Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Luka Tusuk


__ADS_3

Selepas menunaikan sholat shubuh berjamaah, aku sibuk menyiapkan sarapan untuk mas Anwar. Sedangkan mas Anwar sedang sibuk mengurus bukti-bukti untuk membuat laporan pada kepolisian.


"Hmmmb..." Aku dan mas Anwar menutup mulut dan hidung menggunakan tangan, secara bersamaan.


"Mas mual juga?"


Mas Anwar mengangguk perlahan tanpa melepaskan tangannya.


"Bagaimana ini mas, sepertinya aroma bawang putih yang membuat kita jadi mual begini."


"Kita sarapan di luar saja, Aish. Bagaimana kalau sarapan bubur ayam Cianjur yang ada di depan komplek?"


"Boleh mas. Bubur di sana cukup enak. Sebentar, aku pakai kerudung dulu mas."


Bubur ayam Cianjur ini cukup enak, banyak penghuni komplek yang datang untuk membelinya. Bahkan ada juga yang datang dari jauh untuk membeli bubur ini. Antriannya cukup panjang, karena aku dan mas Anwar datang pada saat sedang ramai pembeli.


"Kang buburnya dua." Mas Anwar memesan setelah mendapatkan giliran, sedangkan aku duduk menunggu mas Anwar memesan.


"Di bungkus atau mau makan disini?"


"Di sini saja kang, kebetulan lagi libur kerja."

__ADS_1


"Mangga."


Porsi bubur ayam ini cukup, tidak sedikit ataupun terlalu banyak.


"Buburnya satu di bungkus." Terdengar seseorang memesan bubur untuk di bawa pulang.


Sebelum bubur yang aku makan benar-benar habis, sendok yang sedang aku pegang terjatuh. Suara itu. Suara orang yang sedang memesan bubur itu, aku mengingatnya dengan jelas. Membuat bayangan masalalu kembali berkelebat di pikiranku.


"Kebetulan sekali. Sepertinya takdir mempertemukan kita kembali, sa-yang." Tiba-tiba saja dia duduk di sampingku.


Mas Anwar yang mengenalinya, spontan menjauhkanku darinya.


"Tolong jangan mengganggu istri saya." Saat ini mas Anwar berdiri di sampingnya yang sedang duduk, menghalangiku yang ada dibelakangnya.


"Ayo kita pulang." Mas Anwar mengajakku pulang tanpa melepaskan rangkulannya.


Entah siapa yang memulai, saat ini mas Anwar dan dia saling mencengkram baju. Orang-orang yang menyaksikannya saling melempar pertanyaan.


"Apa yang terjadi?"


"Ada apa dengan mereka?"

__ADS_1


"Seharusnya ada yang melerai mereka."


"Pagi-pagi sudah membuat keributan."


Bla. Bla. Bla. Omongan setiap omongan hanya terlontar begitu saja, tanpa ada yang tahu bagaimana cara melerai perkelahian itu. Aku berusaha membuat mas Anwar menahan emosinya.


Namun saat itu juga, aku terdorong karena tangkisan tangan laki-laki itu. Tubuhku tersungkur ke atas aspal jalan. Mas Anwar dan laki-laki itu berlari menghampiriku, membantuku untuk berdiri.


"Singkirkan tangan kotormu dari istriku!" Mas Anwar berteriak dengan tegas.


"Itu pak satpam, tolong bawa laki-laki yang membuat keributan di komplek ini." Penjual bubur datang bersama dengan dua orang satpam penjaga komplek.


"Mbak gak apa-apa?"


"Nggak apa-apa kang, terima kasih banyak."


Saat itu kami semua lengah, karena berpikir dia sudah di amankan oleh dua orang satpam. Mas Anwar saat ini terduduk di atas aspal, dengan tangan berlumuran darah yang berasal dari luka tusuk di pinggangnya. Laki-laki itu menympan pisau di dalam saku jaketnya.


"Mas... Mas Anwar."


"Mas gak apa-apa." Senyum tipis masih terlihat di wajahnya.

__ADS_1


"Tolong bantu suami saya." Aku meminta tolong pada orang-orang yang ada di sekitar.


Aku mulai menangis karena mengkhawatirkan keadaan mas Anwar. Semua ini seperti ancamannya kemarin. Dia tidak main-main dengan ancamannya.


__ADS_2