesekian kalinya, sebelum aku memutuskan untuk menerima lamaran mas Anwar, aku kembali mendapatkan petunjuk melalui mimpi.


Aku dan mas Anwar keluar dari sebuah mobil yang berhenti di sebuah jalan, yang entah akupun tidak mengetahuinya. Saat itu ada seorang bapak yang melewatiku dan mas Anwar.


"Pengantin baru mau kemana?" Tanyanya sambil tersenyum simpul.


Apa maksudnya aku dan mas Anwar sudah menikah?


"Mau memancing ikan sambil naik perahu, pak." Mas Anwar menjawab dengan nada yang sopan.


Entah bagaimana ceritanya, aku dan mas Anwar sudah berada di atas sebuah perahu kecil di tengah laut dengan pemandangan gunung yang indah.


"Alhamdulillah, dapat ikan." Teriak mas Anwar sambil menarik pancingannya.


Melihat mas Anwar tersenyum bahagia, aku pun ikut tersenyum bersamanya. Hanya saja, yang membuatku bingung adalah warna air lautnya yang keruh bagaikan air sungai saat banjir.


Aku pernah bertanya pada seseorang tentang arti mimpiku ini, dia mengartikan bahwa jika mungkin saja aku dan mas Anwar berjodoh. Setelah menikah, keluargaku akan dilimpahkan rezeki yang banyak meskipun akan banyak juga masalah yang harus aku dan mas Anwar hadapi.


***


**Assalamualaikum, Pembaca setiaku 😊

__ADS_1


Maaf baru bisa update lagi, karena kondisi kesehatan yang membuat kendala dalam penulisan. Saat ini pun, masih menjalani pengobatan. Untuk itu mohon pengertiannya. Terimakasih Banyak 😊**


__ADS_2