
Kurang lebih seperti itulah ceritanya. Mas Anwar sampai merinding mendengarnya.
"Mas parkir mobil dulu."
Selagi aku menunggu mas Anwar parkir mobil, di depan pintu ada sebuah kardus yang lumayan besar. Melihat bungkusnya, sepertinya itu adalah paket.
"Apa paket ini punya mas? Mas Anwar pesan online apa?" Aku bertanya seraya membolak-balikan paket tersebut.
"Mas kira ini punya kamu. Apa ada pengirimnya?"
"Bukan punyaku mas. Lalu, sepertinya tidak ada nama pengirimnya."
Sebelum aku membuka paket itu, mas Anwar lebih dulu meraihnya dari tanganku.
"Mas saja yang buka. Lebih baik kita masuk dulu."
Seperti yang aku lakukan sebelumnya, mas Anwar juga terlihat membolak-balikan paket itu. Tapi nihil. Mas Anwar pun tidak melihat tanda pengirim paket tersebut.
Srek. Srek. Suara perekat paket di buka dengan keras oleh mas Anwar.
Begitu kardus terbuka, tercium bau busuk yang menyengat.
__ADS_1
Ternyata isi dari paket tersebut adalah sebuah boneka dan beberapa buah yang sudah membusuk serta dipenuhi dengan belatung.
"Astaghfirullah. Mas apa ini? Kenapa ada orang yang mengirimkan paket ini ke rumah kita?" Aku yang berusaha menutup hidung, agar tidak bisa mencium bau busuknya.
Baunya memang tidak tercium. Tapi perutku terasa di aduk-aduk melihat belatung yang menggeliat diantara buah yang membusuk. Membuatku mual hingga berhasil membuat aku memuntahkan seluruh isi perutku.
Ting. Sebuah notofikasi pesan masuk di handphoneku.
'Semoga perutmu menyukai apa yang aku berikan. Tunggulah hadiahku selanjutnya.'
"Ya Allah." Aku melemparkan handphoneku di atas meja.
Di ambil lah handphoneku oleh mas Anwar. Membaca pesan yang tertera di layar, membuat mas Anwar mengernyitkan dahinya.
"Siapa mas?"
"Rania."
"Jangan suudzon mas."
"Kamu masih mual?"
__ADS_1
"Sepertinya sudah lebih baik, berkat teh manis yang mas buatkan untukku."
Hingga saat ini sering sekali, berbagai macam paket yang berisi ancaman datang ke rumahku.
Merasa sangat kesal, mas Anwar mengajakku menemui kak Rania, dengan maksud untuk memberikan teguran padanya.
Cukup lama aku dan mas Anwar menunggu di sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja. Aku yang sibuk mengerjakan beberapa berkas yang di perlukan saat akreditasi rumah sakit nanti, tidak mengindahkan sikap mas Anwar yang mulai merasa gelisah. Beberapa belas menit kemudian kak Rania datang juga.
"Aku tidak akan berbasa-basi. Tolong hentikan ancaman-ancaman yang kamu kirim ke rumah!" Mas Anwar berbicara dengan nada yang tegas.
"Ancaman? Ancaman apa? Maksud kamu apa?"
"Bukankah selama dua bulan ini kakak yang mengirimkan paket-paket ini?" Aku memberikan beberapa foto paket berisi ancaman yang sering datang ke rumah.
"Sumpah demi Tuhan. Bukan aku yang mengirimkan paket-paket ini." Mata kak Rania membulat, dengan ekspresi sangat terkejut setelah melihat foto yang aku berikan.
"Tolong jujur!" Mas Anwar mendesak kak Rania.
"Aku sudah bersumpah atas nama Tuhan, Anwar. Bukan aku. Aku memang sempat kesal karena kalian. Tapi jelas ini bukan aku pelakunya. Karena ini tindakan kriminal, jadi tidak mungkin aku membuat karirku hancur begitu saja."
Semoga saja apa yang di katakan oleh kak Rania adalah benar. Lantas siapa pelaku pengirim paket misterius itu sebenarnya?
__ADS_1
Karena tidak ada yang bisa membuktikan siapa yang mengirimkan paket itu, mas Anwar memutuskan untuk memasang sebuah kamera pengawas di depan rumah.