
Dalam sekejap listrik di rumahku mati, anehnya aku seperti melihat seseorang sedang duduk di sofa ruang tamu. Perlahan napasku tersenggal-senggal, karena aku punya fobia kegelapan. Dengan meraba benda-benda yang ada di sampingku, aku berjalan menuju ruang tamu, mungkin saja itu mas Anwar.
"Maaaasss... lampunya... maaaass, Aish gak... bisa napas..." Kataku terbata-bata karena berusaha untuk tetap bernapas.
Belum sampai ke ruang tamu, napasku semakin berat. Rasanya rumahku sudah kehabisan oksigen. Langkah kakiku semakin berat, aku seperti kehilangan tenaga untuk berjalan. Aku sudah gak sanggup lagi untuk berjalan. Aku menjatuhkan tubuhku dan gak sengaja menarik sebuah vas bunga.
Tubuhku tersungkur ke lantai dengan tanganku terkena pecahan vas, darah mulai menetes dari lukaku. Begitu aku melihat sekeliling, tepat disebelahku ada seorang nenek dengn tubuh bongkoknya berdiri dengan taring tersungging di mulutnya. Tiba-tiba dia menendang kepalaku, seketika telinga sebelah kiriku mendengung dan terasa sangat sakit. Aku terus berteriak memanggil mas Anwar, dengan napas tersenggal-senggal.
"Aish... Aish... Aishwaaaa buka matamu."
"Mas lampunya... mas lampunya mati... mas tanganku terluka. Aku gak bisa mendengar dengan baik, telinga kiriku terus berdengung dan sakit. Mas aku takut." Ucapku dengan terburu-buru.
"Istighfar Aish, istighfar ya. Kamu hanya mimpi, lihat lampunya menyala. Kamu minum dulu." Mas Anwar mencoba menenangkanku.
"Astaghfirullah... Astaghfirullah... Aku hanya mimpi mas? Tapi..."
__ADS_1
Kemudian mas Anwar memelukku, sembari menepuk-nepuk punggungku. Beberapa menit kemudian aku mulai tenang, namun telingaku terasa seperti ada yang mengalir.
"Mas apa telingaku berdarah?"
Sekarang gantian mas Anwar yang panik. Mas Anwar mengajakku ke rumah sakit. Kalau memang ini hanya mimpi kenapa telinga dan tanganku benar-benar terluka?
***
"Bu... ibu... ibu dimana? Kak Andi... kenapa Aish di tinggal sendiri?" Aku menangis sejadi-jadinya, terduduk di belakang pintu depan dengan memeluk boneka si komo dalam keadaan gelap karna lampu mati.
Hanya lampu kamarku yang menyala, karena takut sendirian ditambah gelap, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku dalam keadaan masih menangis hingga tertidur.
"Ibuuu... boleh Aish ngobrol sama ayah?" Pintaku.
Ibu memberikan telepon kepadaku. Saat mendengar suara ayah aku merengek padanya, meminta supaya ayah lekas pulang. Ayah bilang akan pulang hari Jumat sore.
__ADS_1
"Jangan lupa beli buah ya ayah." Kataku ke girangan.
Saat aku bermain dengan teman-teman tetangga rumahku, aku melihat mereka memiliki tas boneka hewan, walaupun bentuk hewannya berbeda.
"Kalian beli bonekanya dimana?"
"Kamu semalam gak ikut ke pasar malam ya? Kita beli boneka ini di pasar malam."
"Nggak. Kita gak pergi ke pasar malam."
"Bukannya kak Andi dan ibumu ikut pergi juga ke pasar malam?"
Aku berlari pulang dan menghampiri ka Andi sembari menangis.
"Kak, apa benar semalam kakak pergi ke pasar malam dengan ibu. Apa aku memang benar-benar ditinggal sendiri di rumah?"
__ADS_1
"Iiiiyyaaa..." Jawab kak Andi kebingungan.
Semakin jelas saja, ibu memang lebih sayang ka Andi. Dadaku terasa sangat sesak, rasanya seperti ada yang menusuk begitu dalam hingga aku kesulitan untuk bernapas. Apa aku sakit? Ini jenis penyakit apa? Kenapa rasa sakitnya datang secara tiba-tiba? Hingga saat ini pun aku merasa trauma dengan kegelapan.