
"Sebenarnya saat aku menunggu mas di depan tadi, aku melihat seorang nenek yang tempo hari pernah ada di rumah."
"Nenek yang membuat telingamu berdarah?"
"Iya mas. Awalnya aku ragu, bagaimana mungkin sosok yang menampakan dirinya dimimpiku ternyata ada dalam kenyataan."
"Lalu, kamu melihatnya dimana?"
"Aku melihatnya terus mengekor pada kak Rania, mas."
"Apa kamu yakin?" Mas Anwar terkejut mendengar perkataanku.
Aku hanya mengangguk. Raut wajah mas Anwar berubah menjadi khawatir. Tangan kirinya meraih tanganku, di genggamnya erat dengan sesekali melirik ke arahku.
"Kamu jangan khawatir." Ucapnya.
"Bukannya mas yang mengkhawatirkan aku? Mas tenang saja, selama ada mas, aku aman." Aku memeluk tangan mas Anwar, mencoba meredakan rasa khawatirnya.
"Kita sudah sampai."
"Ah iya. Tapi kenapa lampu depan tidak menyala mas?"
"Mungkin mama lupa menghidupkannya."
Tok. Tok. Tok.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
Meskipun hujan mulai reda, namun angin berhembus terasa menusuk tulang. Bulu-bulu halus di tengkuk dan tanganku berdiri, sensasi dingin yang membuatku merinding.
"Assalamualaikum." Mas Anwar kembali mengucapkan salam karena pintu tak kunjung terbuka.
Aku merasakan ada sesuatu yang menggerayang di pundakku. Awalnya tidak begitu terasa, namun semakin lama semakin jelas. Seperti tangan yang sedang meraba-raba mencari sesuatu. Aku mengira itu adalah tangan mas Anwar, tapi bagaimana mungkin, karena mas Anwar ada di hadapanku, bukan di belakangku. Lalu tanpa berpikir aku langsung menoleh ke arah belakang.
'Tidak ada apa-apa.' Aku bergumam sendiri, dengan terus menyusuri keadaan di sekitar dengan mataku.
Ceklek. Pintu terbuka.
"Waalaikumsalam." Mama membukakan pintu.
"Ma, lampu di depan itu kenapa tidak menyala?"
"Mama sudah capek sekali mengganti bola lampu itu. Tapi selalu saja putus. Jadi sudah beberapa hari ini lampu di depan mama biarkan begitu saja."
"Benarkah? Apa mungkin ada yang konslet?"
"Biarkan saja."
"Tante Aish, Adan mau permen." Syahdan, anak bungsu mbak Mala tiba-tiba duduk dipangkuanku.
"Aduh bagaimana ini, hari ini tante nggak membawa permen kesukaan Adan." Permen yang di maksud adalah vitamin c dalam bentuk tablet hisap.
__ADS_1
"Yaahhh." Syahdan langsung tertunduk lesu.
"Tapi tante punya coklat. Adan mau?"
"Mau tante." Dengan girangnya, Syahdan mengambil bungkusan kecil, isinya coklat yang ku bawa dari restoran tadi.
"Makan berdua dengan kak Raya."
"Tidak boleh." Syahdan mengerucutkan bibirnya serta berusaha untuk menyembunyikan coklat yang dia dapatkan dariku.
Keadaan di luar masih gerimis, nampaknya baru akan reda larut malam. Mama menyuruh aku dan mas Anwar untuk menginap.
Menjelang pagi hari, udara semakin dingin tampak dedaunan dan pohon masih basah karena hujan semalam. Aku melihat Syahdan sedang asik bermain sendirian di teras depan.
"Adan lagi main apa?"
"Tante mau ikut main sama Adan?" Ekspresi wajahnya itu sangat senang.
"Boleh."
"Kalau begitu kita main petak umpet, tante yang jaga, Adan yang ngumpet." Belum mendengar aku setuju atau tidak, Syahdan sudah berlari mencari tempat persembunyian.
"Tante hitung sampai sepuluh ya. Satu... dua..."
"Sepuluh. Siap atau tidak tante datang cari Adan ya." Kataku dengan sedikit berteriak.
__ADS_1