
"Asihwa." Kak Amy menggoyangkan bahuku.
"Ah iya kak. Maaf aku melamun."
"Kamu di panggil bu Neneng, dari tadi diam saja."
"Begini Aish. Bulan Agustus, rumah sakit kita akan re-akreditasi. Jadi beberapa bulan kedepan ibu akan sibuk menata kembali beberapa laporan yang susunannya masih belum sesuai dengan SOP. Apa kamu bisa bantu ibu?"
"InsyaaAllah bisa bu."
"Kalau sampai harus lembur, kamu keberatan?"
"Nggak bu. Saya siap bantu."
"Baiklah, terima kasih banyak." Bu Neneng tersenyum.
Tidak berselang lama, terdengar suara notifikasi pesan masuk di handphone milikku.
'Kamu harus bertanggungjawab.'
"Apa maksudnya? Pesan dari siapa ini?" Aku berkata dengan pelan.
'Karena kamu aku harus menanggung rasa malu.'
Hampir sepuluh pesan masuk, tapi aku mengabaikannya. Karena ini pesan dari nomor yang tidak aku kenal. Beberapa pesannya berisi cacian dengan kata-kata kasar.
Hendak tidur pun pesan itu terus saja masuk. Mas Anwar yang mendengar notifikasi pesan di handphoneku pun penasaran.
"Pesan dari siapa?"
"Nggak tahu mas, aku nggak mengenal nomornya."
"Mas boleh lihat?"
__ADS_1
Aku memberikan handphoneku pada mas Anwar. Karena melihat isi pesan dari nomor itu mas Anwar tampak kesal.
"Kenapa kamu nggak bilang mas?"
"Karena aku pikir ini hanya salah sambung atau spam."
"Tidak. Ini bukan salah sambung. Ini pesan dari Rania."
"Kenapa mas tahu kalau ini pesan dari kak Rania?"
"Karena dia sempat menelpon mas. Dia mengatakan kalau nggak akan membiarkan orang yang membuatnya malu, hidup dengan tenang. Tapi mas nggak tahu kalau yang dia maksud adalah kamu." Kekhawatiran mas Anwar semakin bertambah.
Aku memeluknya untuk menenangkannya. Aku juga meyakinkan mas Anwar, aku akan baik-baik saja.
"Sayang."
"Hmmm..."
"Sayang..."
"Mas sudah merasa tenang. Terima kasih pelukannya, tapi..."
"Tapi apa mas?"
"Tapi ada yang minta jatah." Mas Anwar mengatakannya tanpa basa-basi.
Aku mendorongnya pelan dengan sedikit tertawa. Namun tangannya menarik kembali tubuhku. Dia mencium keningku, pipiku dan berakhir kecupan lembut di bibirku.
Perlahan tapi pasti, mas Anwar menurunkan ciumannya. Menyususri leherku. Darahku mulai berdesir karena setiap kecupan yang di berikan mas Anwar.
Tanpa penolakan dariku, mas Anwar terus melakukan apa yang diinginkannya.
Setiap selesai berc*nta denganku mas Anwar tidak pernah lupa mencium kening dan memeluku, lalu mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Selamat pagi." Mas Anwar mengangkat bajuku dan memasukkan kepalanya.
"Sebentar lagi Shubuh mas."
"Iya mas tahu. Jadi biarkan mas seperti ini sebentar ya." Mas Anwar menjawab dengan posisi kepala yang terbenam di dadaku.
"Ayo bangun mas."
"Lima menit."
Meskipun aku terus menyuruhnya untuk bangun, namun aku tetap menyukai keadaan seperti ini. Mas Anwar memang selalu bersikap manja. Bahkan berkata-kata manis saat ada maunya.
"Mas..."
"Apa."
"Apa aku boleh bertanya?"
"Tentu saja boleh."
"Apa aku boleh tahu tentang masa lalu mas dengan kak Rania?"
Mungkin karena terkejut atau apa, mas Anwar menyelesaikan aktivitasnya di dalam bajuku.
"Tadi mas mengatakan dengan yakin kalau aku boleh bertanya. Lalu respon apa ini? Apa aku nggak boleh bertanya soal ini?"
"Tentu saja boleh. Mas tidak pernah ada hubungan apa-apa dengan Rania. Ini terjadi karena kesalahpahaman antara mas dengan Rania."
"Ceritakan semua detailnya mas. Jangan sampai ada yang terlewat dari cerita mas."
"Cium dulu." Mas Anwar menunjuk bibirnya.
"Aku pikir mendengar cerita mas adalah satu hal yang gratis."
__ADS_1
"Tentu saja gratis. Tapi mas perlu di charge terlebih dahulu." Mas Anwar mengerucutkan bibirnya.