
Kakek Erwin adalah kerabat jauh dari almarhum kakekku. Beliau adalah seorang ahli spiritual, tapi orang-orang lebih sering menyebutnya mbah Aam. Karena nama anak pertamanya adalah bu Aam.
Jam 20.45 WIB acara pemakaman kakek Erwin telah selesai. Tamu yang datang untuk bertakziah, satu per satu berpamitan untuk pulang. Menyisakan beberapa kerabat yang masih menemani istri dari kakek Erwin yang masih berduka.
"Nak Aish, ini adalah amanat dari bapak." Bu Aam memberikanku sebuah kotak kecil.
"Apa ini bu?" Aku langsung membuka kotak itu.
"Keris ini...?"
"Bapak bilang ini milik nak Aish."
Aku mengangguk pelan.
"Bapak sempat berpesan kalau keris ini meminta pulang kepada pemiliknya."
Mendengar perkataan bu Aam, seketika aku teringat mimpiku tentang bayangan hitam yang berkata 'Saya ingin pulang'. Aku meremat tangan mas Anwar, untuk mencoba menghilangkan gemetar di tanganku.
"Apa benda ini tidak bisa di simpan oleh bu Aam saja?"
"Ibu tidak bisa nak."
"Biarkan ibu saja yang menyimpannya." Ibuku meraih kotak itu dari tanganku.
'Seharusnya dulu, benda ini aku hancurkan.'
"Mau di hancurkan pun tetap saja, benda itu akan kembali padamu nak Aish."
Deg. Seketika aku tergugu dengan ucapan bu Aam. Apa mungkin beliau bisa membaca pikiranku.
Sebelum pulang, mas Anwar mengantarkan ibu dan bapak pulang terlebih dahulu.
"Apa sebaiknya kalian tidur di sini saja?"
__ADS_1
"Tidak bu. Lain kali saja."
"Kalau begitu hati-hati. Terima kasih sudah mengantar pulang."
Dalam perjalanan pulang, aku lebih banyak diam. Karena mas Anwar mengkhawatirkan aku, dia terus menggenggam tanganku.
"Mas..."
"Hmmm..."
"Apa aku pernah cerita, mengenai keris yang di berikan oleh bu Aam tadi?"
"Sepertinya belum."
***
Saat aku membuka kedua mataku, menatap langit-langit yang tampak asing. Mataku berputar mengitari setiap sudut ruangan. Bukankah ini rumah sakit? Seketika aku langsung mengambil posisi duduk. Tidak ku sangka apa yang aku lakukan membuat setiap orang yang ada di ruangan terkejut bahkan seperti ketakutan. Begitupun denganku, betapa terkejutnya aku melihat tanganku yang terpasang infus dan aku merasakan sebuah selang oksigen terpasang di hidungku.
"Aish kamu sudah sadar. Apa kamu ingat sesuatu?"
"A...yah... Aish kena...pa." Suaraku terdengar parau.
Tenggorokanku terasa sangat kering.
"Aish mau minum."
Ibuku langsung memberikan segelas air putih. Dalam beberapa tegukan, aku menghabiskan seluruhnya.
"Ibuuu... Aish kenapa? Tubuh Aish sangat sakit semuanya."
Ayah dan ibu saling berpandangan, seperti orang yang sedang kebingungan.
"Aish gak apa-apa. Istirahatlah. Aish mau buah?" Tanya ayah dengan sedikit gugup.
__ADS_1
"Iya Aish mau."
Hingga pulang ke rumah pun ayah dan ibu tetap diam. Aku merasa sangat penasaran, sebenarnya apa yang terjadi sampai aku harus di rawat di rumah sakit selama tiga hari ini.
Teng. Teng. Teng. Suara pukulan mangkuk. Bakso? Aku berlari mendekati jendela rumahku, mengintip keadaan di luar. Benar saja, suara itu berasal dari pedagang bakso keliling.
Setelah mendapatkan uang dari ayah, aku bergegas keluar dengan membawa mangkuk.
"Mas baksonya lima ribu. Gak perlu pakai saos."
Beberapa ibu-ibu tetangga rumahku pun ikut mendatangi gerobak bakso.
"Bi Dedeh sama bi Asih mau beli bakso juga?"
"Aish kamu sudah pulang dari runah sakit." Tanya bi Dedeh.
"Ah iya bi."
Bi Dedeh mulai berbisik-bisik dengan bi Asih.
"Bukankah dia terlihat waras untuk di katakan gila?" Tanya bi Asih yang berbisik pada bi Dedeh, namun aku bisa mendengar perkataanya.
"Apa masud kalian bi? Aku? Gila?"
"Ah itu... anu... bukan itu maksud kami."
"Lantas apa?"
"Sebelum kamu di rawat di rumah sakit, bibi sempat datang ke rumah kamu. Karna penasaran, banyak tetangga yang datang ke rumah kamu."
"Apa yang sebenarnya terjadi bi."
"Ah itu... mereka bilang kamu kesurupan."
__ADS_1
Seketika aku mematung. Aku kesurupan. Benarkah?