
Jam segini biasanya lagi sibuk-sibuknya pelayanan obat, jadi waktu terasa berlalu dengan cepat. Dari shubuh tadi semua sudah aku lakukan, meskipun mas Anwar menyuruhku istirahat, aku malah beres-beres rumah dan melakukan segala macam aktivitas tapi jam masih menunjukan pukul 10:00 WIB.
Handphoneku berdering. Ah... Mas Anwar, bibirku tersenyum tipis.
"Assalamualaikum, mas."
"Waalikumsalam. Maaf ya hari ini mas pulang agak telat, tapi mas usahakan pulang gak terlalu malam."
"Iya... gak apa-apa mas. Mas jangan lupa makan. Sampai ketemu di rumah ya."
Semuanya sudah rapi, entah apa yang akan aku lakukan lagi. Mungkin karna terlalu capek mataku mulai berat, kantuk pun datang. Aku berbaring di sofa dan memejamkan mata dengan TV yang masih menyala. Aku mulai terlelap.
Dalam tidurku aku mendengar suara langkah seseorang yang menggunakan sepatu pantofel, suara langkah itu terdengar jelas dan mendekat. Ah.. mungkin suara dari TV. Namun suara langkah kaki itu tidak selaras dengan suara yang keluar dari TV. Langkah itu terdengar semakin dekat. Tubuhku kaku, mataku sulit untuk terbuka. Sekuat tenaga pun aku berusaha untuk bangun dari tidurku, semuanya sia-sia. Yang bisa aku kendalikan hanya pikiranku. Suara langkah itu berhenti, TV yang dari tadi menyala mendadak mati. Hening, tidak ada suara sedikitpun. Tiba-tiba ada yang menarik kakiku sekuat tenaga, hingga aku terjatuh dari sofa dan terbangun.
Aku terus bertasbih sambil mengelus dada. Jam menunjukan pukul 13:45 WIB. Aku tertidur lama. Baru saja aku mengalami sleep paralysis atau kelumpuhan tidur. Orang awam menyebut kejadian yang aku alami adalah 'ketindihan'. Ya... aku sering mengalaminya.
Saat malam tiba, mas Anwar pulang dengan membawa cemilan pisang goreng crispy kesukaanku.
__ADS_1
"Mas sudah makan?"
"Sudah." Jawabnya tersenyum.
"Mas tadi siang aku terkena 'ketindihan' lagi."
Mas Anwar terkejut, sontak langsung memeriksa keadaan tubuhku.
"Aku gak apa-apa mas, hanya saja kakiku terasa sangat sakit."
"Mas..."
"Mas... sepertinya ada yang aneh."
"Apanya?"
"Dulu sesering apapun aku 'melihat' gak pernah sampai aku terluka seperti kemarin. Dan beberapa tahun terakhir ini seringnya 'mereka' benar-benar menggangguku." Aku mulai menitikan air mata.
__ADS_1
"InsyaaAllah, gak ada apa-apa. Minta perlindungan pada Allah. Jangan khawatir, mas ada di sini." Peluk mas Anwar mencoba menenangkan aku.
Esoknya aku pergi bekerja seperti biasanya, meskipun kakiku terasa semakin sakit untuk berjalan. Beruntungnya pekerjaanku tidak menuntut banyak untuk berjalan, semuanya bisa aku lakukan dengan posisi duduk.
"Aishwa, kakimu masih sakit?" Tanya bu Neneng, senior tempatku bekerja.
"Sedikit bu, tadi pagi saya sudah minum obat."
"Kamu ada-ada saja, pendengaranmu baru pulih, sekarang gantian kaki yang sakit." Katanya sambil tersenyum meledekku.
"Iya... maafkan saya bu."
"Ya sudah, cepat selesaikan tumpukan resep ini. Biarkan saya yang memberikannya pada pasien, karna antrian masih cukup banyak."
"Baik bu, terima kasih banyak."
Ini adalah tahun ke empat aku bekerja di Rumah Sakit Mutiasari. Banyak sekali pengalaman yang aku dapatkan selagi bekerja sebagai apoteker disini. Selain pengalaman, aku punya teman bahkan sudah seperti keluarga sendiri.
__ADS_1
Masih terekam jelas pengalaman hari ke dua aku bekerja disini, selain karyawan RS Mutiasari, 'penghuninya' pun turut menyambut kedatanganku bekerja di sini. Hari itu adalah hari ulang tahunku, meskipun baru bekerja di sini, bu neneng beserta karyawan lain bagian farmasi memberikan aku kejutan ulang tahun.