Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Tangisan Wanita


__ADS_3

"Dokter apakah istri saya baik-baik saja?"


"Istri anda baik-baik saja, hanya dua atau tiga hari kedepan kemungkinan kemampuan mendengar dari istri anda berkurang. Tetapi dengan bantuan obat yang saya berikan, mudah-mudahan ini tidak berlangsung lama."


"Baik dok, terima kasih banyak."


"Sayang, kamu gak apa-apa. Syukurlah kamu baik-baik saja." Mas Anwar memelukku.


"Mas ayo pulang, aku ngantuk."


"Kamu tidur saja, nanti begitu sampai rumah, mas bangunin."


Aku hanya mengangguk. Selama perjalanan ke rumah sakit pun mas Anwar hanya fokus menyetir. Gak ada satu pertanyaanpun dia lontarkan. Ah... mungkin mas Anwar sudah mengerti.


"Aish bangun, kita sudah sampai rumah."

__ADS_1


Mas Anwar memintaku menunggunya memarkirkan mobil, dia bilang mau menemaniku masuk ke rumah. Mungkin mas Anwar masih khawatir


"Mas...?"


"Hmmm..."


"Apa mas gak mau bertanya?"


"Banyak sekali yang ingin mas tanyakan, tapi bagiku kamu gak apa-apa itu lebih penting."


"Terima kasih ya mas. Boleh ku peluk?"


"Ah... ya, besok gak perlu masuk kerja dulu."


"Hmmm... gak bisa mas. Lagipula aku gak apa-apa."

__ADS_1


***


Mas Anwar masih terdengar khawatir, dia bersikukuh melarangku pergi bekerja. Akhirnya aku menurut saja, aku istirahat dirumah sedangkan mas Anwar pergi bekerja. Mas Anwar bekerja sebagai supervisor di perusahaan otomotif, yang aku tahu pekerjaannya tidaklah mudah. Terkadang mas Anwar harus turun ke lapangan, pergi dua atau tiga hari tanpa pulang ke rumah. Namun mas Anwar sangat menyukai pekerjaannya, dia bekerja tanpa mengeluh. Mas Anwar bilang apapun pekerjaannya, bagaimanapun pekerjaannya dan berapapun gajinya asal dilakukan dengan ikhlas Allah pasti memberikan kemudahan di setiap pekerjaannya.


Dulu pernah sekali mas Anwar pergi untuk urusan pekerjaan secara mendadak karena menggantikan temannya yang sakit, mas Anwar mengajakku karna khawatir meninggalkanku sendiri. Pekerjaannya berjalan dengan lancar, tapi saat aku dan mas Anwar chekout dari hotel tempat kami menginap mendadak hujan deras disertai angin kencang. Pohon-pohon besar yang ada didepan hotel satu per satu menjatuhkan dahannya. Pihak hotel menyarankan untuk membatalkan kepulangan kami. Posisi hotel lumayan jauh dari keramaian. Karena berada di pinggiran kota, yang membuat akses jalan cukup sepi untuk dilalui.


"Mas diluar gelap sekali." Ucapku setelah melihat keluar jendela.


"Hujannya menyeramkan, beruntung kita masih disini."


Mas Anwar menghampiriku, ikut mengintip keadaan diluar yang masih hujan lebat disertai dengan angin kencang. Saat suara riuh hujan dan angin terdengar sayup-sayup seorang wanita menangis. Namun Mas Anwar sama sekali tidak mendengarnya. Semakin lama suara wanita itu semakin terdengar pilu dan mendekat. Aku sibuk mencari dan mendengarkan setiap sudut kamar, setelah cukup untuk memastikan ternyata suara itu berasal dari kamar mandi yang ada di dalam kamar ini.


"Mas... suaranya dari kamar mandi." Aku mencoba meyakinkan mas Anwar.


Saat aku membuka pintu kamar mandi tiba-tida seorang wanita berlumuran darah dengan rambut yang acak-acakan berteriak sambil berlari ke arahku dengan tangan panjangnya mencekik leherku.

__ADS_1


"Aish... Aish... Aishwaaa... Kamu kenapa? Ada apa? Apa kamu mendengar mas? Tolong sadarlah, mas mohon."


Cengkraman tangannya sangat kuat sehingga aku kesulitan bernapas, mas Anwar gelagapan terlihat panik. Aku tahu ini tidaklah nyata untuk mas Anwar, ini hanya penglihatanku saja. Namun yang aku rasakan adalah nyata.


__ADS_2