
Saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku pernah mengalami hal serupa dengan apa yang Syahdan alami. Saat itu aku duduk di kelas dua. Karena suatu alasan, menjadikan kami yang duduk di kelas dua harus masuk sekolah siang setelah kelas satu selesai. Kira-kira kami masuk sekitar jam 10.00 WIB. Sebelum masuk kelas ada waktu setengah jam sebelum bel masuk berbunyi.
Teman-temanku mengajaku bermain petak umpet. Saat semua temanku sudah mendapatkan tempat persembunyian, kini tinggal aku seorang yang masih kebingungan mencari tempat sembunyi.
"Aish ayo sini. Sembunyi di lemari ini." Seorang teman melambaikan tangannya memanggilku dengan suara yang setengah berbisik.
Karena terdesak oleh hitungan waktu jaga yang tinggal sedikit, aku berlari dan masuk ke dalam lemari.
Meskipun keadaan di dalam lemari membuatku tidak nyaman, aku tetap harus bersembunyi. Karena kalau aku yang tertangkap duluan, teman-temanku akan berlaku curang dan menjadikan aku yang terus menerus berjaga.
Untungnya pada pintu lemari terdapat celah yang membuat cahaya dapat masuk ke dalam lemari.
'Tunggu dulu. Kalau diingat-ingat kenapa dia tidak ikut masuk? Apa dia punya tempat yang lain? Lalu kenapa seragamnya kotor sekali, terutama rambutnya berantakan. Seperti tidak pernah di sisir.'
Dari dalam aku tidak mendengar suara teman-temanku. Aku berpikir ternyata ini tempat sembunyi yang aman, dengan roma kapur yang menyeruak memenuhi ruang sempit yang aku tempati.
Cukup lama aku bersembunyi di dalam lemari, apakah teman-temanku sudah di temukan semua? Mungkin aku akan tahu kalau mengintip sedikit.
Dengan perlahan aku mendorong pintu lemari. Namun pintu lemari itu sulit untuk aku buka, seperti terkunci dari luar.
__ADS_1
'Bagaimana ini? Aku tidak bisa keluar.'
Sekuat tenaga aku mendorong pintu itu, tapi tetap saja tidak terbuka. Aku mulai ketakutan.
Tek. Sebuah kapur terjatuh di depan lemari, aku melihatnya dari celah pintu. Kapur itu menggelinding menjauh, kemudian berhenti mengenai kaki meja. Ada seseorang dengan seragam yang lusuh memungut kapur tersebut.
"Sepertinya itu anak yang tadi. Tolong... tolong buka pintunya." Aku berteriak padanya, namun dia pergi begitu saja seolah-olah tidak mendengar teriakanku.
Mataku terus mencarinya dan mulutku terus berteriak minta tolong. Pipiku mulai basah karena lelehan air mataku. Terdengar suara seseorang sedang berlari dengan bertelanjang kaki. Aku sangat berharap akan ada yang membukakan pintu ini untukku.
Bukan. Dia bukan manusia. Mataku terbelalak, saat mendapati sorot mata dengan bagian putihnya memerah melalui celah pintu ada di depanku.
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, berteriak minta tolong sambil menangis.
Ceklek. Pintu lemari terbuka. Perlahan aku membuka kedua tanganku.
"Kak Andi. Huuu... huuu..." Aku melompat dari lemari, mengahmbur memeluk kakaku.
"Ayah... ibu... Aish ketemu." Kak Andi berteriak memanggil ayah dan ibu.
__ADS_1
"Aish... syukurlah kamu tidak apa-apa." Ayah memelukku.
"Ayah... ibu... kenapa ada di sini?"
"Apa kamu tidak ingat Aish?" Tanya pak Tara, wali kelasku.
"Ingat apa pak?"
"Kamu menghilang seharian, lihatlah ini sudah larut malam. Teman-temanmu sudah pulang semua." Pak Tara menunjuk ke arah jendela.
Benar. Ini sudah malam. Tapi saat aku masih ada di dalam lemari keadaan masih terang.
Aku menggeleng pelan.
"Menurut teman-temanmu, kalian sedang bermain petak umpet. Tapi setelah semua temanmu ditemukan, tinggal kamu yang belum. Mereka sudah mencari dan berteriak memanggil namamu tapi tidak ada jawaban. Bahkan salah seorang temanmu sempat membuka lemari ini, tapi kamu tidak ada di dalam."
'Aku menghilang?'
Aku hanya terdiam menundukkan kepala.
__ADS_1
"Maafkan Aish pak, maaf sudah merepotkan bapak dan teman-teman."