
Pintu kamarku terbuka, aku melihat Syahdan berlari menghampiriku.
"Tante Aish." Syahdan berhambur memelukku.
"Eh ada Syahdan." Aku membalas pelukkan Syahdan.
"Iya tante, Adan datang. Tante sakit ya?" Syahdan melepaskan pelukannya.
"Mami, oma. Tante Aish sakit, badannya panas sekali." Syahdan mengatakan itu pada mama dan mbak Mala yang baru saja masuk ke kamarku.
"Apa benar Aish?" Mama bertanya sembari memeriksa tangan dan keningku.
"Apa kamu sudah minum obat?" Mama kembali bertanya.
"Baru hamil muda saja sudah sakit-sakitan. Bagaimana kalau sudah hamil besar nanti." Mbak Mala berbicara dengan ketus.
Mas Anwar masuk ke kamar dengan membawa segelas air putih dan obat penurun panas. Dengan telaten mas Anwar membantuku meminun obat.
Meskipun sifat mbak Mala memang seperti itu setiap kali bertemu denganku, tetap saja kata-katanya yang pedas selalu berhasil membuat aku harus menahan air mata.
__ADS_1
"Apa kamu juga baik-baik saja Anwar?" Kini giliran mas Anwar yang ditanya oleh mama.
"Anwar gak apa-apa ma. Lukanya tidak terlalu besar, meskipun ada nyeri sedikit tapi itu wajar."
"Yang bermasalah itu istri kamu, kenapa kamu yang harus menderita seperti ini?" Lagi-lagi mbak Mala mengeluarkan kata-kata tanpa di saring terlebih dahulu.
"Cukup mbak. Tolong jangan berbicara seperti itu!" Mas Anwar berusaha mebelaku tanpa melawan kakaknya.
Mendengar perkataan mas Anwar, mbak Mala keluar dari kamarku. Di susul oleh mas Anwar.
"Istirahatlah. Mama keluar dulu, kamu harus cepat sembuh. Kasihan anak yang ada dalam kandungan kamu. Kamu gak apa-apa mama tinggal sendiri?"
"Tante Aish nggak sendiri, oma. Itu, ada yang menemani tante dari tadi." Syahdan menunjuk ke sudut tempat tidurku.
Aku tersenyum tipis menanggapi perkataan Syahdan.
"Ayo Syahdan, kita keluar. Tante Aish perlu istirahat." Mama mengajak Syahdan keluar dari kamarku.
Setidaknya, bukan hanya aku yang melihat bayangan hitam itu. Ada orang lain yang melihatnya. Apa itu bisa di jadikan bukti kalau ini semua bukan hanya halusinasiku saja.
__ADS_1
***
Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan menuntun tiang infus, menuju ke ruang perawat. Ayah dan ibu sedang pulang ke rumah sebentar. Karena cairan infusnya sebentar lagi habis, terpaksa aku menghampiri perawat seorang diri.
Saat itu aku berhenti di depan kamar rawat seorang anak kecil, kurang lebih berusia enam tahun. Pintu kamarnya terbuka, karena seorang dokter dan perawat sedang memeriksanya.
Awalnya anak kecil itu biasa saja saat diperiksa oleh dokter, namun setelah melihatku, anak kecil itu menangis sejadi-jadinya.
"Mama... mamaaa... takut... takut..." Anak kecil itu menangis sambil berusaha menyembunyikan kepalanya dalam dekapan ibunya.
"Nggak apa-apa sayang, bu dokter sudah selesai. Nggak akan di periksa lagi." Ibu anak kecil itu sibuk menenangkan anaknya.
"Mama... huuu... huuu... takut, ada hantu... ada hantu..." Anak kecil itu semakin menangis dengan keras seraya menunjuk ke arahku.
'Ah, anak kecil itu juga melihatnya.' Aku tahu apa yang di lihatnya, bayangan hitam yang terus mengikutiku.
Tidak ingin membuat anak kecil itu menangis terus, aku memutuskan untuk kembali kekamar setelah bertemu dengan perawat.
Bayangan hitam itu selalu mengikutiku, meskipun beberapa saat terkadang menghilang. Tapi bayangan itu tahu aku sedang berada dimana.
__ADS_1
Aku sempat berpikir bahwa bayangan hitam itu adalah, malaikat Izrail yang datang untuk mencabut nyawaku.