
Adzan shubuh sedang terdengar berkumandang, saat aku membuka mata mas Anwar sudah tidak ada di sampingku. Biasanya aku selalu bangun lebih awal sebelum mas Anwar. Aku merasakan tubuhku begitu lelah. Suhu di kamar terasa sangat dingin.
Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka, mas Anwar keluar dari balik pintu hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya.
"Kamu sudah bangun? Mau mandi pakai air hangat?"
"Nggak mas. Tunggu ya aku mandi dulu, kita sholat berjamaah."
Mas Anwar tersenyum sambil menganggukan kepala.
Saat aku keluar kamar setelah sholat berjamaah dengan mas Anwar, ibu sedang sibuk di dapur.
"Ibu kenapa repot-repot?"
"Ibu nggak repot. Ibu hanya masak dari bahan yang ada. Kamu istirahat saja."
"Tidak bu. Biar Aish Bantu."
"Ya sudah. Bagaimana keadaanmu, sudah lebih baik?"
"Sudah bu, hanya sedikit lelah. Tapi mungkin nanti juga hilang."
Sehari, dua hari dan hari berikutnya berlalu begitu saja. Ibu dan bapak tiriku pun sudah pulang, mereka hanya menginap satu malam saja. Aku dan mas Anwar melakukan semua apa yang di sarankan oleh pak Amar. Perlahan tubuhku mulai merasa segar. Untuk beberapa hari ini tidak ada gangguan dari 'mereka'. Hanya sebatas bayangan hitam yang berkelebat.
__ADS_1
"Sabtu sore mas ada reuni angkatan mas waktu SMA, mas boleh ikut?"
"Boleh mas." Jawabku sambil tersenyum.
"Kamu mau ikut? Sepulang dari reuni kita mampir ke rumah mama."
"Iya mas aku ikut."
Hari reuni. Mas Anwar sudah berpakaian rapi, sedangkan aku masih saja sibuk mencari baju yang pas.
"Jangan dandan terlalu cantik, mas gak suka kalau ada orang lain yang melihat kecantikan kamu." Mas Anwar mencoba menggodaku.
"Tentu aku harus cantik mas. Bahkan harus lebih cantik dari mantanmu." Aku membalas godaan mas Anwar.
Aku hanya tertawa membantah apa yang di katakan mas Anwar. Cemburu? Tentu saja aku memang cemburu.
***
"Kak Rania cantik yah. Dia pintar dan juga populer. Dari teman seangkatan sampai adik kelas, banyak yang menyukainya." Ayu terus saja mengoceh.
"Kamu tahu Aish? Apa yang membuat para laki-laki bisa menyukai kak Rania?" Tanya Ayu dengan serius.
"Apa?"
__ADS_1
"Katanya kak Rania memakai pelet." Ayu merendahkan nada suaranya.
Glek. Uhuk... uhuk... Aku yang mendengar perkataan Ayu, tiba-tiba tersedak kuah mie ayam yang aku makan. Sontak Ayu pun segera memberikan aku minum.
"Jangan menyebarkan fitnah yang tidak berdasar, Yu. Kamu tahu kan fitnah itu dosa."
"Itu benar Aish. Banyak orang mengatakan hal yang sama."
"Kamu tahu kak Anwar?"
"Mas Anwar?"
"Kamu kenal?"
"Dulu waktu kecil aku sering bermain dengannya, karena rumah kami dekat. Tapi sekarang kita seperti orang asing."
"Benarkah?" Mata Ayu terbuka lebar.
"Sudah. Lanjutkan ceritamu."
"Ah iya. Kak Anwar itu terkenal karena sikapnya yang dingin pada wanita manapun. Tapi kak Rania berhasil meluluhkan hatinya. Apalagi kalau bukan karena memang benar kak Rania itu pakai pelet. Ya, walaupun hubungan mereka tidak bertahan lama."
Aku hanya tertawa mendengar penjelasan Ayu, aku menimpali nya dengan mengatakan bahwa itu hanya gosip. Mungkin saja memang mas Anwar menyukai kak Rania. Dengan tegas aku memberitahu Ayu, jangan sampai dia menceritakan ini pada orang lain. Kalau memang benar, biarkan saja. Aku khawatir kalau ini semua hanya gosip di antara orang-orang yang iri pada kak Rania.
__ADS_1