
Walaupun foto itu hanya editan, tetap saja berhasil membuat kakiku seperti tidak ada lagi tenaga untuk menahan beban tubuhku. Saat itu juga, aku terduduk di sofa. Mas Anwar langsung berhambur memelukku.
Foto itu adalah foto mas Anwar yang tertusuk, seluruh tubuhnya penuh dengan darah. Tubuhku bergetar, rasanya aku tak sanggup jika orang itu benar-benar melakukan seperti ancamannya.
"Apa yang dia mau mas? Kenapa dia melakukan ini pada kita." Aku menangis sesenggukan.
"Apa yang harus kita lakukan, bagaimana jika dia tidak main-main dengan ancamannya mas."
Mas Anwar mengencangkan pelukannya.
"Tidak akan terjadi apa-apa, percaya sama mas. Besok mas akan ke kantor polisi, untuk membuat laporan."
***
Aku pernah menjalin hubungan beberapa tahun dengan seorang laki-laki. Awalnya dia memperlakukan aku dengan baik, lama kelamaan dia menginginkan sesuatu yang lebih dariku. Setiap bertemu dengannya dia selalu ingin men**ium bibirku. Tapi aku selalu menolak, dan membiarkannya men**ium keningku. Lagi-lagi dia menginginkan lebih, baik itu melalui pesan whatsapp ataupun secara langsung. Tetap saja aku mepertahankan pendirianku, terus saja aku menolaknya.
Aku berpisah dengannya, setahun sebelum aku di jodohkan dengan mas Anwar. Dia menginginkan aku t*dur dengannya, dengan alasan akan pindah kuliah ke luar kota. Dia mengatakan jika aku menyetujuinya, dia akan tetap selalu setia padaku. Aku tetap menolak.
Malam sebelum dia berangkat, tanpa curiga sedikitpun, dia mengajakku untuk bertemu dengan orang tuanya di rumahnya. Dia menyuruhku menunggunya di kamar, sementara dia hendak mengambilkan aku minum.
"Apa orang tuamu bersedia bertemu denganku?"
__ADS_1
"Orang tuaku sedang pergi." Dia memberikanku segelas air putih.
"Kalau begitu antar aku pulang, aku takut ini jadi fitnah karena hanya ada kita saja."
"Sebentar saja." Dia memelukku dengan lembut.
Aku membiarkannya memelukku.
"Kenapa harus jadi fitnah, kalau kita memang melakukannya."
Sontak saja aku mendorong tubuhnya dengan kasar, agar menjauh dariku. Nyatanya, tenagaku kalah kuat dengan dorongannya. Sehingga kini akulah yang terjatuh di atas kasur. Dia menindih tubuhku. Aku yang berada di bawah kungkungannya terus meronta-ronta dan berteriak.
"Lepaskan aku."
Cuuhhh. Aku meludahi wajahnya. Tangannya mengusap bekas ludahku, karena dia mulai teralihkan aku menendang perutnya hingga tersungkur ke lantai.
Kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Aku berlari keluar kamarnya. Di teras depan seorang wanita dan laki-laki sedang duduk bercengkrama.
'Apa mereka orang tuanya.'
'Benar. Aku harus minta tolong pada mereka.'
__ADS_1
"Ma. Pa. Tolong saya." Dengan napas tersenggal-senggal setelah aku berlari.
"Tolong? Maksudmu?"
"Dia hendak memerk**a saya."
Plak. Satu tamparan dari wanita itu mendarat di pipiku dengan keras.
"Berani sekali kamu memfitnah anak saya." Matanya yang melotot padaku seakan tidak percaya perbuatan anaknya.
Sedangkan dia dan papanya hanya diam tanpa suara.
"Mungkin saja kamu yang hendak memberikan kehormatanmu pada anakku, karena kamu tahu bahwa kami ini orang yang sangat kaya." Hardiknya.
Air mataku lolos begitu saja, mengalir membasahi pipiku.
"Saya tahu, anda adalah orang kaya. Karena itu saya pikir kalian adalah orang yang berpendidikan dan tahu caranya memperlakukan seorang wanita." Sedih, kesal, kecewa dan mara bertemu jadi satu, membuatku mengeluarkan kata demi kata dengan mulut dan tubuh yang bergetar.
Plak. Lagi-lagi wanita itu melayangkan sebuah tamparan padaku.
"Pergi sana! Jangan harap kamu bertemu lagi dengan anakku!" Wanita itu berteriak, membuat telingaku berdenging.
__ADS_1